Tuesday, April 10, 2018

Rumah Terindah

           “Yudha, bantu ibu buat kardus ya nak, karton kardusnya ada di lemari sebelah kulkas. Jumlahnya sudah pas 40. Lipat semua, yang rapi ya, nduk1.” Perintah ibuku pada minggu pagi akhir Oktober 2005.

“Ada acara apa,bu?” Tanyaku setengah tersadar, beban pikiran dari laporan perencanaan yang waktu itu menjadi tugas besar semester 5 rupanya membuatku lamban dalam memahami perintah.

lha kamu ini gimana, ya Slametan buat ulang tahunnya masmu,” kebul asap membumbung dari piring besar yang diangkat ibu. Semerbak wangi rendang sapi tersebar ke seluruh penjuru rumah. Aku melihat kalender duduk di atas meja, tanggal 25 Oktober. Kakakku berulang tahun yang ke-23 hari ini. Ternyata ibu tetap berusaha menyempatkan diri menyiapkan tasyakuran untuk ulang tahun kakak, walaupun kakak sendiri sedang berada di Jakarta sekarang, menempuh kegiatan wajib militer sebagai syarat pekerjaan yang akan membuat usia produktifnya penuh kesibukan. Aku menekan menu “Simpan” dan menutup laptopku dengan teliti untuk memastikan bahwa kerja kerasku selama hampir dua bulan tidak hilang dan bisa kulanjutkan nanti.

            Kulipat kardus-kardus itu sambil duduk bersila dan mendengarkan saluran radio kesukaan ibuku. Radio itu selalu memutarkan tembang-tembang lama. Satu kardus, dua kardus, tiga kardus kulipat dengan sempurna. Hasil lipatan yang rapi itu membuatku puas, ditambah lagi, lagu “Pemuda” yang dibawakan Chaseiro dari radio menumbuhkan semangatku untuk segera menyelesaikan 37 kardus lagi.  Lalu aku menyadari ada bekas gigitan pada salah satu sudut kardus keempat. Aku menoleh ke arah tumpukan karton kardus di sebelahku, ada seekor tikus sebesar kucing mengerat dengan lahap kardus demi kardus. Jeritku tertahan agar tikus itu tetap tidak mengindahkan keberadaan dan rasa panikku. Secara refleks, aku merangkak mundur, berusaha berdiri pelan-pelan agar tikus itu tidak menyadari perubahan sikapku. Namun terlambat, tikus itu menaikkan kepala, melihatku. Dengan sigap aku kabur mencari pertolongan, ke arah dapur. Tikus itu dengan gesit mengejarku yang tunggang langgang mencari pertolongan. Aku berteriak sekuat tenaga. Alih-alih teriakanku yang menggelegar memenuhi rumah, alunan lagu "Pemuda" dari radio terdengar semakin keras, padahal tidak ada yang merubah volume radio. Dadaku terasa sesak, nafasku memburu, tikus itu semakin dekat. Aduh, ibu di mana? Di dapur tidak ada orang, aku berlari terbirit menuju halaman depan rumah, sayangnya aku tersungkur karena melewatkan satu anak tangga. Tikus itu berhasil mengejarku, aku memejamkan mata ketakutan, aku bisa merasakan tikus itu menjalari tanganku yang gemetaran.

            Aku merasakan sensasi aneh, seperti tangan kecil mencubiti lengan kananku, aku membuka mata dan menoleh untuk melihat apa yang dilakukan tikus itu pada lenganku yang malang. “Ibuk! Ayo bangun,” samar-samar aku mendengar lagu “Pemuda” perlahan berganti menjadi alunan instrumental lagu “Indonesia Raya”, entah mengapa alunan lagu itu terasa begitu menenangkan. Aku menoleh, di tanganku tidak ada tikus, hanya ada putraku yang memegangi lenganku dengan wajah khawatir, “Kata pesawatnya tadi, kita sudah sampai di Surabaya. Daritodi ibu kubangunkan tapi sulit sekali! Kowakatta yo, okaasan (aku takut, bu)” gerutu anakku. Walaupun ia sudah berusaha untuk menggunakan bahasa Indonesia, aksen Jepang yang kental bisa didengar dari caranya berbicara. Tak apa, paling tidak aku sudah berusaha mengenalkannya kepada bahasa ibunya ini.

