“Ada acara apa,bu?” Tanyaku setengah tersadar, beban
pikiran dari laporan perencanaan yang waktu itu menjadi tugas besar semester 5
rupanya membuatku lamban dalam memahami perintah.
“lha kamu ini gimana, ya Slametan buat
ulang tahunnya masmu,” kebul asap membumbung dari piring besar yang diangkat
ibu. Semerbak wangi rendang sapi tersebar ke seluruh penjuru rumah. Aku melihat
kalender duduk di atas meja, tanggal 25 Oktober. Kakakku berulang tahun yang
ke-23 hari ini. Ternyata ibu tetap berusaha menyempatkan diri menyiapkan
tasyakuran untuk ulang tahun kakak, walaupun kakak sendiri sedang berada di
Jakarta sekarang, menempuh kegiatan wajib militer sebagai syarat pekerjaan yang
akan membuat usia produktifnya penuh kesibukan. Aku menekan menu “Simpan” dan
menutup laptopku dengan teliti untuk memastikan bahwa kerja kerasku selama
hampir dua bulan tidak hilang dan bisa kulanjutkan nanti.
Kulipat
kardus-kardus itu sambil duduk bersila dan mendengarkan saluran radio kesukaan
ibuku. Radio itu selalu memutarkan tembang-tembang lama. Satu kardus, dua
kardus, tiga kardus kulipat dengan sempurna. Hasil lipatan yang rapi itu
membuatku puas, ditambah lagi, lagu “Pemuda” yang dibawakan Chaseiro dari radio
menumbuhkan semangatku untuk segera menyelesaikan 37 kardus lagi. Lalu aku menyadari ada bekas gigitan pada
salah satu sudut kardus keempat. Aku menoleh ke arah tumpukan karton kardus di
sebelahku, ada seekor tikus sebesar kucing mengerat dengan lahap kardus demi
kardus. Jeritku tertahan agar tikus itu tetap tidak mengindahkan keberadaan dan rasa panikku. Secara refleks, aku merangkak mundur, berusaha berdiri pelan-pelan agar
tikus itu tidak menyadari perubahan sikapku. Namun terlambat, tikus itu
menaikkan kepala, melihatku. Dengan sigap aku kabur mencari pertolongan, ke arah dapur. Tikus itu dengan gesit mengejarku yang tunggang langgang mencari
pertolongan. Aku berteriak sekuat tenaga. Alih-alih teriakanku yang menggelegar memenuhi rumah, alunan lagu "Pemuda" dari radio terdengar semakin keras, padahal tidak ada yang merubah volume
radio. Dadaku terasa sesak, nafasku memburu, tikus itu semakin dekat. Aduh, ibu di mana?
Di dapur tidak ada orang, aku berlari terbirit menuju halaman depan rumah,
sayangnya aku tersungkur karena melewatkan satu anak tangga. Tikus itu berhasil
mengejarku, aku memejamkan mata ketakutan, aku bisa merasakan tikus itu menjalari
tanganku yang gemetaran.
Aku
merasakan sensasi aneh, seperti tangan kecil mencubiti lengan kananku, aku
membuka mata dan menoleh untuk melihat apa yang dilakukan tikus itu pada
lenganku yang malang. “Ibuk! Ayo bangun,” samar-samar aku mendengar lagu
“Pemuda” perlahan berganti menjadi alunan instrumental lagu “Indonesia Raya”,
entah mengapa alunan lagu itu terasa begitu menenangkan. Aku menoleh, di
tanganku tidak ada tikus, hanya ada putraku yang memegangi lenganku dengan
wajah khawatir, “Kata pesawatnya tadi, kita sudah sampai di Surabaya. Daritodi
ibu kubangunkan tapi sulit sekali! Kowakatta yo, okaasan (aku takut,
bu)” gerutu anakku. Walaupun ia sudah berusaha untuk menggunakan bahasa
Indonesia, aksen Jepang yang kental bisa didengar dari caranya berbicara. Tak
apa, paling tidak aku sudah berusaha mengenalkannya kepada bahasa ibunya ini.
“Wah, maaf ya sayang, ibu tadi tidur dan mimpi tentang
nenekmu,” Aku membukakan botol jus jeruk yang sebelumnya kubeli dari pramugari
dan memberikannya kepada anakku, “Abi minum dulu ya, biar segar, nanti di
bandara bisa ke toilet dulu.” Anakku mengangguk dan meneguk jus itu dengan semangat.
