Tuesday, March 6, 2018

Dandelion


Oktober 2017

“ceklik, ceklik, cekik.” suara tetikus yang ditekan terburu memenuhi ruangan bergaya kolonial Belanda. Ruangan itu memiliki langit-langit yang tinggi, dindingnya berwarna abu-abu pucat kebiruan, dilengkapi dengan jendela besar yang ditutup oleh tirai dari linen berwarna blewah. Di suatu sudut dekat jendela dan lampu lantai, terlihat berwibawa di balik meja kerja dari kayu jati berwarna gelap, seorang pemuda bergegas untuk menyelesaikan peta penggunaan lahan eksisting Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Sesekali gerakannya terhenti karena laptopnya memburam dan di sebelah nama berkas peta yang ia kerjakan tertulis “(Not Responding)”. Pemuda itu mendengus kesal, laptopnya tak kunjung pulih. Ia pun bergegas mengantongi smartphone-nya, membawa cangkir bekas minumnya dari meja kerja dan berjalan ke dapur untuk membuat seduhan teh baru untuk menemaninya menyelesaikan peta sebelum anggota timnya kembali dari pengambilan data.

Sebenarnya, ia malas untuk ke dapur, karena jalan menuju dapur itu hanya satu, melewati lorong yang di sisi kirinya berisi lemari berpintu kaca, sedangkan di sisi kanan terdapat jendela besar yang memancarkan cahaya matahari, menerangi isi dari lemari kaca itu : barisan cinderamata dari berbagai negara dan foto-foto milik penghuni rumah yang ia sewa untuk akomodasi survei selama seminggu. Pemuda berkacamata itu sedikit claustrophobic atau phobia tempat sempit. Ia malas, namun cangkirnya harus kembali hangat. Lagi pula, setelah melihat deretan bunga randa tapak yang tersusun rapi di pinggir jendela lebar tersebut, ada suatu hal yang ingin dia pastikan.

“Hati-hati lho, mas. Bos saya sudah penghuni ketiga dari rumah ini. Awalnya beliau diperingatkan sama penghuni sebelumnya untuk selalu menjaga kebersihan tempat ini, kalo enggak nanti kenak penyakit yang aneh-aneh. Nggak taunya setahun kemudian bos saya kena gagal ginjal. Padahal bos saya sama istrinya itu kalau makan disiplin banget. Istrinya juga rajin bersih-bersih, kan aneh to mas?” Kata pak Djatmiko, penanggung jawab rumah yang menyambut pemuda itu dengan timnya dua hari yang lalu. Kata-kata itu terngiang sembari pemuda bertubuh jakung itu mengamati isi lemari kaca dengan rasa kagum. Hatinya berdebar, satu per satu barang pecah belah itu ia amati, berharap untuk menemukan sesuatu yang lain. Dalam lemari tersebut hanya terdapat foto-foto pasutri paruh baya dan dua gadis berkulit sawo matang, berpose berbagai gaya di berbagai kesempatan. Tidak terlihat satu pun foto seseorang yang diharapkannya, seorang gadis kecil berkulit putih pucat dan berbadan mungil, sesosok yang sempat memenuhi harinya semasa taman kanak-kanak.



Juli 2002

“Aufa, kunyah pelan-pelan! Nanti kamu keselek,” Ibu meletakkan segelas susu di sebelah kiri piring Aufa, secangkir wedhang jahe untuk ayah Aufa, lalu tim sayur untuk adik Aufa.

Ibuk, nanti siapa yang antelin aku ke se… sela..” Tanya anak bernama Aufa itu ragu-ragu, “umm...”

“huuum!” celoteh adik Aufa menirukan suara gumam kakaknya.

“Sekolah, le, se-ko-lah.” Ibunya membantu Aufa mengingat dengan sabar, ayah Aufa tersenyum geli kepada istrinya sambil sedikit mengintip dari balik koran.

“Nah! Sekolah! Hihihi!” Aufa tersenyum lebar, ibunya memberikan tisu supaya anak pertamanya itu bisa membersihkan saus tomat yang blepotan di pipinya.

“Nanti dijemput pak becak, namanya Pak Tarman.  Nanti Aufa nggak sendirian, ada temennya, itu lho anaknya tante Alawiyah. Namanya Lala.” Ibu Aufa akhirnya duduk dan menyuapi adik Aufa yang sedari tadi berceloteh dan sesekali menggigit jemarinya dengan giginya yang masih bersembunyi malu-malu.