“Wah, maaf ya sayang, ibu tadi tidur dan mimpi tentang nenekmu,” Aku membukakan botol jus jeruk yang sebelumnya kubeli dari pramugari dan memberikannya kepada anakku, “Abi minum dulu ya, biar segar, nanti di bandara bisa ke toilet dulu.” Anakku mengangguk dan meneguk jus itu dengan semangat.
"Shinpai shinaide, okaasan. Ima, obaachan wa tengoku de ocha wo oishiku nomu kamo" (jangan khawatir bu, mungkin nenek sekarang sedang asyik minum teh di surga) anakku berhenti minum sejenak untuk sekedar menghiburku, aku tersenyum geli mendengarnya.
"Atau mungkin sama kaya kamu sekarang, minum jus jeruk." Kami berdua cekikikan. Kini aku tersadar sepenuhnya. Aku sedang berada di perjalanan pulang menuju Surabaya, untuk sejenak meninggalkan Osaka, tempatku bekerja selama bertahun-tahun. Aku sedang dalam perjalanan setelah mendapat telepon dari kakakku dua bulan yang lalu. “Jangan lupa datang slametan 1000 harinya ibu, Yudha. Sempatkanlah pulang.” Begitu kira-kira isi pesanya.

            Anakku berusia tujuh tahun sekarang, tapi ia sudah sangat pintar dan bisa membantu berbagai pekerjaan sederhana. Tidak seperti ibunya yang hanya bisa melipat kardus untuk tasyakuran di usianya yang ke-20. Aku memandangi anakku dengan penuh rasa syukur, ia menikmati jusnya sampai habis, lalu menutup sendiri botolnya dan memasukkan botol kosong itu ke ransel mungil berwarna biru muda bercorak batik parang di pangkuannya.

“Jus jeruk di Indonesia enak ya, bu, rasa jeruknya sangat terasa, hihihi,” Ujarnya semangat sambil memeluk tasnya, “nanti sampai bandara sebelum ke toilet kita cari tempat sampah dulu ya,bu, Abi mau buang ini,” Anakku menepuk-nepuk tasnya yang tadi dia isi dengan botol kosong bekas jus jeruk, “kasihan kakaknya kalau harus buang, kan ini sampahnya Abi.” Butuh waktu seper-sekian detik untukku menyadari bahwa “kakak” yang ia maksud adalah pramugari. Aku menangguk dan tersenyum, kubelai lembut rambutnya yang hitam keriting itu.

            “Uwaaaaah! Ibu, lihat yang ada di dinding itu! Gambarnya mirip dengan yang ada di tasnya Abi, bener, kan? Itu batik!” Sepanjang perjalanan menuju pengambilan bagasi setelah dari toilet, Abiwara Manggala, anakku, terus memandang langit-langit bandara yang dihiasi motif batik dengan mata berbinar. Sesekali ia bertanya padaku, “ibu, yang itu corak apa?” setelah kuberitahu bahwa batik memiliki ragam corak dan arti yang berbeda. Aku menjawab sesuai dengan kemampuanku mengingat nama corak, arti, dan asal dari setiap batik yang ditanyakan Abi. Koper di bagasi sudah mulai diputar keluar, kami menunggu di samping trolley dan memasang wajah penuh harap. Abi begitu sumringah dan menanti kopernya dengan penuh semangat, “Koper-chan2 ayo sini, sini!” ujarnya sambil mengintip ke arah datangnya para koper. Sedangkan aku mulai gelisah, aku belum berani menyalakan kembali ponselku sejak mendarat tadi. Siapakah yang akan menyusulku dan Abi di bandara? Aku merasa bersalah kepada keluargaku yang mulai kutinggalkan sejak lama tanpa kabar, kepada Nusantara yang kepadanya aku pernah berjanji untuk mengusahakan pembangunan demi kehidupan yang lebih baik, kepada kampung halamanku (yang sebenarnya bukan kampung) yang entah kini bagaimana wajahnya, kepada suamiku… ah sudahlah. Terakhir sebelum berangkat merantau, aku masih menyaksikan terpilihnya walikota perempuan pertama yang kepadanya aku berharap banyak. Sekarang, hanya melihat dari bandaranya saja, rasa banggaku membuncah. Kota tempat asalku kini mempunyai dua terminal bandara. “Nah, ibu, itu koper kita!” Seru Abi sambil menunjuk ke koper berwarna jingga cerah.