"Shinpai shinaide, okaasan. Ima, obaachan wa tengoku de ocha wo oishiku nomu kamo" (jangan khawatir bu, mungkin nenek sekarang sedang asyik minum teh di surga) anakku berhenti minum sejenak untuk sekedar menghiburku, aku tersenyum geli mendengarnya.
"Atau mungkin sama kaya kamu sekarang, minum jus jeruk." Kami berdua cekikikan. Kini aku tersadar sepenuhnya. Aku sedang berada
di perjalanan pulang menuju Surabaya, untuk sejenak meninggalkan Osaka,
tempatku bekerja selama bertahun-tahun. Aku sedang dalam perjalanan setelah
mendapat telepon dari kakakku dua bulan yang lalu. “Jangan lupa datang slametan
1000 harinya ibu, Yudha. Sempatkanlah pulang.” Begitu kira-kira isi pesanya.
Anakku
berusia tujuh tahun sekarang, tapi ia sudah sangat pintar dan bisa membantu
berbagai pekerjaan sederhana. Tidak seperti ibunya yang hanya bisa melipat
kardus untuk tasyakuran di usianya yang ke-20. Aku memandangi anakku dengan
penuh rasa syukur, ia menikmati jusnya sampai habis, lalu menutup sendiri
botolnya dan memasukkan botol kosong itu ke ransel mungil berwarna biru muda
bercorak batik parang di pangkuannya.
“Jus jeruk di Indonesia enak ya, bu, rasa jeruknya
sangat terasa, hihihi,” Ujarnya semangat sambil memeluk tasnya, “nanti sampai
bandara sebelum ke toilet kita cari tempat sampah dulu ya,bu, Abi mau buang
ini,” Anakku menepuk-nepuk tasnya yang tadi dia isi dengan botol kosong bekas
jus jeruk, “kasihan kakaknya kalau harus buang, kan ini sampahnya Abi.” Butuh
waktu seper-sekian detik untukku menyadari bahwa “kakak” yang ia maksud adalah
pramugari. Aku menangguk dan tersenyum, kubelai lembut rambutnya yang hitam
keriting itu.
“Uwaaaaah!
Ibu, lihat yang ada di dinding itu! Gambarnya mirip dengan yang ada di tasnya Abi, bener, kan? Itu batik!” Sepanjang perjalanan menuju pengambilan
bagasi setelah dari toilet, Abiwara Manggala, anakku, terus memandang
langit-langit bandara yang dihiasi motif batik dengan mata berbinar. Sesekali
ia bertanya padaku, “ibu, yang itu corak apa?” setelah kuberitahu bahwa batik
memiliki ragam corak dan arti yang berbeda. Aku menjawab sesuai dengan
kemampuanku mengingat nama corak, arti, dan asal dari setiap batik yang
ditanyakan Abi. Koper di bagasi sudah mulai diputar keluar, kami menunggu di
samping trolley dan memasang wajah penuh harap. Abi begitu sumringah
dan menanti kopernya dengan penuh semangat, “Koper-chan2 ayo
sini, sini!” ujarnya sambil mengintip ke arah datangnya para koper. Sedangkan
aku mulai gelisah, aku belum berani menyalakan kembali ponselku sejak mendarat
tadi. Siapakah yang akan menyusulku dan Abi di bandara? Aku merasa bersalah
kepada keluargaku yang mulai kutinggalkan sejak lama tanpa kabar, kepada
Nusantara yang kepadanya aku pernah berjanji untuk mengusahakan pembangunan
demi kehidupan yang lebih baik, kepada kampung halamanku (yang sebenarnya bukan
kampung) yang entah kini bagaimana wajahnya, kepada suamiku… ah sudahlah.
Terakhir sebelum berangkat merantau, aku masih menyaksikan terpilihnya walikota
perempuan pertama yang kepadanya aku berharap banyak. Sekarang, hanya melihat
dari bandaranya saja, rasa banggaku membuncah. Kota tempat asalku kini
mempunyai dua terminal bandara. “Nah, ibu, itu koper kita!” Seru Abi sambil
menunjuk ke koper berwarna jingga cerah.
“biar ibu yang bawa ya, nak, berat, Abi nggak
akan kuat.” Ujarku setengah bercanda.
“tapi Abi boleh bantu dorong keretanya, kan, bu?”
tanyanya dengan penuh harap, aku mengangguk.