“Lala? Dia kayak aku atau kayak dek Nisa sama mbak Gina?” Tanya Aufa memastikan, karena biasanya teman-teman Aufa kalau tidak berpakaian seperti dirinya, ya berpakaian seperti adikknya atau kakak sepupunya yang dia panggil “Mbak Gina”.

“Sama kayak dek Nisa sama mbak Gina, perempuan.” Aufa berharap ibunya menyebutkan kata yang lebih mudah, per apa?

Cewek, le,” sahut ayah Aufa seakan membaca mimik wajah putranya yang kebingungan, “kalau seperti Aufa dan ayah gini namanya cowok.” Aufa mengangguk khidmat, begitu lebih mudah diingat. Ayahnya sudah menyingkirkan koran pagi dan beralih untuk menyantap sarapannya, “mantab betul memang masakan ibumu.” puji ayah Aufa tulus sambil menggenggam tangan ibu Aufa.

“Wah, makasih, mas. Besok kubuatkan garang asem favoritmu.” Jawab Ibu Aufa penuh semangat. Keduanya tersenyum sambil memandang satu sama lain. Aufa merasakan pipinya menghangat, dia malu, dengan cepat dia menghabiskan sarapannya dan melompat turun dari kursi makan.

“Ayah sama ibuk aneeh!” Celetuk Aufa dengan usil sambil berusaha memasang tas punggungnya yang bergambar Popeye, lalu setelah tas itu dengan sukses bertengger di punggungnya, ia benar-benar kesulitan memakai kaus kaki. Sebuah pelajaran agar lain kali ia memakai kaus kakinya terlebih dahulu.

“aa,” Nisa, adik Aufa, berusaha mengatakan sesuatu sambil menyodorkan sendok kosong ke ibunya, “neeeh.” Suaranya melengking di akhir, membuat kedua orang tuanya salah tingkah.

Suara bel becak terdengar dari luar rumah Aufa. “Pak Maman?” Sahut Aufa girang dengan berlari riang ke luar.

“Mamaaan!” seru Nisa yang rupanya sudah memasuki fase membeo atau mengikuti perkataan orang-orang di sekitarnya.

“lho.. Ma, Maman katanya hahaha,” Celetuk ayah Aufa sambil menggendong Nisa, “adeek, mas Aufa mau berangkat sekolah tuh, lihat yuuk.” Ayah Aufa berjalan ke depan rumah, disusul oleh ibu Aufa yang ke luar membawa mangkuk sarapan Nisa.

Aufa membuka pagar, didepan matanya terdapat becak sepeda berwarna kuning cerah. Seorang lelaki berwajah seperti kakek Aufa melompat turun dari sepeda becak dan menurunkan tempat penumpang agar Aufa mudah untuk menaikinya. Saat itu pula, Aufa menyadari ada seseorang di atas tempat penumpang itu, seorang cewek, begitu kata ayahnya. Rambutnya hitam legam sebahu, disibak ke belakang menggunakan bandana berwarna merah hati. “Pasti Lala, dan bapak itu nggak salah lagi pasti Pak Maman!” batin Aufa. Cewek itu memandang Aufa dengan malu-malu, digenggamannya ada dua batang bunga Randa Tapak, dipegang hati-hati agar tidak gundul ditiup angin. Walau masih terlihat ragu, cewek itu menyerahkan sebatang randa tapak kepada Aufa, saat itu, angin bertiup lembut dan membuat beberapa helai beterbangan, menyisakan sedikit helaian yang tertancap kuat di batang. Helaian yang tertiup angin itu terbang ke berbagai penjuru, berwarna putih, persis seperti gambaran salju yang biasa dilihat Aufa di TV pada bulan Desember. Aufa yakin pasti itu mirip yang di dalam tayangan TV bulan Desember, karena di bulan Desember pula, keluarga Aufa mengirimkan sedikit cake untuk beberapa tetangga terdekatnya yang merayakan natal. Kata ibu Aufa, sih, supaya tetangganya bisa merayakan hari raya bersama keluarga sambil menikmati sajian yang spesial.

“Indah..” gumam Aufa.

