Oktober 2017
“ceklik, ceklik, cekik.” suara tetikus yang ditekan terburu memenuhi ruangan bergaya kolonial Belanda. Ruangan itu
memiliki langit-langit yang tinggi, dindingnya berwarna abu-abu pucat kebiruan,
dilengkapi dengan jendela besar yang ditutup oleh tirai dari linen berwarna
blewah. Di suatu sudut dekat jendela dan lampu lantai, terlihat berwibawa
di balik meja kerja dari kayu jati berwarna gelap, seorang pemuda bergegas untuk
menyelesaikan peta penggunaan lahan eksisting Kecamatan Kademangan, Kabupaten
Blitar. Sesekali gerakannya
terhenti karena laptopnya memburam dan di sebelah nama berkas peta yang ia
kerjakan tertulis “(Not Responding)”. Pemuda itu mendengus kesal, laptopnya
tak kunjung pulih. Ia pun bergegas mengantongi smartphone-nya, membawa
cangkir bekas minumnya dari meja kerja dan berjalan ke dapur untuk membuat
seduhan teh baru untuk menemaninya menyelesaikan peta sebelum anggota timnya
kembali dari pengambilan data.
Sebenarnya,
ia malas untuk ke dapur, karena jalan menuju dapur itu hanya satu, melewati lorong
yang di sisi kirinya berisi lemari berpintu kaca, sedangkan di sisi kanan
terdapat jendela besar yang memancarkan cahaya matahari, menerangi isi dari
lemari kaca itu : barisan cinderamata dari berbagai negara dan foto-foto milik
penghuni rumah yang ia sewa untuk akomodasi survei selama seminggu. Pemuda
berkacamata itu sedikit claustrophobic atau phobia tempat sempit. Ia
malas, namun cangkirnya harus kembali hangat. Lagi pula, setelah melihat
deretan bunga randa tapak yang tersusun rapi di pinggir jendela lebar tersebut,
ada suatu hal yang ingin dia pastikan.
“Hati-hati
lho, mas. Bos saya sudah penghuni ketiga dari rumah ini. Awalnya beliau
diperingatkan sama penghuni sebelumnya untuk selalu menjaga kebersihan tempat
ini, kalo enggak nanti kenak penyakit yang aneh-aneh. Nggak taunya
setahun kemudian bos saya kena gagal ginjal. Padahal bos saya sama istrinya itu
kalau makan disiplin banget. Istrinya juga rajin bersih-bersih, kan aneh
to mas?” Kata pak Djatmiko, penanggung jawab rumah yang menyambut pemuda itu
dengan timnya dua hari yang lalu. Kata-kata itu terngiang sembari pemuda
bertubuh jakung itu mengamati isi lemari kaca dengan rasa kagum. Hatinya
berdebar, satu per satu barang pecah belah itu ia amati, berharap untuk menemukan
sesuatu yang lain. Dalam lemari tersebut hanya terdapat foto-foto pasutri paruh
baya dan dua gadis berkulit sawo matang, berpose berbagai gaya di berbagai
kesempatan. Tidak terlihat satu pun foto seseorang yang diharapkannya, seorang
gadis kecil berkulit putih pucat dan berbadan mungil, sesosok yang sempat
memenuhi harinya semasa taman kanak-kanak.
Juli 2002
“Aufa, kunyah pelan-pelan! Nanti
kamu keselek,” Ibu meletakkan segelas susu di sebelah kiri piring Aufa, secangkir
wedhang jahe untuk ayah Aufa, lalu tim sayur untuk adik Aufa.
“Ibuk, nanti siapa yang antelin
aku ke se… sela..” Tanya anak bernama Aufa itu ragu-ragu, “umm...”
“huuum!” celoteh adik Aufa menirukan
suara gumam kakaknya.
“Sekolah, le, se-ko-lah.” Ibunya
membantu Aufa mengingat dengan sabar, ayah Aufa tersenyum geli kepada istrinya
sambil sedikit mengintip dari balik koran.
“Nah! Sekolah! Hihihi!” Aufa
tersenyum lebar, ibunya memberikan tisu supaya anak pertamanya itu bisa membersihkan
saus tomat yang blepotan di pipinya.
“Nanti dijemput pak becak, namanya
Pak Tarman. Nanti Aufa nggak sendirian,
ada temennya, itu lho anaknya tante Alawiyah. Namanya Lala.” Ibu Aufa akhirnya
duduk dan menyuapi adik Aufa yang sedari tadi berceloteh dan sesekali menggigit
jemarinya dengan giginya yang masih bersembunyi malu-malu.