“biar ibu yang bawa ya, nak, berat, Abi nggak akan kuat.” Ujarku setengah bercanda.

“tapi Abi boleh bantu dorong keretanya, kan, bu?” tanyanya dengan penuh harap, aku mengangguk.

Torima kasih!” Manisnya anakku, dengan sopan terus berusaha menggunakan bahasa Indonesia. Tidak ada perjanjian di antara kami bahwa dia harus menggunakan bahasa Indonesia selama kunjungan ini, mengejutkan, karena aku nyaris tidak pernah melihatnya membuka buku pelajaran bahasa Indonesia yang kubelikannya lewat seorang teman di Kedutaan Besar.

            Kami berjalan cepat menuju pintu keluar. Kaki-kaki mungil Abi tergesa-gesa, berusaha mengimbangi langkah kakiku yang lebar dan derapku yang cepat, sebuah kebiasaan yang tumbuh semasa kuliah karena mobilisasiku yang saat itu sebagian besar dengan berjalan kaki. Betapa terkejutnya aku melihat seseorang yang begitu familiar, ia sedang sibuk berbincang melalui ponsel dan tertawa. Aku melihat garis-garis kerutan di sudut matanya yang bahkan terliat dari jarak sejauh ini. Sedikit aku melihat jambangnya dan, yaampun, apakah itu uban?

“Paman!” Teriakku bagaikan gadis muda bertemu teman lamanya di sebuah reuni SMA.

Eh?” Abi melihatku dengan penuh tanda tanya. Pria itu tidak mendengarku, bandara memang sedang ramai dan banyak orang yang beralu-lalang.

“Abi, pria yang disana,” aku menunjuk pamanku, ia mengenakan kemeja batik berwarna marun, celana kain berwarna coklat yang begitu pas dikenakannya, dan sepatu kulit bergaya oxford. Selalu necis seperti biasa. Jika ada hal yang masih sama mengenai pamanku, bisa kutebak ia membeli sepatu itu di Magetan, menggunakan bahan kulit terbaik kesukaannya, “itu adalah paman ibu. Kamu manggilnya ‘eyang’ yaa, namanya Bowo. Eyang Bowo. Ke sana, yuk?” Abi mengangguk dan lalu memandang kagum kepada Paman Bowo. Aku bersyukur sekarang Abi sedang mendorong trolley, kalau tidak, dia pasti sudah berlari tanpa melihat kanan/kiri dan asal memeluk Paman Bowo.

            Aku melihat paman sudah selesai menelepon dan melihat ke arah kami, senyumnya seketika merekah. Ternyata benar, kerutan di ujung matanya dalam dan banyak, juga benar bahwa helai berwarna putih di jambangnya itu adalah uban. “Yudha! Gimana tadi perjalanannya? Lancar?” Aku mencium tangan Paman Bowo dengan hormat.

“Iya paman, aman tanpa turbulensi. Untung si Abi juga lagi happy.” Jawabku sekaligus memberikan isyarat bahwa aku juga membawa anakku yang baru pertama kali ke Indonesia.

Weladalah, sopo iki (wah, siapa ini) ?! Inikah cucuku yang lahir di Jepang itu?” seru Paman Bowo seraya menjulurkan tangan agar Abi bisa menyalaminya. Aku mengira Abi akan mengabaikan tangan Paman Bowo dan membungkukkan badan, untungnya ternyata putraku langsung paham setelah melihatku mencium tangannya. Abi dengan patuh menerima uluran tangan pamanku dan menirukan apa yang kulakukan.

“ Halo Eyang Bowo, namaku Abiwara Manggala. Aku sudah mau tujuh tahun!” Karena sudah merupakan kebiasaan, pada akhirnya Abi membungkukkan badan setelah menyebutkan identitasnya. Ternyata, paman pun terlihat sama sekali tidak keberatan dengan sikap Abi tersebut, paman pun ikut membungkukkan badan. Setelah itu mereka berpelukan dan saling bertukar cerita. Tidak lama kemudian mereka sudah seperti teman akrab.