“Yah… jadi jelek,” Gumam cewek itu sedih, lalu menyodorkan tangkai yang satunya lagi, “kamu kukasih yang ini aja ya, yang ini masih bagus kok. Namanya Dandelion, bunga kesukaanku. Ambil ya, kupunya banyak di rumah,” jari-jarinya yang bulat bulat menggenggam batang dandelion itu dengan erat sampai batang itu berpindah ke tangan Aufa.

“Aku yang jelek juga gapapa kok,” jawab Aufa sambil beranjak naik ke atas becak, “mau tuker lagi? Katanya kamu suka?”

“Gapapa, yang masih rimbun buat kamu. Aku mau tunjukin sesuatu, hehehe, sekarang masih rahasia! Iya kan, pak Tarman?” Lala meminta dukungan pada Pak Tarman, Aufa kagum bahwa cewek itu bisa meyebutkan nama pak Tarman tanpa cela, benarkah Lala seumuran dengan Aufa? Jangan-jangan dia sudah 6 tahun! Lebih tua setahun dari Aufa? Berbagai spekulasi tumbuh dalam pikiran Aufa muda.

“Iya, rahasia, mas Aufa! Saya juga daritadi nggak dikasih tau maksud mbak Lala.” Jawab pak Tarman memihak kepada Lala.

“Oh iya, kenalin, namaku Lala,” Lala menyalami tangan Aufa secara spontan, “dan mungkin ada baiknya kalau kamu cium tangan orang tuamu dulu sebelum berangkat, iya kan, tante?” Lala mendongak dan tersenyum ke arah ibu Aufa. Ibu Aufa Nampak terkejut, mamun dengan cepat tersenyum lebar dan mengangguk.

“wah iya! Tapi aku titip bunganya dulu ya, nanti gundul lagi kalo kubawa lari! Namaku Aufa!” Lala mengangguk dan menjaga bunga itu baik-baik sampai Aufa selesai mencium tangan kedua orang tuanya dan kembali naik ke atas becak.

“Assalamualaikum!!” Aufa dan Lala berseru serentak ke kedua orang tua Aufa, Pak Tarman pun melambaikan tangan dengan hormat.

“waalaikum’salam” Ayah Aufa menggerakkan tangan kanan mungil Nisa dengan penuh semangat.

“da dah!” Nisa ikut mengucapkan selamat jalan kepada kakaknya.

               Sepanjang perjalanan, Aufa masih terus berusaha untuk menghalang tiupan angin supaya bunga randa tapak dalam genggamannya tidak buyar.

“Aufa, kamu lihat lapangan bola di depan itu?” Lala menunjuk ke lahan luas di kanan dan kiri jalan. Keduanya dipenuhi rumput liar yang diatasnya hanya ada dua gawang sederhana dari kayu, Aufa mengangguk, “kamu boleh membiarkan dandelion itu ditiup angin, asal arahkan ke arah lapangan itu. Kamu yang kiri, aku yang kanan ya!” Seru Lala.

“Kenapa harus di lapangan?” Tanya Aufa terheran, lapangan itu kini jaraknya hanya satu rumah.

“Nanti dulu,” pak Tarman dengan semangat mengayuh becak hingga lapangan itu pun sudah di sisi kanan dan kiri mereka, ”Nah, sekarang biarkan anginnya meniup bungamu!” Lala menjulurkan bunganya ke kanan, angin meniup bunga randa tapak Lala. Untuk sepersekian detik, Aufa merasakan ada yang menenangkan dari apa yang sedang ia saksikan. Helaian randa tapak itu berhamburan ke arah lapangan, beberapa diantaranya meluncur melewati rambut Lala yang berkobar lembut. Beberapa diantaranya tenggelam dalam rerumputan lapangan. Aufa menoleh ke arah kiri dan menjulurkan bunganya ke luar becak. Anginnya sejuk, helaian-helaian bunga Aufa beterbangan dengan santai ke arah lapangan. Aufa kembali menoleh ke kanan, Lala sedang mengamatinya, tersenyum lebar, “Asyik, kan?” Lala tertawa dengan menempelkan telapak tangan ke hidungnya yang lancip, Aufa juga sering melihat ibunya tertawa sambil menutup mulutnya. Tetapi cewek ini menutupi hidungnya. Aufa sempat melihat dua gigi Lala yang rupanya tengah tanggal. Lucu.