“Lala? Dia kayak aku atau kayak
dek Nisa sama mbak Gina?” Tanya Aufa memastikan, karena biasanya teman-teman
Aufa kalau tidak berpakaian seperti dirinya, ya berpakaian seperti adikknya
atau kakak sepupunya yang dia panggil “Mbak Gina”.
“Sama kayak dek Nisa sama mbak Gina,
perempuan.” Aufa berharap ibunya menyebutkan kata yang lebih mudah, per
apa?
“Cewek, le,” sahut
ayah Aufa seakan membaca mimik wajah putranya yang kebingungan, “kalau seperti
Aufa dan ayah gini namanya cowok.” Aufa mengangguk khidmat, begitu lebih
mudah diingat. Ayahnya sudah menyingkirkan koran pagi dan beralih untuk
menyantap sarapannya, “mantab betul memang masakan ibumu.” puji ayah Aufa tulus
sambil menggenggam tangan ibu Aufa.
“Wah, makasih, mas. Besok kubuatkan
garang asem favoritmu.” Jawab Ibu Aufa penuh semangat. Keduanya tersenyum
sambil memandang satu sama lain. Aufa merasakan pipinya menghangat, dia malu,
dengan cepat dia menghabiskan sarapannya dan melompat turun dari kursi makan.
“Ayah sama ibuk aneeh!”
Celetuk Aufa dengan usil sambil berusaha memasang tas punggungnya yang
bergambar Popeye, lalu setelah tas itu dengan sukses bertengger di
punggungnya, ia benar-benar kesulitan memakai kaus kaki. Sebuah pelajaran agar
lain kali ia memakai kaus kakinya terlebih dahulu.
“aa,” Nisa, adik Aufa, berusaha
mengatakan sesuatu sambil menyodorkan sendok kosong ke ibunya, “neeeh.”
Suaranya melengking di akhir, membuat kedua orang tuanya salah tingkah.
Suara bel becak terdengar dari luar
rumah Aufa. “Pak Maman?” Sahut Aufa girang dengan berlari riang ke luar.
“Mamaaan!” seru Nisa yang rupanya
sudah memasuki fase membeo atau mengikuti perkataan orang-orang di
sekitarnya.
“lho.. Ma, Maman katanya hahaha,” Celetuk
ayah Aufa sambil menggendong Nisa, “adeek, mas Aufa mau berangkat sekolah tuh,
lihat yuuk.” Ayah Aufa berjalan ke depan rumah, disusul oleh ibu Aufa yang ke
luar membawa mangkuk sarapan Nisa.
Aufa membuka pagar, didepan matanya
terdapat becak sepeda berwarna kuning cerah. Seorang lelaki berwajah seperti
kakek Aufa melompat turun dari sepeda becak dan menurunkan tempat penumpang
agar Aufa mudah untuk menaikinya. Saat itu pula, Aufa menyadari ada seseorang
di atas tempat penumpang itu, seorang cewek, begitu kata ayahnya. Rambutnya
hitam legam sebahu, disibak ke belakang menggunakan bandana berwarna merah
hati. “Pasti Lala, dan bapak itu nggak salah lagi pasti Pak Maman!” batin Aufa.
Cewek itu memandang Aufa dengan malu-malu, digenggamannya ada dua batang bunga
Randa Tapak, dipegang hati-hati agar tidak gundul ditiup angin. Walau masih
terlihat ragu, cewek itu menyerahkan sebatang randa tapak kepada Aufa, saat
itu, angin bertiup lembut dan membuat beberapa helai beterbangan, menyisakan
sedikit helaian yang tertancap kuat di batang. Helaian yang tertiup angin itu
terbang ke berbagai penjuru, berwarna putih, persis seperti gambaran salju yang
biasa dilihat Aufa di TV pada bulan Desember. Aufa yakin pasti itu mirip yang
di dalam tayangan TV bulan Desember, karena di bulan Desember pula, keluarga
Aufa mengirimkan sedikit cake untuk beberapa tetangga terdekatnya yang
merayakan natal. Kata ibu Aufa, sih, supaya tetangganya bisa merayakan
hari raya bersama keluarga sambil menikmati sajian yang spesial.
“Indah..” gumam Aufa.