“Torima kasih!” Manisnya anakku, dengan sopan
terus berusaha menggunakan bahasa Indonesia. Tidak ada perjanjian di antara kami
bahwa dia harus menggunakan bahasa Indonesia selama kunjungan ini, mengejutkan,
karena aku nyaris tidak pernah melihatnya membuka buku pelajaran bahasa
Indonesia yang kubelikannya lewat seorang teman di Kedutaan Besar.
Kami
berjalan cepat menuju pintu keluar. Kaki-kaki mungil Abi tergesa-gesa, berusaha
mengimbangi langkah kakiku yang lebar dan derapku yang cepat, sebuah kebiasaan
yang tumbuh semasa kuliah karena mobilisasiku yang saat itu sebagian besar
dengan berjalan kaki. Betapa terkejutnya aku melihat seseorang yang begitu
familiar, ia sedang sibuk berbincang melalui ponsel dan tertawa. Aku melihat
garis-garis kerutan di sudut matanya yang bahkan terliat dari jarak sejauh ini.
Sedikit aku melihat jambangnya dan, yaampun, apakah itu uban?
“Paman!” Teriakku bagaikan gadis muda bertemu teman
lamanya di sebuah reuni SMA.
“Eh?” Abi melihatku dengan penuh tanda tanya.
Pria itu tidak mendengarku, bandara memang sedang ramai dan banyak orang yang
beralu-lalang.
“Abi, pria yang disana,” aku menunjuk pamanku, ia
mengenakan kemeja batik berwarna marun, celana kain berwarna coklat yang begitu
pas dikenakannya, dan sepatu kulit bergaya oxford. Selalu necis seperti
biasa. Jika ada hal yang masih sama mengenai pamanku, bisa kutebak ia membeli
sepatu itu di Magetan, menggunakan bahan kulit terbaik kesukaannya, “itu adalah
paman ibu. Kamu manggilnya ‘eyang’ yaa, namanya Bowo. Eyang Bowo. Ke sana,
yuk?” Abi mengangguk dan lalu memandang kagum kepada Paman Bowo. Aku bersyukur
sekarang Abi sedang mendorong trolley, kalau tidak, dia pasti sudah
berlari tanpa melihat kanan/kiri dan asal memeluk Paman Bowo.
Aku
melihat paman sudah selesai menelepon dan melihat ke arah kami, senyumnya seketika merekah. Ternyata benar,
kerutan di ujung matanya dalam dan banyak, juga benar bahwa helai
berwarna putih di jambangnya itu adalah uban. “Yudha! Gimana tadi
perjalanannya? Lancar?” Aku mencium tangan Paman Bowo dengan hormat.
“Iya paman, aman tanpa turbulensi. Untung si Abi juga
lagi happy.” Jawabku sekaligus memberikan isyarat bahwa aku juga membawa
anakku yang baru pertama kali ke Indonesia.
“Weladalah, sopo iki (wah, siapa ini) ?!
Inikah cucuku yang lahir di Jepang itu?” seru Paman Bowo seraya
menjulurkan tangan agar Abi bisa menyalaminya. Aku mengira Abi akan mengabaikan
tangan Paman Bowo dan membungkukkan badan, untungnya ternyata putraku langsung
paham setelah melihatku mencium tangannya. Abi dengan patuh menerima uluran
tangan pamanku dan menirukan apa yang kulakukan.
“ Halo Eyang Bowo, namaku Abiwara Manggala. Aku sudah
mau tujuh tahun!” Karena sudah merupakan kebiasaan, pada akhirnya Abi membungkukkan badan setelah menyebutkan identitasnya. Ternyata, paman pun
terlihat sama sekali tidak keberatan dengan sikap Abi tersebut, paman pun ikut
membungkukkan badan. Setelah itu mereka berpelukan dan saling bertukar cerita.
Tidak lama kemudian mereka sudah seperti teman akrab.
Di
sepanjang perjalanan, Paman Bowo sibuk mengemudi sambil sesekali menjawab
pertanyaan Abi yang bertubi-tubi. Sementara aku terus memandang ke luar jendela
dan asyik mengamati lingkungan sekitar, telah banyak yang berubah dari kota ini. Sudah delapan tahun aku tidak pulang.
Aku merantau ke Jepang untuk menempuh pendidikan magister di usiaku yang ke-25.