“sekarang beri tahu dong, katanya suka, kok malah dibiarkan rontok?” Aufa menyadari ada bunga yang tersangkut di bandana Lala, tapi ia takut dimarahi, persis seperti kejadian beberapa hari yang lalu; mbak Gina,sepupunya, marah besar karena Aufa mencoba mengambil bulu ayam yang tersangkut di kepangan rambutnya.

“Kata ibuku, dandelion kecil yang beterbangan itu bisa menemukan tempat tumbuhnya yang baru. Walaupun “badan” mereka,” Lala menunjuk induk tangkai randa tapak Aufa yang sudah gundul, “terlihat kosong, paling tidak ‘anak-anaknya’ bisa bermekaran di tempat lain. Mereka diingat oleh alam yang mereka pijak, membantu ‘anak-anak’ itu tumbuh menjadi dandelion baru yang utuh dan cantik,” Aufa berusaha keras untuk memahami kata-kata Lala saat itu, tapi ia berusaha mendengarkan, Lala terus bercerita, “makanya walaupun suka, aku mau menebar mereka dimana-mana, supaya mereka tumbuh di banyak tempat dan aku bisa lihat dandelion di sepanjang jalan!” Aufa ikut senang dan mendukung rencana gadis kecil itu, “sekarang aku juga ketemu orang baru, kamu, Aufa… Kamu mau, kan, inget aku? Inget aku sebagaimana bumi mengingat dandelion yang datang menyapanya.” Lala menepuk lembut bahu kanan Aufa sambil sedikit memirigkan kepalanya, meminta persetujuan.

Aufa mengerjap, perkenalan yang sangat panjang. Tentu saja ia sudah mengingatnya, Lala si pengagum randa tapak, atau dandelion kalau Lala bilang.

“Eh? Iyadeh,” Aufa berusaha sok cuek, “tapi kamu juga harus ingat aku ya!”

               Aufa menepati janjinya, begitu pula Lala. Namun, memang bunga yang ingin dipetik terlebih dahulu adalah bunga terindah. Saat Aufa menyadarinya, bangku becak di sebelah Aufa selalu kosong selama beberapa hari terakhir. “Mbak Lala izin, mas, katanya sakit.” Jawab pak Tarman setiap kali Aufa menanyakan kabar teman perempuan pertamanya itu.

“Sakit apa, pak? Tolong anterin aku ke rumahnya.. ya? Ini masih kepagian kalo langsung ke sekolah..” Rengek Aufa setelah hampir seminggu mendengar kabar yang sama. Pak Tarman menyerah dan mengantar Aufa ke rumah Lala. Untuk pertama kalinya, Aufa melihat rumah Lala yang megah itu. Tingkat dua, gaya rumah Belanda. Warna temboknya abu-abu pucat kebiruan, jendelanya besar-besar. Hal yang paling menarik perhatiannya adalah deretan dandelion di sepanjang tembok depan, terlihat beberapa di dekat jendela. Bunga itu melambai lemah, tidak ada yang beterbangan bebas. Perhatian Aufa teralihkan setelah seseorang membuka pintu depan rumah itu dan menyapanya, “Aufa!” Ternyata Lala. Di bawah matanya terdapat cekungan cukup dalam berwarna gelap dan itu membuat Aufa sedikit sulit mengenali temannya itu. Kulit Lala jadi lebih putih dari biasanya, Aufa berpikir mungkin karena sudah lama Lala tidak bermain di lapangan sekolah. Tangan Lala… tulang tangan yang sebelumnya bulat gemuk dan memberikan setangkai dandelion hari ini terlihat sangat menonjol.

“Lala! Kamu sakit apa?” Aufa bergegas turun dari becak, berlari memasuki pagar dan mendekati pintu masuk, lalu berhenti di dekat salah satu tanaman randa tapak di dekat pintu, “boleh ku ambil? Sepertinya kamu butuh dandelion supaya cepet sembuh!” Aufa buru-buru memetik dua batang. Satunya untuk dia bawa ke sekolah.

enggak tau, padahal aku ngerasa segar. Tapi mama terus bilang kalau aku nggak boleh masuk sekolah.” Jawab Lala dengan nada kesal, namun suaranya lebih lemah dari biasanya.

