Siang itu, ketika ada orang dari provinsi yang meminta
bapak menuliskan impian untuk ternak sapinya di kemudian hari, bapak meminta
bantuan Mas Rafif---satu-satunya peternak lulusan SMA di desaku---untuk
menuliskan jawabannya di selembar kertas. Jawabannya mantab:
“Bisa
menjual banyak sapi dengan harga yang tinggi.”
Hari-hari
berikutnya, kondisi kami masih sama. Di atas meja makan kami selalu diisi
dengan lauk yang itu-itu saja: Sayur lodeh, brengkes, atau tumis manisah. Masakan
ibu enak, tapi mana sapinya? Kalau keluarga kami saja tidak pernah beli
daging sapi, apa bisa peternak seperti bapak menjual banyak sapi? Apalagi
dengan harga tinggi, siapa yang beli? pikirku.
Ketika tiba hari menjual Momon---satu-satunya
sapi potong milik bapak---di pasar hewan di kota, aku meyakinkan orang tuaku
bahwa aku harus ikut, meskipun itu hari Jumat. Ibuku langsung mengiyakan, bapak
yang awalnya tidak setuju pun akhirnya luluh ketika aku berkata bahwa handphone-ku
harus segera dilunasi agar aku dapat bersekolah daring tanpa terpikirkan utang.
Bapakku lalu membuat skenario agar aku tecatat sebagai “izin” dan bukan “membolos”
pada absen pertamaku semester itu.
“Pak,
kira-kira Momon bakal laku berapa ya? Apa lebih banyak dari biasanya?” Tanyaku dalam
pick-up sewaan kami di perjalanan menuju pasar hewan.
“Semoga
ya le[1].
Ingat tamu dari provinsi bulan lalu itu?” Mereka lah alasan aku membuka
percakapan ini, batinku. Bapak melanjutkan ceritanya, “Mereka mengajak bapak
bertemu kelompok ternak di kota. Para peternak di sana memberi campuran jerami,
dedak, dan ampas tahu pada sapi mereka, hasilnya gemuk-gemuk. Bapak praktekkan
ke Momon, eh, beratnya naik jauh. Sekarang, coba bantu bapak berhitung. Harga
sapi kita itu Rp 48,000 per kilogram berat hidup. Tahun lalu, si Malika sapi
bapak dulu itu beratnya 415 kg persis. Berarti… berapa itu?” Tanya bapak.
“Malika
harganya ... ” Aku yang ketika itu baru naik kelas 5 SD pun memutuskan untuk
meminta bantuan kalkulator di ponsel untuk memastikan hasil hitungan, “ ... sembilan belas juta sembilan ratus dua puluh ribu, pak.”
“Lho?
Kok tahun lalu bapak cuma dapat sembilan belas setengah ya… Waduh, salah hitung dong,” bapak
menarik nafas panjang dan melanjutkan, “Nanti bantu bapak memastikan harga jual
Momon, ok? Sekarang balik lagi, karena pakan-nya manjur, Momon itu
beratnya empat ratus sembilan puluh kg sekarang. Coba, misal harga per-kilo-nya sama, Momon bisa kita
jual berapa?” Tanya bapak lagi.
“Wah,
bisa dua puluh tiga juta lima ratus dua puluh, pak! Banyak ya?” Kataku bersemangat.
“Nah,
tapi, tidak semua kita bawa pulang dalam bentuk duit, Bagas. Kita harus beli
bakalan sapi baru untuk dijual tahun depan. Momon itu bakalannya lima belas juta lho.
Tapi ya, tetap saja, untung kita lebih banyak dari tahun lalu. Handphone-mu
bisa langsung lunas.” Kata bapak.
“Anu,
pak, selama ini bapak kan jual sapi, tapi, memangnya bapak tahu sapi-sapi itu
dibeli untuk dimasak jadi apa saja?” Tanyaku.
“Hm?
Ya jadi rawon atau bakso le. Mungkin jadi sate kalau kurban.” Jawab
bapak.
“Bapak
pernah coba steak? Ini internet bilang di kota ada tempat jual steak.
Nanti kalau ada uang lebih setelah melunasi handphone, kita makan disana
ya?” Tanyaku penuh harap. Bapak mengernyitkan dahinya.
“Panganan
opo kuwi le?”[2]
***
Tinggal
di tengah hutan yang jauh dari pusat kegiatan kabupaten semasa hidupnya,
pendidikan bapak terhenti di kelas dua SD. Kata bapak, saat ia masuk usia
sekolah, sekolah dasar paling dekat jaraknya 5 km dari kampunngya. Kaki bapak semasa kecil selalu benjut dipukuli kakekku yang pemabuk, bapak tidak sanggup untuk
berjalan kaki ke sekolah setiap hari. Maka Bapak mempersiapkan diri. Begitu ia berhasil mengumpulkan kekuatan, bapak kabur dari
rumah, melupakan sekolah dan memilih jadi magersari di tanah orang. Positifnya,
kini bapak sedikit banyak bisa beternak dan sangat mengenal area hutan di
kabupaten kami. Berkat kegigihannya, bapak juga mendapatkan ibuku, putri sulung
Mantri Tapak kampung kami.