Walaupun sudah menikah saat itu, suamiku yang seorang arkeolog memiliki jiwa
petualang tinggi. Ia hanya sesekali pulang dan mengunjungiku di kampus, menjadi
lebih sering saat aku hamil dan itu membuatku senang. Namun, setelah Abi lahir,
ia kembali bertualang mencari situs-situs menarik untuk diteliti. Tempat
kegemarannya adalah di Perfektur Oita. Dengan kesibukanku sebagai mahasiswa,
menjadi seorang ibu untuk pertama kalinya, dan jarak yang memisahkan kami
berdua, pada akhirnya kami hanya sesekali bertukar pesan. Abi hanya mengenal
ayahnya dari barang-barang antik yang ia bawa. Tentu, walaupun sudah diberi
restu, pada kesempatan kali ini ayah Abi tidak bisa ikut bersamaku pulang ke
Indonesia untuk mendoakan ibuku.
Paman
Bowo sama sekali tidak mengajakku berbicara. Inilah yang aku sukai dari paman
sejak aku kecil. Paman sering kali hanya mendengarkan dan jarang memberikan
pertanyaan yang membuat jengah. Paman pintar membaca mimik muka seseorang, ia
paham kapan seseorang siap diajak mengobrol dan kapan seseorang perlu diberi
waktu beristirahat atau sekedar menenggelamkan diri dalam pikirannya. Pada
kasusku, paman benar sekali. Aku datang ke Indonesia demi ibuku, jangan salah,
walaupun jarang memberikan kabar, aku mengutuk diriku sendiri yang tidak bisa
hadir saat ibuku dimakamkan. Karena saat itu aku sedang mengusahakan kelahiran
putraku yang kini tengah sibuk menghafalkan lagu Indonesia Raya di bangku
belakang mobil. Rupanya paman mengenalkan lagu nasional itu kepadanya dan kini
ia menghafalkannya dengan wajah serius. Sangat lucu. Kambali ke ibuku. Ibu
adalah seorang peneliti yang sangat bersemangat dengan pekerjaannya, seorang
wanita yang beberapa kali memberikanku pengalaman untuk pertama kalinya
menjejakkan kaki di beberapa tempat di luar Jawa Timur. Saat aku duduk di kelas dua sekolah dasar, secara tiba-tiba ibu menjemputku di sekolah sebelum jam
pelajaran berakhir. Saat itu, aku yang sedang jenuh karena mulai menghafalkan
pembagian, sangat senang karena tiba-tiba saja kami berada di perjalanan menuju
bandara. “Yudha temenin ibu ke Bali ya, nduk.” adalah jawabannya
atas pertanyaanku. Berkat ibu, untuk pertama kalinya aku melihat keunikan Bali;
seluruh penjuru tempat yang dipenuhi turis mancanegara; bagaimana orang-orang,
baik asli Bali maupun pendatang, menghormati tradisi dan budaya yang mengakar
kuat di sana, dan; Cita rasa baru yang belum pernah kucoba sebelumnya, aku
bersyukur bisa menikmati pedasnya ayam betutu yang mantab. Pada lain
kesempatan, ibuku mengajakku lagi untuk pergi berdua, waktu itu ke Jawa Barat.
Karena saat itu aku sudah memasuki semester enam perkuliahan, selain
jalan-jalan, aku diberikan tugas untuk membantu ibuku memahami cara kerja
perangkat lunak dalam suatu pelatihan. Acara pelatihan itu diadakan di suatu
perguruan tinggi ternama di Bandung. Kami mendarat di Bandara Halim
Perdanakusuma. Beruntung waktu itu pelatihannya diadakan pada minggu awal perkuliahan
sehingga aku tidak merasa keberatan untuk mengambil seminggu hari libur,
masalah jatah bolos yang berkurang satu itu tidak ada artinya dibandingkan
dengan pengalaman yang aku dapatkan. Ibuku paham tentang anak perempuannya yang
sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Ibukota Negara, juga karena
durasi perjalanan kami yang seminggu penuh, ibuku punya banyak waktu untuk
mengenalkanku kepada sang megapolitan itu. Kami memutuskan untuk menyewa mobil
dan tidak menaiki kereta api dari Jakarta ke Bandung. Seandainya kata-kata
cukup untuk mendeskripsikan betapa berterimakasihnya aku kepada ibuku. Aku
ingat saat itu sangat terkagum dan merasa kecil di tengah-tengah gedung
pencakar langit. Ibuku bercerita banyak mengenai Jakarta dan peran kota besar
itu dalam melancarkan studinya, membesarkan namanya, hingga membantu ibuku
menemukan jodohnya, yaitu ayahku. Sebelum sampai Bandung, kami sempat berhenti
untuk beberapa saat dan menikmati makanan khas Jakarta, juga berbelanja dengan
ceria dan saling mengingatkan agar tidak lapar mata di sebuah mall yang
sangat megah. Jakarta memang kota yang sangat kompleks, aku bisa merasakan
bahwa kota itu akan berkembang dengan pesat dari sisi ekonomi dan teknologinya.
