Monday, February 8, 2021

Sapi

 

Siang itu, ketika ada orang dari provinsi yang meminta bapak menuliskan impian untuk ternak sapinya di kemudian hari, bapak meminta bantuan Mas Rafif---satu-satunya peternak lulusan SMA di desaku---untuk menuliskan jawabannya di selembar kertas. Jawabannya mantab:

“Bisa menjual banyak sapi dengan harga yang tinggi.”

Hari-hari berikutnya, kondisi kami masih sama. Di atas meja makan kami selalu diisi dengan lauk yang itu-itu saja: Sayur lodeh, brengkes, atau tumis manisah. Masakan ibu enak, tapi mana sapinya? Kalau keluarga kami saja tidak pernah beli daging sapi, apa bisa peternak seperti bapak menjual banyak sapi? Apalagi dengan harga tinggi, siapa yang beli? pikirku.

            Ketika tiba hari menjual Momon---satu-satunya sapi potong milik bapak---di pasar hewan di kota, aku meyakinkan orang tuaku bahwa aku harus ikut, meskipun itu hari Jumat. Ibuku langsung mengiyakan, bapak yang awalnya tidak setuju pun akhirnya luluh ketika aku berkata bahwa handphone-ku harus segera dilunasi agar aku dapat bersekolah daring tanpa terpikirkan utang. Bapakku lalu membuat skenario agar aku tecatat sebagai “izin” dan bukan “membolos” pada absen pertamaku semester itu.

“Pak, kira-kira Momon bakal laku berapa ya? Apa lebih banyak dari biasanya?” Tanyaku dalam pick-up sewaan kami di perjalanan menuju pasar hewan.

“Semoga ya le[1]. Ingat tamu dari provinsi bulan lalu itu?” Mereka lah alasan aku membuka percakapan ini, batinku. Bapak melanjutkan ceritanya, “Mereka mengajak bapak bertemu kelompok ternak di kota. Para peternak di sana memberi campuran jerami, dedak, dan ampas tahu pada sapi mereka, hasilnya gemuk-gemuk. Bapak praktekkan ke Momon, eh, beratnya naik jauh. Sekarang, coba bantu bapak berhitung. Harga sapi kita itu Rp 48,000 per kilogram berat hidup. Tahun lalu, si Malika sapi bapak dulu itu beratnya 415 kg persis. Berarti… berapa itu?” Tanya bapak.

“Malika harganya ... ” Aku yang ketika itu baru naik kelas 5 SD pun memutuskan untuk meminta bantuan kalkulator di ponsel untuk memastikan hasil hitungan, “ ... sembilan belas juta sembilan ratus dua puluh ribu, pak.”

“Lho? Kok tahun lalu bapak cuma dapat sembilan belas setengah ya… Waduh, salah hitung dong,” bapak menarik nafas panjang dan melanjutkan, “Nanti bantu bapak memastikan harga jual Momon, ok? Sekarang balik lagi, karena pakan-nya manjur, Momon itu beratnya empat ratus sembilan puluh kg sekarang. Coba, misal harga per-kilo-nya sama, Momon bisa kita jual berapa?” Tanya bapak lagi.

“Wah, bisa dua puluh tiga juta lima ratus dua puluh, pak! Banyak ya?” Kataku bersemangat.

“Nah, tapi, tidak semua kita bawa pulang dalam bentuk duit, Bagas. Kita harus beli bakalan sapi baru untuk dijual tahun depan. Momon itu bakalannya lima belas juta lho. Tapi ya, tetap saja, untung kita lebih banyak dari tahun lalu. Handphone-mu bisa langsung lunas.” Kata bapak.

“Anu, pak, selama ini bapak kan jual sapi, tapi, memangnya bapak tahu sapi-sapi itu dibeli untuk dimasak jadi apa saja?” Tanyaku.

“Hm? Ya jadi rawon atau bakso le. Mungkin jadi sate kalau kurban.” Jawab bapak.

“Bapak pernah coba steak? Ini internet bilang di kota ada tempat jual steak. Nanti kalau ada uang lebih setelah melunasi handphone, kita makan disana ya?Tanyaku penuh harap. Bapak mengernyitkan dahinya.