Saat itu, seorang wanita cantik datang merangkul lembut bahu Lala, wanita itu tersenyum melihat Aufa, “ini Aufa ya, sayang? Aufa yang sering kamu ceritakan ke mama,kan?” Tanya wanita itu lembut kepada Lala.

“Eh mama…” Lala berharap mamanya tidak mendengar perkataannya yang sebelumnya, “iya ma, ini Aufa, anaknya baik banget! Lihat, aku dikasih dandelion hihihi!” Jawab Lala ceria, tapi Aufa justru merasa sedih karena cekungan di mata Lala menjadi lebih dalam saat dia tertawa.

“Aufa, tante,” Aufa berjalan menuju mama Lala untuk mencium tangan tanda hormat, Lala sedikit berjalan mundur saat Aufa mencium tangan mamanya.

“Aufa, jangan lama-lama di sini, kita main di tempat lain aja ya kalau aku sudah sembuh. Kalau lama di sini nanti kamu ketularan aku, loh… kamu harus selalu sehat!” Seru Lala yang kini sudah berada sedikit lebih jauh di dalam rumah.

“Eh, janji? Aku tungguin kalo gitu!” Jawab Aufa penuh semangat, matanya berbinar.

“Aufa doakan Lala sembuh ya, nak, sekarang berangkatlah sekolah, sebentar lagi pukul Sembilan.” Jawab mama Lala sambil mengusap rambut Aufa.

“Ohiya sudah siang! Gawat!” Aufa buru-buru mencium tangan mama Lala lagi dan berlari ke becak, Pak Tarman sedari tadi mengamati dari atas kursi sepeda becak, siap mengantar Aufa, “Lala! Temen-temen juga mau cepet-cepet ketemu kamu! Cepet main sama kami lagi, ya! Berangkat dulu!” Aufa terus berteriak semangat, “Assalamualaikum!” Aufa melambaikan tangan dengan semangat, Lala juga tersenyum sumringah dari balik jeruji pagar, tangannya melambai lemah. Mama Lala juga ikut melambaikan tangan, tapi ada yang aneh.

Ada air mata menetes dari mata mama Lala.



Oktober 2017

              Smartphone pemuda itu bergetar, membuyarkan kilas balik yang menyita sedikit waktunya. Terdapat pesan masuk dari teman satu timnya yang berbunyi, “Aufa, kami mau cari data statistik pertanian dulu. Mungkin agak lama, titip petanya ya!”

Aufa membalas sekenanya lalu kembali mengantongi ponsel itu. Tanpa sadar, dia menghembuskan nafas panjang, “iya juga, mana ada foto Lala di lemari ini. Siapa juga yang mau nyimpen foto pemilik lama dari rumah yang baru kamu beli? Apalagi dia sudah tiada…” gumam Aufa lemah.

               Lala meninggal beberapa hari setelah kunjungan Aufa. Kunjungan itu menjadi kali terakhir Aufa melihat Lala. Gadis kecil itu akhirnya ‘ditiup’ oleh Leukimia untuk menghadap Tuhan. Setelah Lala pergi, keluarganya menjual rumah itu. Sebelum akhirnya jatuh di tangan bosnya pak Djatmiko, rumah itu kemudian dibeli oleh saudara jauh Lala, untuk kemudian dijual lagi setelah ada anggota keluarga yang sakit berat pula. Aufa juga dengan berat hati meninggalkan kota Blitar bersama keluarganya pindah ke Surabaya. Aufa menjalankan kehidupannya dengan tetap mengingat temannya yang pecinta dandelion itu. Saat dosen jurusan Planologi-nya mengarahkan Aufa dan tim untuk meneliti Kecamatan Kademangan, Aufa merasa terlalu girang saat survei mencari tempat tinggal. Bahwa rumah lama tempat Lala tinggal kini di sewakan, tanpa renovasi besar-besaran yang merubah struktur bangunan dan gaya arsitekturnya. Tanpa perubahan pada deretan bunga dandelion-nya.

Aufa tanpa ragu memilih rumah itu, karena rumahnya di Blitar kini sudah beralih fungsi menjadi ruko. Selain itu Aufa juga ingin menepati janjinya. Bahwa temannya itu sudah seperti dandelion, walaupun kini raganya kosong, paling tidak gadis manis itu sudah tertanam di ingatan Aufa, keluarganya, dan teman-temannya.




Surabaya, 6 Maret 2018
Bearhug untuk (alm) teman masa kecilku