Perjalanan menjadi lebih istimewa karena aku dibimbing oleh seorang wanita
cerdas yang dengan bangga kupanggil “ibu”. Dalam diam aku mulai memanjatkan doa
agar ibuku tenang di sisi-Nya.
“ Ibuk
kenapa nangis?” Lagi-lagi lamunanku terbuyarkan oleh Abi, dengan cepat
aku menghapus jejak air mata yang tanpa sadar sudah sampai di daguku.
“Ah, ibu nggak nangis kok, Abi. Ibu ngantuk.”
Jawabku hati-hati agar tidak merusak suasana hati anakku yang sedang senang.
“Tapi-” mungkin Abi ingin bilang bahwa aku tadi sudah
tertidur di pesawat. Tapi ia mengurungkan niat karena aku hanya tertidur di
akhir perjalanan karena sejak awal sudah menyiapkan segala hal agar dia bisa
terbang dengan nyaman, “tapi bener bukan karena ibu sedih, kan?” Aku
menggeleng dan tersenyum, kuusap pelan pipinya dan memintanya untuk bersiap
karena kami sudah hampir sampai.
Kami
sampai di rumah masa kecilku. Pohon manga besar di depan rumah rupanya belum
ditebang. Cabangnya masih terlihat kokoh, cabang yang semasa aku kecil menjadi
tempat favorit untuk menyantap es lilin bersama kakakku di sore hari. Aku
menghirup udara dalam-dalam, lalu kuhembuskan perlahan. Aku menggandeng Abi masuk ke dalam. Di rumah sedang sibuk mempersiapkan acara untuk sore ini. Suara
radio terdengar memenuhi ruangan, saluran radio kesukaan ibuku. Kali ini
memutarkan lagu “Burung Camar” yang sempat memenangkan penghargaan bergengsi Kawakami
Award pada tahun 80-an. Abi dengan ceria mulai menggerakkan badan dan
menikmati irama lagu itu. Jika di pesawat tadi aku bermimpi tentang ibu yang
sibuk mempersiapkan tasyakuran untuk kakakku, sekarang aku melihat kakakku dan
istrinya saling membantu menyiapkan sajian untuk para tamu Yasinan ibuku. Kakakku terlihat
semakin matang dengan badannya yang kekar, bereda jauh dengan badannya sebelum
mulai pelatihan ala militer. Di rumahku semasa gadis itu, untuk pertama kalinya
aku bertemu dengan istri kakakku. Seorang wanita cerdas lulusan Jurusan Seni,
Drama, dan Musik. Ia sudah banyak mengirimkan delegasi untuk memperkenalkan
kesenian Indonesia ke berbagai belahan dunia. Seorang wanita yang tutur
bicaranya lembut namun memiliki pendapat yang tegas mengenai pentingnya
berpegang teguh pada kesenian lokal dan pentingnya berkelana ke luar negeri
untuk mendapatkan pandangan yang lebih
luas tanpa lupa untuk memperkenalkan keragaman budaya Indonesia
ke mana pun ia pergi. Aku sudah menduga bahwa kakakku pintar
memilih pasangan hidup. Lalu aku teringat dengan pasangan hidupku sendiri.
Matahari
sudah mulai tak terlihat. Aku bersiap di dalam kamar, bersiap secara lahir dan
batin. Aku membiarkan Abi berkomunikasi dengan paman, bibi, dan kakeknya di
ruang keluarga. Saat aku mulai mengaplikasikan riasan, Abi berlari masuk ke
kamarku. Aku menoleh kaget ke arahnya.