Panganan opo kuwi le?”[2]

***

Tinggal di tengah hutan yang jauh dari pusat kegiatan kabupaten semasa hidupnya, pendidikan bapak terhenti di kelas dua SD. Kata bapak, saat ia masuk usia sekolah, sekolah dasar paling dekat jaraknya 5 km dari kampunngya. Kaki bapak semasa kecil selalu benjut dipukuli kakekku yang pemabuk, bapak tidak sanggup untuk berjalan kaki ke sekolah setiap hari. Maka Bapak mempersiapkan diri. Begitu ia berhasil mengumpulkan kekuatan, bapak kabur dari rumah, melupakan sekolah dan memilih jadi magersari di tanah orang. Positifnya, kini bapak sedikit banyak bisa beternak dan sangat mengenal area hutan di kabupaten kami. Berkat kegigihannya, bapak juga mendapatkan ibuku, putri sulung Mantri Tapak kampung kami.

Ibuku sempat melanjutkan sekolah hingga tamat SMP sebelum akhirnya menikah dengan bapak. Ibu bisa menulis, tulisannya bagus, aku juga suka puisi buatan ibu. Ibu yang selalu bersemangat mendampingiku belajar Bahasa Indonesia. Di luar itu, aku harus meminta bantuan wali kelasku untuk memahami pelajaran sekolah lainnya. Meskipun begitu, bahasa Inggris tetap berada di luar kemampuan mereka. Segalanya terasa serba terbatas, banyak sekali pertanyaanku yang belum bisa terjawab oleh kami semua.

Ketika ada tamu dari provinsi untuk bertanya-tanya mengenai kondisi ternak bapak dan peternak lain di kampung, aku membayangkan apakah orang-orang seperti mereka bisa bahasa Inggris?

“Wah lagi ngerjakan PR, le?” Tanya salah satu pemuda dari provinsi itu ketika melihatku berusaha mencerna perbedaan penggunaan “my” dan “mine” dalam pekerjaan rumahku.

“Iya eh mas. Mas bisa bantu?” Tanyaku yang segera ia sambut dengan antusias. PR itu selesai secepat kilat.

Jago juga Bahasa Inggris. What’s your name?[3] Tanyanya.

Mendengar pertanyaan yang tidak asing dalam Bahasa Inggris, aku menjawab: 

Thank you, My name is Bagas, and you?”[4]

“Ï’m Radifan. Nice to meet you, Bagas.”[5] Jawabnya. 

Mudah juga mengobrol dengan bahasa Inggris, pikirku. tetapi Mas Radifan masih melanjutkan, 

Hey, I heard that your dad owns a cattle. Do you want to watch a video about steaks?”[6] Tanya Mas Radifan dengan semangat.

Belum sempat aku memahami apa yang ia katakan, sejurus kemudian Mas Radifan mengeluarkan ponsel pintar-nya dan menunjukkan sebuah video seseorang memasak daging sapi. Video itu ber-Bahasa Inggris dan dilengkapi dengan takarir Bahasa Indonesia. Alih-alih mempelajari bahasanya, fokusku teralihkan pada pesona daging-daging tersebut. Bagaimana bisa seseorang memakan daging sebesar itu? Warnanya juga masih merah dan ada cairan yang menetes ketika dimakan. Apa enaknya? Aku lihat orang dalam video itu memakan semua daging yang dimasak tanpa nasi, apalagi bumbunya hanya taburan garam dan merica. Aku semakin penasaran dan fokus pada video tersebut sambil sesekali meminta Mas Radifan untuk mengulangi bagian yang tidak sempat kubaca takarir-nya.

Ada sebuah daging yang dimakan dalam kondisi nyaris mentah, orang dalam video itu menyebutnya “rare A5 Wagyu Steak”. Mas Radifan memberitahu:

“Itu namanya daging Wagyu. Sudah banyak ditemui di Indonesia, tapi katanya yang asli jauh lebih enak.” 

"Lah kalau banyak ditemui di Indonesia kenapa mas di video itu bilangnya rare? Bukannya rare itu artinya langka?" Tanyaku

"Rare artinya benar langka, tapi kalo di steak, itu sebuah istilah. Artinya tingkat kematangan yang rendah, meh mentah ngono le. Di atas rare ada medium rare, disusul medium, medium-well, dan well-done. Sesuai selera. Tapi banyak orang bilang paling enak dan aman ya medium." Jelasnya dengan antusias.

Ketika aku bertanya bagaimana rasa aslinya, ia menjawab:

“Semoga kita bisa segera sama-sama tahu. Aku juga belum mencobanya, sebab, potongan wagyu dari Sapi Hitam Jepang bagian Tenderloin seberat 250gr harganya bisa sampai satu juta rupiah.” Jelasnya.