“Yah… jadi jelek,” Gumam cewek itu
sedih, lalu menyodorkan tangkai yang satunya lagi, “kamu kukasih yang ini aja
ya, yang ini masih bagus kok. Namanya Dandelion, bunga kesukaanku. Ambil
ya, kupunya banyak di rumah,” jari-jarinya yang bulat bulat menggenggam batang
dandelion itu dengan erat sampai batang itu berpindah ke tangan Aufa.
“Aku yang jelek juga gapapa kok,”
jawab Aufa sambil beranjak naik ke atas becak, “mau tuker lagi? Katanya kamu
suka?”
“Gapapa,
yang masih rimbun buat kamu. Aku mau tunjukin sesuatu, hehehe, sekarang masih
rahasia! Iya kan, pak Tarman?” Lala meminta dukungan pada Pak Tarman, Aufa
kagum bahwa cewek itu bisa meyebutkan nama pak Tarman tanpa cela, benarkah Lala
seumuran dengan Aufa? Jangan-jangan dia sudah 6 tahun! Lebih tua setahun dari
Aufa? Berbagai spekulasi tumbuh dalam pikiran Aufa muda.
“Iya,
rahasia, mas Aufa! Saya juga daritadi nggak dikasih tau maksud mbak Lala.”
Jawab pak Tarman memihak kepada Lala.
“Oh iya,
kenalin, namaku Lala,” Lala menyalami tangan Aufa secara spontan, “dan mungkin
ada baiknya kalau kamu cium tangan orang tuamu dulu sebelum berangkat, iya kan,
tante?” Lala mendongak dan tersenyum ke arah ibu Aufa. Ibu Aufa Nampak
terkejut, mamun dengan cepat tersenyum lebar dan mengangguk.
“wah iya!
Tapi aku titip bunganya dulu ya, nanti gundul lagi kalo kubawa lari! Namaku
Aufa!” Lala mengangguk dan menjaga bunga itu baik-baik sampai Aufa selesai
mencium tangan kedua orang tuanya dan kembali naik ke atas becak.
“Assalamualaikum!!”
Aufa dan Lala berseru serentak ke kedua orang tua Aufa, Pak Tarman pun
melambaikan tangan dengan hormat.
“waalaikum’salam”
Ayah Aufa menggerakkan tangan kanan mungil Nisa dengan penuh semangat.
“da dah!”
Nisa ikut mengucapkan selamat jalan kepada kakaknya.
Sepanjang
perjalanan, Aufa masih terus berusaha untuk menghalang tiupan angin supaya
bunga randa tapak dalam genggamannya tidak buyar.
“Aufa, kamu lihat lapangan bola di
depan itu?” Lala menunjuk ke lahan luas di kanan dan kiri jalan. Keduanya
dipenuhi rumput liar yang diatasnya hanya ada dua gawang sederhana dari kayu,
Aufa mengangguk, “kamu boleh membiarkan dandelion itu ditiup angin, asal
arahkan ke arah lapangan itu. Kamu yang kiri, aku yang kanan ya!” Seru Lala.
“Kenapa harus di lapangan?” Tanya
Aufa terheran, lapangan itu kini jaraknya hanya satu rumah.
“Nanti dulu,” pak Tarman dengan
semangat mengayuh becak hingga lapangan itu pun sudah di sisi kanan dan kiri
mereka, ”Nah, sekarang biarkan anginnya meniup bungamu!” Lala menjulurkan
bunganya ke kanan, angin meniup bunga randa tapak Lala. Untuk sepersekian
detik, Aufa merasakan ada yang menenangkan dari apa yang sedang ia saksikan. Helaian
randa tapak itu berhamburan ke arah lapangan, beberapa diantaranya meluncur
melewati rambut Lala yang berkobar lembut. Beberapa diantaranya tenggelam dalam
rerumputan lapangan. Aufa menoleh ke arah kiri dan menjulurkan bunganya ke luar
becak. Anginnya sejuk, helaian-helaian bunga Aufa beterbangan dengan santai ke
arah lapangan. Aufa kembali menoleh ke kanan, Lala sedang mengamatinya, tersenyum
lebar, “Asyik, kan?” Lala tertawa dengan menempelkan telapak tangan ke
hidungnya yang lancip, Aufa juga sering melihat ibunya tertawa sambil menutup
mulutnya. Tetapi cewek ini menutupi hidungnya. Aufa sempat melihat dua
gigi Lala yang rupanya tengah tanggal. Lucu.