            Di sepanjang perjalanan, Paman Bowo sibuk mengemudi sambil sesekali menjawab pertanyaan Abi yang bertubi-tubi. Sementara aku terus memandang ke luar jendela dan asyik mengamati lingkungan sekitar, telah banyak yang berubah dari kota ini. Sudah delapan tahun aku tidak pulang. Aku merantau ke Jepang untuk menempuh pendidikan magister di usiaku yang ke-25. Walaupun sudah menikah saat itu, suamiku yang seorang arkeolog memiliki jiwa petualang tinggi. Ia hanya sesekali pulang dan mengunjungiku di kampus, menjadi lebih sering saat aku hamil dan itu membuatku senang. Namun, setelah Abi lahir, ia kembali bertualang mencari situs-situs menarik untuk diteliti. Tempat kegemarannya adalah di Perfektur Oita. Dengan kesibukanku sebagai mahasiswa, menjadi seorang ibu untuk pertama kalinya, dan jarak yang memisahkan kami berdua, pada akhirnya kami hanya sesekali bertukar pesan. Abi hanya mengenal ayahnya dari barang-barang antik yang ia bawa. Tentu, walaupun sudah diberi restu, pada kesempatan kali ini ayah Abi tidak bisa ikut bersamaku pulang ke Indonesia untuk mendoakan ibuku.

            Paman Bowo sama sekali tidak mengajakku berbicara. Inilah yang aku sukai dari paman sejak aku kecil. Paman sering kali hanya mendengarkan dan jarang memberikan pertanyaan yang membuat jengah. Paman pintar membaca mimik muka seseorang, ia paham kapan seseorang siap diajak mengobrol dan kapan seseorang perlu diberi waktu beristirahat atau sekedar menenggelamkan diri dalam pikirannya. Pada kasusku, paman benar sekali. Aku datang ke Indonesia demi ibuku, jangan salah, walaupun jarang memberikan kabar, aku mengutuk diriku sendiri yang tidak bisa hadir saat ibuku dimakamkan. Karena saat itu aku sedang mengusahakan kelahiran putraku yang kini tengah sibuk menghafalkan lagu Indonesia Raya di bangku belakang mobil. Rupanya paman mengenalkan lagu nasional itu kepadanya dan kini ia menghafalkannya dengan wajah serius. Sangat lucu. Kambali ke ibuku. Ibu adalah seorang peneliti yang sangat bersemangat dengan pekerjaannya, seorang wanita yang beberapa kali memberikanku pengalaman untuk pertama kalinya menjejakkan kaki di beberapa tempat di luar Jawa Timur. Saat aku duduk di kelas dua sekolah dasar, secara tiba-tiba ibu menjemputku di sekolah sebelum jam pelajaran berakhir. Saat itu, aku yang sedang jenuh karena mulai menghafalkan pembagian, sangat senang karena tiba-tiba saja kami berada di perjalanan menuju bandara. “Yudha temenin ibu ke Bali ya, nduk.” adalah jawabannya atas pertanyaanku. Berkat ibu, untuk pertama kalinya aku melihat keunikan Bali; seluruh penjuru tempat yang dipenuhi turis mancanegara; bagaimana orang-orang, baik asli Bali maupun pendatang, menghormati tradisi dan budaya yang mengakar kuat di sana, dan; Cita rasa baru yang belum pernah kucoba sebelumnya, aku bersyukur bisa menikmati pedasnya ayam betutu yang mantab. Pada lain kesempatan, ibuku mengajakku lagi untuk pergi berdua, waktu itu ke Jawa Barat. Karena saat itu aku sudah memasuki semester enam perkuliahan, selain jalan-jalan, aku diberikan tugas untuk membantu ibuku memahami cara kerja perangkat lunak dalam suatu pelatihan. Acara pelatihan itu diadakan di suatu perguruan tinggi ternama di Bandung. Kami mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma. Beruntung waktu itu pelatihannya diadakan pada minggu awal perkuliahan sehingga aku tidak merasa keberatan untuk mengambil seminggu hari libur, masalah jatah bolos yang berkurang satu itu tidak ada artinya dibandingkan dengan pengalaman yang aku dapatkan. Ibuku paham tentang anak perempuannya yang sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Ibukota Negara, juga karena durasi perjalanan kami yang seminggu penuh, ibuku punya banyak waktu untuk mengenalkanku kepada sang megapolitan itu. Kami memutuskan untuk menyewa mobil dan tidak menaiki kereta api dari Jakarta ke Bandung. Seandainya kata-kata cukup untuk mendeskripsikan betapa berterimakasihnya aku kepada ibuku. Aku ingat saat itu sangat terkagum dan merasa kecil di tengah-tengah gedung pencakar langit. Ibuku bercerita banyak mengenai Jakarta dan peran kota besar itu dalam melancarkan studinya, membesarkan namanya, hingga membantu ibuku menemukan jodohnya, yaitu ayahku. Sebelum sampai Bandung, kami sempat berhenti untuk beberapa saat dan menikmati makanan khas Jakarta, juga berbelanja dengan ceria dan saling mengingatkan agar tidak lapar mata di sebuah mall yang sangat megah. Jakarta memang kota yang sangat kompleks, aku bisa merasakan bahwa kota itu akan berkembang dengan pesat dari sisi ekonomi dan teknologinya. Perjalanan menjadi lebih istimewa karena aku dibimbing oleh seorang wanita cerdas yang dengan bangga kupanggil “ibu”. Dalam diam aku mulai memanjatkan doa agar ibuku tenang di sisi-Nya.