“Ibu! Maaf Abi lupa mengetuk pintu! Maaf juga
gara-gara aku alis ibu jadi panjang sebelah! Tapi ibu! Di luar ada ayah!” Abi berbicara dengan sangat cepat di sela-sela nafasnya yang memburu. Matanya
terlihat kebingungan, tapi juga memancarkan kebahagiaan. Tentu ia pernah
melihat wajah ayahnya. Walaupun hobi berkelana, ayahnya itu selain sering mengirimkan
foto-foto hasil temuan yang bernilai seni tinggi untuk semua orang, juga rajin
mengirimkan foto dirinya (yang walaupun mungkin tidak ke semua orang, bagiku
sangat memikat dan bernilai seni tinggi). Aku buru-buru merapikan riasan untuk
kemudian berlari dengan atasan batik formal dan bawahan celana piyama.
Pria
itu sedang mengobrol akrab dengan kakakku. Rambutnya ditutupi topi safari
berwarna putih gading. Pakaiannya rapi, tapi aku hampir bisa menebak bahwa
sepatunya, parkir tertib di teras rumah, sangat kotor dan tidak berwujud seperti sepatu karena beratnya
medan menuju objek penelitiannya. Rupanya ia sedang menjelaskan kronologis yang
membuatku sampai di Indonesia hanya dengan seorang anak kecil. Janjinya pada saat menikahiku adalah untuk menjaga dan menemaniku. Aku pun tersenyum
geli, Abi dengan malu-malu memegangi bajuku dan bersembunyi di balik badanku.
Figur ayahnya yang tinggi besar membuat Abi sedikit takut.
“Mas Bayu,” panggilku pelan. Ia menoleh dengan cepat.
“Yudha-ku!” ia melangkah lebar dan memelukku erat, Abi ragu-ragu, namun kemudian ikut mencolek kaki ayahnya. “Ore no musuko da! (anakku!)”.
Kakakku dan istrinya melihat kami dengan perasaan geli dari sudut ruang tamu.
Suamiku adalah orang Lamongan yang memantabkan hati menikahiku sebelum kami
berangkat bersama ke Negeri Sakura. Kami berusaha mengenalkan putra kami kepada
bahasa, budaya, dan kebiasaan orang-orang di kampong halaman kami. Oleh karena
itu, terkadang kami berusaha mengajak Abi berbicara dengan Bahasa Indonesia.
Walaupun menurutku belum sebanyak itu, aku terkejut Abi ternyata bisa
berkomunikasi dengan lancar. Ayahnya harus tahu. “Yudha, aku senang sekali bisa
ke rumahmu sebelum acaranya di mulai. Sebelum ini aku meneliti Situs Gunung
Padang, tempat itu sangat menarik! Aku mau mengajakmu dan Abi kita ini ke sana.
Mau ya?” Ujarnya bersemangat.
“Ayah, tapi ingat harus mendoakan Eyang Putri dulu!”
Jawab Abi menggunakan Bahasa Indonesia, respon ayahnya sungguh menumbuhkan
perasaan hangat. Mas Bayu berlutut dan memberikan kecupan ringan di kepala Abi.
“Kita berangkat setelah ibumu berziarah ke makam Eyang
Putri ya, sayang.” Jawab Mas Bayu lembut.
Tamu-tamu
mulai berdatangan. Aku, Abi, dan Mas Bayu sudah benar-benar siap untuk
melaksanakan adat Jawa yang kami persembahkan kepada ibuku. Sayup sayup suara
radio masih memutarkan lagu dari stasiun langganan ibu. Kali ini memutarkan
lagu “Zamrud Khatulistiwa” oleh penyanyi legendaris Chrisye. Malam itu, sebelum
kembali menuntut ilmu di negeri orang, kami memutuskan untuk tinggal lebih lama
untuk mengajak Abi berkelana mengenali tempat-tempat penuh cerita yang ada di
Nusantaraku, Indonesia.
Surabaya, 10 April 2018
Bearhug untuk panitia~
Surabaya, 10 April 2018
Bearhug untuk panitia~
1 nduk = Singkatan dari Genduk
atau panggilan bagi orang tua untuk anak perempuannya.
2-chan = akhiran panggilan dalam bahasa
Jepang. Biasanya ditujukan untuk orang yag lebih muda, gadis kecil, atau orang
yang disayangi. Abi menggunakan ekspresi ini karena ia menyukai kopernya,
sebagai anak kecil.
Catatan Pengarang : Cerpen ini adalah cerpen yang saya buat saat mengikuti lomba menulis cerpen di Pekan Kesenian Mahasiswa ITS (PEKSIMITS) 2018 pada tanggal 4 Maret lalu. Saya melakukan beberapa penyuntingan, namun inti cerita tetap sama. Selamat membaca ^^