“sekarang beri tahu dong, katanya
suka, kok malah dibiarkan rontok?” Aufa menyadari ada bunga yang tersangkut di
bandana Lala, tapi ia takut dimarahi, persis seperti kejadian beberapa hari
yang lalu; mbak Gina,sepupunya, marah besar karena Aufa mencoba mengambil bulu
ayam yang tersangkut di kepangan rambutnya.
“Kata ibuku, dandelion kecil
yang beterbangan itu bisa menemukan tempat tumbuhnya yang baru. Walaupun
“badan” mereka,” Lala menunjuk induk tangkai randa tapak Aufa yang sudah
gundul, “terlihat kosong, paling tidak ‘anak-anaknya’ bisa bermekaran di tempat
lain. Mereka diingat oleh alam yang mereka pijak, membantu ‘anak-anak’ itu
tumbuh menjadi dandelion baru yang utuh dan cantik,” Aufa berusaha keras
untuk memahami kata-kata Lala saat itu, tapi ia berusaha mendengarkan, Lala
terus bercerita, “makanya walaupun suka, aku mau menebar mereka dimana-mana,
supaya mereka tumbuh di banyak tempat dan aku bisa lihat dandelion di
sepanjang jalan!” Aufa ikut senang dan mendukung rencana gadis kecil itu, “sekarang
aku juga ketemu orang baru, kamu, Aufa… Kamu mau, kan, inget aku? Inget aku
sebagaimana bumi mengingat dandelion yang datang menyapanya.” Lala
menepuk lembut bahu kanan Aufa sambil sedikit memirigkan kepalanya, meminta
persetujuan.
Aufa mengerjap, perkenalan yang
sangat panjang. Tentu saja ia sudah mengingatnya, Lala si pengagum randa tapak,
atau dandelion kalau Lala bilang.
“Eh? Iyadeh,” Aufa berusaha sok cuek,
“tapi kamu juga harus ingat aku ya!”
Aufa
menepati janjinya, begitu pula Lala. Namun, memang bunga yang ingin dipetik
terlebih dahulu adalah bunga terindah. Saat Aufa menyadarinya, bangku becak di
sebelah Aufa selalu kosong selama beberapa hari terakhir. “Mbak Lala izin, mas,
katanya sakit.” Jawab pak Tarman setiap kali Aufa menanyakan kabar teman
perempuan pertamanya itu.
“Sakit apa, pak? Tolong anterin aku
ke rumahnya.. ya? Ini masih kepagian kalo langsung ke sekolah..” Rengek Aufa
setelah hampir seminggu mendengar kabar yang sama. Pak Tarman menyerah dan
mengantar Aufa ke rumah Lala. Untuk pertama kalinya, Aufa melihat rumah Lala
yang megah itu. Tingkat dua, gaya rumah Belanda. Warna temboknya abu-abu pucat
kebiruan, jendelanya besar-besar. Hal yang paling menarik perhatiannya adalah
deretan dandelion di sepanjang tembok depan, terlihat beberapa di dekat
jendela. Bunga itu melambai lemah, tidak ada yang beterbangan bebas. Perhatian
Aufa teralihkan setelah seseorang membuka pintu depan rumah itu dan menyapanya,
“Aufa!” Ternyata Lala. Di bawah matanya terdapat cekungan cukup dalam berwarna
gelap dan itu membuat Aufa sedikit sulit mengenali temannya itu. Kulit Lala
jadi lebih putih dari biasanya, Aufa berpikir mungkin karena sudah lama Lala
tidak bermain di lapangan sekolah. Tangan Lala… tulang tangan yang sebelumnya
bulat gemuk dan memberikan setangkai dandelion hari ini terlihat sangat
menonjol.
“Lala! Kamu sakit apa?” Aufa
bergegas turun dari becak, berlari memasuki pagar dan mendekati pintu masuk,
lalu berhenti di dekat salah satu tanaman randa tapak di dekat pintu, “boleh ku
ambil? Sepertinya kamu butuh dandelion supaya cepet sembuh!” Aufa
buru-buru memetik dua batang. Satunya untuk dia bawa ke sekolah.
“enggak tau, padahal aku
ngerasa segar. Tapi mama terus bilang kalau aku nggak boleh masuk
sekolah.” Jawab Lala dengan nada kesal, namun suaranya lebih lemah dari
biasanya.
Saat itu, seorang wanita cantik
datang merangkul lembut bahu Lala, wanita itu tersenyum melihat Aufa, “ini Aufa
ya, sayang? Aufa yang sering kamu ceritakan ke mama,kan?” Tanya wanita itu
lembut kepada Lala.