            Ibuk kenapa nangis?” Lagi-lagi lamunanku terbuyarkan oleh Abi, dengan cepat aku menghapus jejak air mata yang tanpa sadar sudah sampai di daguku.

“Ah, ibu nggak nangis kok, Abi. Ibu ngantuk.” Jawabku hati-hati agar tidak merusak suasana hati anakku yang sedang senang.

“Tapi-” mungkin Abi ingin bilang bahwa aku tadi sudah tertidur di pesawat. Tapi ia mengurungkan niat karena aku hanya tertidur di akhir perjalanan karena sejak awal sudah menyiapkan segala hal agar dia bisa terbang dengan nyaman, “tapi bener bukan karena ibu sedih, kan?” Aku menggeleng dan tersenyum, kuusap pelan pipinya dan memintanya untuk bersiap karena kami sudah hampir sampai.

            Kami sampai di rumah masa kecilku. Pohon manga besar di depan rumah rupanya belum ditebang. Cabangnya masih terlihat kokoh, cabang yang semasa aku kecil menjadi tempat favorit untuk menyantap es lilin bersama kakakku di sore hari. Aku menghirup udara dalam-dalam, lalu kuhembuskan perlahan. Aku menggandeng Abi masuk ke dalam. Di rumah sedang sibuk mempersiapkan acara untuk sore ini. Suara radio terdengar memenuhi ruangan, saluran radio kesukaan ibuku. Kali ini memutarkan lagu “Burung Camar” yang sempat memenangkan penghargaan bergengsi Kawakami Award pada tahun 80-an. Abi dengan ceria mulai menggerakkan badan dan menikmati irama lagu itu. Jika di pesawat tadi aku bermimpi tentang ibu yang sibuk mempersiapkan tasyakuran untuk kakakku, sekarang aku melihat kakakku dan istrinya saling membantu menyiapkan sajian untuk para tamu Yasinan ibuku. Kakakku terlihat semakin matang dengan badannya yang kekar, bereda jauh dengan badannya sebelum mulai pelatihan ala militer. Di rumahku semasa gadis itu, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan istri kakakku. Seorang wanita cerdas lulusan Jurusan Seni, Drama, dan Musik. Ia sudah banyak mengirimkan delegasi untuk memperkenalkan kesenian Indonesia ke berbagai belahan dunia. Seorang wanita yang tutur bicaranya lembut namun memiliki pendapat yang tegas mengenai pentingnya berpegang teguh pada kesenian lokal dan pentingnya berkelana ke luar negeri untuk  mendapatkan pandangan yang lebih luas tanpa lupa untuk memperkenalkan keragaman budaya Indonesia ke mana pun ia pergi. Aku sudah menduga bahwa kakakku pintar memilih pasangan hidup. Lalu aku teringat dengan pasangan hidupku sendiri.

            Matahari sudah mulai tak terlihat. Aku bersiap di dalam kamar, bersiap secara lahir dan batin. Aku membiarkan Abi berkomunikasi dengan paman, bibi, dan kakeknya di ruang keluarga. Saat aku mulai mengaplikasikan riasan, Abi berlari masuk ke kamarku. Aku menoleh kaget ke arahnya.