Ibuku sempat melanjutkan sekolah hingga tamat SMP sebelum akhirnya menikah dengan bapak. Ibu bisa menulis, tulisannya bagus, aku juga suka puisi buatan ibu. Ibu yang selalu bersemangat mendampingiku belajar Bahasa Indonesia. Di luar itu, aku harus meminta bantuan wali kelasku untuk memahami pelajaran sekolah lainnya. Meskipun begitu, bahasa Inggris tetap berada di luar kemampuan mereka. Segalanya terasa serba terbatas, banyak sekali pertanyaanku yang belum bisa terjawab oleh kami semua.
Ketika
ada tamu dari provinsi untuk bertanya-tanya mengenai kondisi ternak bapak dan
peternak lain di kampung, aku membayangkan apakah orang-orang seperti mereka
bisa bahasa Inggris?
“Wah
lagi ngerjakan PR, le?” Tanya salah satu pemuda dari provinsi itu ketika
melihatku berusaha mencerna perbedaan penggunaan “my” dan “mine”
dalam pekerjaan rumahku.
“Iya eh mas. Mas
bisa bantu?” Tanyaku yang segera ia sambut dengan antusias. PR itu selesai
secepat kilat.
“Jago juga Bahasa Inggris. What’s your name?”[3] Tanyanya.
Mendengar
pertanyaan yang tidak asing dalam Bahasa Inggris, aku menjawab:
“Thank
you, My name is Bagas, and you?”[4]
“Ï’m Radifan. Nice to meet you, Bagas.”[5]
Jawabnya.
Mudah juga mengobrol dengan bahasa Inggris, pikirku. tetapi Mas Radifan masih melanjutkan,
“Hey,
I heard that your dad owns a cattle. Do you want to watch a video about steaks?”[6]
Tanya Mas Radifan dengan semangat.
Belum
sempat aku memahami apa yang ia katakan, sejurus kemudian Mas Radifan mengeluarkan ponsel pintar-nya dan menunjukkan sebuah video seseorang memasak daging sapi. Video itu ber-Bahasa Inggris dan dilengkapi
dengan takarir Bahasa Indonesia. Alih-alih mempelajari bahasanya, fokusku
teralihkan pada pesona daging-daging tersebut. Bagaimana bisa seseorang memakan
daging sebesar itu? Warnanya juga masih merah dan ada cairan yang menetes ketika dimakan. Apa enaknya? Aku lihat orang dalam video itu memakan semua
daging yang dimasak tanpa nasi, apalagi bumbunya hanya taburan garam dan
merica. Aku semakin penasaran dan fokus pada video tersebut sambil sesekali
meminta Mas Radifan untuk mengulangi bagian yang tidak sempat kubaca
takarir-nya.
Ada
sebuah daging yang dimakan dalam kondisi nyaris mentah, orang dalam video itu
menyebutnya “rare A5 Wagyu Steak”. Mas Radifan memberitahu:
“Itu namanya daging Wagyu. Sudah banyak ditemui di Indonesia, tapi katanya yang asli jauh lebih enak.”
"Lah kalau banyak ditemui di Indonesia kenapa mas di video itu bilangnya rare? Bukannya rare itu artinya langka?" Tanyaku
"Rare artinya benar langka, tapi kalo di steak, itu sebuah istilah. Artinya tingkat kematangan yang rendah, meh mentah ngono le. Di atas rare ada medium rare, disusul medium, medium-well, dan well-done. Sesuai selera. Tapi banyak orang bilang paling enak dan aman ya medium." Jelasnya dengan antusias.
Ketika
aku bertanya bagaimana rasa aslinya, ia menjawab:
“Semoga
kita bisa segera sama-sama tahu. Aku juga belum mencobanya, sebab, potongan
wagyu dari Sapi Hitam Jepang bagian Tenderloin seberat 250gr harganya bisa
sampai satu juta rupiah.” Jelasnya.
***
Aku dan bapak saling pandang setelah melihat buku menu
di restoran steak itu. Harga paling mahal adalah 170 g Tenderloin seharga
Rp 85.000 dan 170 g Sirloin seharga Rp 80.000. Bapak menelan ludah kemudian berkata
padaku:
“Jauh lebih murah dari yang dibilang si Radifan itu ya ternyata.”
“Ini sapi Australia, pak, berbeda dengan daging yang kuceritakan
tadi.” Kataku setelah mempelajari buku menu-nya.
“Kamu kepingin banget?” Tanya bapak.
“Bapak tidak kepingin?” Aku balik bertanya.
Setelah menghitung sisa uang setelah membayar semua utang
kami, bapak mengizinkanku memesan seporsi Sirloin dan,
“ ... Kalau tenderloin itu seperti apa ya? Apa dicoba tambah satu Tenderloin, le, bilang
dibungkus supaya ibumu juga dapat.”