“Eh mama…” Lala berharap mamanya
tidak mendengar perkataannya yang sebelumnya, “iya ma, ini Aufa, anaknya baik
banget! Lihat, aku dikasih dandelion hihihi!” Jawab Lala ceria, tapi
Aufa justru merasa sedih karena cekungan di mata Lala menjadi lebih dalam saat
dia tertawa.
“Aufa, tante,” Aufa berjalan menuju
mama Lala untuk mencium tangan tanda hormat, Lala sedikit berjalan mundur saat
Aufa mencium tangan mamanya.
“Aufa, jangan lama-lama di sini,
kita main di tempat lain aja ya kalau aku sudah sembuh. Kalau lama di sini
nanti kamu ketularan aku, loh… kamu harus selalu sehat!” Seru Lala yang kini
sudah berada sedikit lebih jauh di dalam rumah.
“Eh, janji? Aku tungguin kalo gitu!”
Jawab Aufa penuh semangat, matanya berbinar.
“Aufa doakan Lala sembuh ya, nak, sekarang
berangkatlah sekolah, sebentar lagi pukul Sembilan.” Jawab mama Lala sambil
mengusap rambut Aufa.
“Ohiya sudah siang! Gawat!” Aufa
buru-buru mencium tangan mama Lala lagi dan berlari ke becak, Pak Tarman sedari
tadi mengamati dari atas kursi sepeda becak, siap mengantar Aufa, “Lala!
Temen-temen juga mau cepet-cepet ketemu kamu! Cepet main sama kami lagi, ya!
Berangkat dulu!” Aufa terus berteriak semangat, “Assalamualaikum!” Aufa
melambaikan tangan dengan semangat, Lala juga tersenyum sumringah dari
balik jeruji pagar, tangannya melambai lemah. Mama Lala juga ikut melambaikan
tangan, tapi ada yang aneh.
Ada air mata menetes dari mata mama
Lala.
Oktober 2017
Smartphone pemuda itu bergetar, membuyarkan
kilas balik yang menyita sedikit waktunya. Terdapat pesan masuk dari teman satu
timnya yang berbunyi, “Aufa, kami mau cari data statistik pertanian dulu.
Mungkin agak lama, titip petanya ya!”
Aufa membalas sekenanya lalu kembali
mengantongi ponsel itu. Tanpa sadar, dia menghembuskan nafas panjang, “iya juga,
mana ada foto Lala di lemari ini. Siapa juga yang mau nyimpen foto
pemilik lama dari rumah yang baru kamu beli? Apalagi dia sudah tiada…” gumam
Aufa lemah.
Lala
meninggal beberapa hari setelah kunjungan Aufa. Kunjungan itu menjadi kali
terakhir Aufa melihat Lala. Gadis kecil itu akhirnya ‘ditiup’ oleh Leukimia
untuk menghadap Tuhan. Setelah Lala pergi, keluarganya menjual rumah itu.
Sebelum akhirnya jatuh di tangan bosnya pak Djatmiko, rumah itu kemudian dibeli
oleh saudara jauh Lala, untuk kemudian dijual lagi setelah ada anggota keluarga
yang sakit berat pula. Aufa juga dengan berat hati meninggalkan kota Blitar
bersama keluarganya pindah ke Surabaya. Aufa menjalankan kehidupannya dengan
tetap mengingat temannya yang pecinta dandelion itu. Saat dosen jurusan
Planologi-nya mengarahkan Aufa dan tim untuk meneliti Kecamatan Kademangan,
Aufa merasa terlalu girang saat survei mencari tempat tinggal. Bahwa rumah lama
tempat Lala tinggal kini di sewakan, tanpa renovasi besar-besaran yang merubah
struktur bangunan dan gaya arsitekturnya. Tanpa perubahan pada deretan bunga dandelion-nya.
Aufa tanpa
ragu memilih rumah itu, karena rumahnya di Blitar kini sudah beralih fungsi
menjadi ruko. Selain itu Aufa juga ingin menepati janjinya. Bahwa temannya itu
sudah seperti dandelion, walaupun kini raganya kosong, paling tidak
gadis manis itu sudah tertanam di ingatan Aufa, keluarganya, dan teman-temannya.
Surabaya, 6 Maret 2018
Bearhug untuk (alm) teman masa kecilku
No comments:
Post a Comment