“Ibu! Maaf Abi lupa mengetuk pintu! Maaf juga gara-gara aku alis ibu jadi panjang sebelah! Tapi ibu! Di luar ada ayah!” Abi berbicara dengan sangat cepat di sela-sela nafasnya yang memburu. Matanya terlihat kebingungan, tapi juga memancarkan kebahagiaan. Tentu ia pernah melihat wajah ayahnya. Walaupun hobi berkelana, ayahnya itu selain sering mengirimkan foto-foto hasil temuan yang bernilai seni tinggi untuk semua orang, juga rajin mengirimkan foto dirinya (yang walaupun mungkin tidak ke semua orang, bagiku sangat memikat dan bernilai seni tinggi). Aku buru-buru merapikan riasan untuk kemudian berlari dengan atasan batik formal dan bawahan celana piyama.

            Pria itu sedang mengobrol akrab dengan kakakku. Rambutnya ditutupi topi safari berwarna putih gading. Pakaiannya rapi, tapi aku hampir bisa menebak bahwa sepatunya, parkir tertib di teras rumah, sangat kotor dan tidak berwujud seperti sepatu karena beratnya medan menuju objek penelitiannya. Rupanya ia sedang menjelaskan kronologis yang membuatku sampai di Indonesia hanya dengan seorang anak kecil. Janjinya pada saat menikahiku adalah untuk menjaga dan menemaniku. Aku pun tersenyum geli, Abi dengan malu-malu memegangi bajuku dan bersembunyi di balik badanku. Figur ayahnya yang tinggi besar membuat Abi sedikit takut.

“Mas Bayu,” panggilku pelan. Ia menoleh dengan cepat.

“Yudha-ku!” ia melangkah lebar dan memelukku erat, Abi ragu-ragu, namun kemudian ikut mencolek kaki ayahnya. “Ore no musuko da! (anakku!)”. Kakakku dan istrinya melihat kami dengan perasaan geli dari sudut ruang tamu. Suamiku adalah orang Lamongan yang memantabkan hati menikahiku sebelum kami berangkat bersama ke Negeri Sakura. Kami berusaha mengenalkan putra kami kepada bahasa, budaya, dan kebiasaan orang-orang di kampong halaman kami. Oleh karena itu, terkadang kami berusaha mengajak Abi berbicara dengan Bahasa Indonesia. Walaupun menurutku belum sebanyak itu, aku terkejut Abi ternyata bisa berkomunikasi dengan lancar. Ayahnya harus tahu. “Yudha, aku senang sekali bisa ke rumahmu sebelum acaranya di mulai. Sebelum ini aku meneliti Situs Gunung Padang, tempat itu sangat menarik! Aku mau mengajakmu dan Abi kita ini ke sana. Mau ya?” Ujarnya bersemangat.

“Ayah, tapi ingat harus mendoakan Eyang Putri dulu!” Jawab Abi menggunakan Bahasa Indonesia, respon ayahnya sungguh menumbuhkan perasaan hangat. Mas Bayu berlutut dan memberikan kecupan ringan di kepala Abi.

“Kita berangkat setelah ibumu berziarah ke makam Eyang Putri ya, sayang.” Jawab Mas Bayu lembut.

            Tamu-tamu mulai berdatangan. Aku, Abi, dan Mas Bayu sudah benar-benar siap untuk melaksanakan adat Jawa yang kami persembahkan kepada ibuku. Sayup sayup suara radio masih memutarkan lagu dari stasiun langganan ibu. Kali ini memutarkan lagu “Zamrud Khatulistiwa” oleh penyanyi legendaris Chrisye. Malam itu, sebelum kembali menuntut ilmu di negeri orang, kami memutuskan untuk tinggal lebih lama untuk mengajak Abi berkelana mengenali tempat-tempat penuh cerita yang ada di Nusantaraku, Indonesia.


Surabaya, 10 April 2018
Bearhug untuk panitia~

















1 nduk = Singkatan dari Genduk atau panggilan bagi orang tua untuk anak perempuannya.

2-chan = akhiran panggilan dalam bahasa Jepang. Biasanya ditujukan untuk orang yag lebih muda, gadis kecil, atau orang yang disayangi. Abi menggunakan ekspresi ini karena ia menyukai kopernya, sebagai anak kecil.



Catatan Pengarang : Cerpen ini adalah cerpen yang saya buat saat mengikuti lomba menulis cerpen di Pekan Kesenian Mahasiswa ITS (PEKSIMITS) 2018 pada tanggal 4 Maret lalu. Saya melakukan beberapa penyuntingan, namun inti cerita tetap sama. Selamat membaca ^^