Datanglah sepotong daging lebar, tebal, dan mengilap
di hadapan kami. Sangat cantik, lengkap dengan saus kecoklatan, sedikit wortel, kacang panjang, dan kentang. Sebelum melahap daging itu, aku melirik ke arah parkiran melalui
jendela besar yang ada di restoran itu, melihat Mada---sapi baru kami---dengan
rasa bersalah sekaligus kagum. Merasa bersalah, karena sapi potong hidup itu harus
menyaksikan kami memakan sepotong steak. Kagum, karena ternyata sapi itu
bisa menghasilkan sepotong keindahan yang luar biasa harum dan menggugah selera.
Aku
dan bapak melumat pelan-pelan daging besar yang lembut itu dalam diam. Pikiranku
berkecamuk. Ini adalah daging pertamaku dalam tiga bulan ini sejak Idul Adha, sekaligus
daging terempuk dan ternikmat yang pernah kumakan. Aku ingin bertanya kepada
bapak, kenapa di meja makan kami jarang sekali ada olahan daging? Namun, aku urung
menanyakan hal tersebut setelah melihat air muka bapak. Aku juga ingin bapak
bisa nikmati setiap kunyahan daging itu. Kami terlena hingga makan tanpa memesan
minuman. Bahkan di jalan pulang pun, tidak rela rasanya membasuh rasa daging
itu dengan air kemasan botol yang disiapkan bapak di pick-up hingga
terasa benar-benar kering.
Kami sampai di rumah hanya untuk disambut oleh rumah kosong.
Ibuku meninggalkan sepucuk surat kepada kami, meminta maaf karena ingin minggat
dari kemelaratan dan kesepian. “Fokus saja kepada sapimu itu.” adalah pesan terakhir
ibu kepada bapak. Malam itu, kami berdua makan malam dengan sepotong Tenderloin
dingin. Rasa daging itu semakin asin karena aku tidak bisa berhenti menangis.
Bapak memelukku dan berkata,
“Anak laki-laki boleh menangis, tapi jangan lama-lama.
Besok kamu ikut bapak cari pakan untuk Mada.” Perkataan bapak disambut dengan
lengguhan Mada.
Sejak saat itu aku tidak pernah melihat ibuku lagi. Ada kabar burung yang menyatakan
bahwa ibu menikah lagi dengan mandor dan pindah ke luar pulau. Bapakku seakan
menikah dengan sapi-sapinya, semakin serius setelah lebih lancar membaca dan
menulis. Bapak melepasku untuk menempuh pendidikan di sekolah tinggi pariwisata
setelah menandatangani kerjasama untuk menternakkan puluhan ekor sapi premium.
“Setelah lulus nanti, kupastikan aku bisa memasak sapi-sapi bapak menjadi
makanan terenak. Janji, pak, aku berangkat dulu.” Pamitku.
***
Laki-laki
berjaket putih dengan bordiran “Bagas-Head Chef[7]”
di dadanya itu sedang mencicipi sampel carpaccio[8]
sapi bumbu rujak ketika dihampiri seseorang dengan wajah penuh kekhawatiran.
“Maaf,
chef, kami butuh bantuan di luar .... ” Jelas orang itu, di dadanya
tersemat pin bertuliskan “Herdian-Waiter Captain[9].”
Bagas
melepas apronnya, kemudian keluar dari dapur untuk memeriksa apa yang sebenarnya
terjadi. Ia lalu mengambil alih pekerjaan pelayan muda yang kebingungan
berkomunikasi dengan salah satu tamunya.
“Bonjour
et bienvenue au restaurant Beef Localé. Vous êtes prête à commander, Madame?”[10]
Setelah
memproses pesanan tamu tadi, seorang laki-laki tua dengan sorotan mata berkilau
penuh semangat datang melalui pintu dapur. Laki-laki itu berkata kepada Bagas:
“Itu
dagingya sudah datang, le, langsung mau dicek atau gimana?”
Bagas
tersenyum lembut dan menjawab:
“Langsung
kita cicipi bersama saja, pak, biar anakmu ini yang memasak. Tenderloin?” *
[1] Singkatan dari
tole, panggilan orang tua kepada anak laki-laki di Jawa.
[2] “Makanan apa
itu, nak?”
[3] “Siapa namamu?”
[4] “Terima kasih.
Namaku Bagas, kalau mas?”
[5] “Aku Radifan.
Salam kenal, Bagas.”
[6] “Hey, bapak
kamu punya sapi potong ya? Mau nonton video tentang steik?”
[7] Kepala juru
masak suatu restoran.
[8] Carpaccio: hidangan pembuka
berbahan daging ikan atau sapi yang diiris tipis-tipis dan disajikan mentah
dengan saus yang sederhana.
[9] Ketua
sekelompok pramusaji.
[10] “Selamat siang
dan selamat datang di restoran Beef Localé. Apa anda siap memesan, bu?”