***

Aku dan bapak saling pandang setelah melihat buku menu di restoran steak itu. Harga paling mahal adalah 170 g Tenderloin seharga Rp 85.000 dan 170 g Sirloin seharga Rp 80.000. Bapak menelan ludah kemudian berkata padaku:

“Jauh lebih murah dari yang dibilang si Radifan itu ya ternyata.”

“Ini sapi Australia, pak, berbeda dengan daging yang kuceritakan tadi.” Kataku setelah mempelajari buku menu-nya.

“Kamu kepingin banget?” Tanya bapak.

“Bapak tidak kepingin?” Aku balik bertanya.

Setelah menghitung sisa uang setelah membayar semua utang kami, bapak mengizinkanku memesan seporsi Sirloin dan,

“ ... Kalau tenderloin itu seperti apa ya? Apa dicoba tambah satu Tenderloin, le, bilang dibungkus supaya ibumu juga dapat.”

Datanglah sepotong daging lebar, tebal, dan mengilap di hadapan kami. Sangat cantik, lengkap dengan saus kecoklatan, sedikit wortel, kacang panjang, dan kentang. Sebelum melahap daging itu, aku melirik ke arah parkiran melalui jendela besar yang ada di restoran itu, melihat Mada---sapi baru kami---dengan rasa bersalah sekaligus kagum. Merasa bersalah, karena sapi potong hidup itu harus menyaksikan kami memakan sepotong steak. Kagum, karena ternyata sapi itu bisa menghasilkan sepotong keindahan yang luar biasa harum dan menggugah selera.

Aku dan bapak melumat pelan-pelan daging besar yang lembut itu dalam diam. Pikiranku berkecamuk. Ini adalah daging pertamaku dalam tiga bulan ini sejak Idul Adha, sekaligus daging terempuk dan ternikmat yang pernah kumakan. Aku ingin bertanya kepada bapak, kenapa di meja makan kami jarang sekali ada olahan daging? Namun, aku urung menanyakan hal tersebut setelah melihat air muka bapak. Aku juga ingin bapak bisa nikmati setiap kunyahan daging itu. Kami terlena hingga makan tanpa memesan minuman. Bahkan di jalan pulang pun, tidak rela rasanya membasuh rasa daging itu dengan air kemasan botol yang disiapkan bapak di pick-up hingga terasa benar-benar kering.

Kami sampai di rumah hanya untuk disambut oleh rumah kosong. Ibuku meninggalkan sepucuk surat kepada kami, meminta maaf karena ingin minggat dari kemelaratan dan kesepian. “Fokus saja kepada sapimu itu.” adalah pesan terakhir ibu kepada bapak. Malam itu, kami berdua makan malam dengan sepotong Tenderloin dingin. Rasa daging itu semakin asin karena aku tidak bisa berhenti menangis. Bapak memelukku dan berkata,

“Anak laki-laki boleh menangis, tapi jangan lama-lama. Besok kamu ikut bapak cari pakan untuk Mada.” Perkataan bapak disambut dengan lengguhan Mada.

Sejak saat itu aku tidak pernah melihat ibuku lagi. Ada kabar burung yang menyatakan bahwa ibu menikah lagi dengan mandor dan pindah ke luar pulau. Bapakku seakan menikah dengan sapi-sapinya, semakin serius setelah lebih lancar membaca dan menulis. Bapak melepasku untuk menempuh pendidikan di sekolah tinggi pariwisata setelah menandatangani kerjasama untuk menternakkan puluhan ekor sapi premium.

“Setelah lulus nanti, kupastikan aku bisa memasak sapi-sapi bapak menjadi makanan terenak. Janji, pak, aku berangkat dulu.” Pamitku.

***

            Laki-laki berjaket putih dengan bordiran “Bagas-Head Chef[7]” di dadanya itu sedang mencicipi sampel carpaccio[8] sapi bumbu rujak ketika dihampiri seseorang dengan wajah penuh kekhawatiran.

            “Maaf, chef, kami butuh bantuan di luar .... ” Jelas orang itu, di dadanya tersemat pin bertuliskan “Herdian-Waiter Captain[9].”

            Bagas melepas apronnya, kemudian keluar dari dapur untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi. Ia lalu mengambil alih pekerjaan pelayan muda yang kebingungan berkomunikasi dengan salah satu tamunya.

            Bonjour et bienvenue au restaurant Beef Localé. Vous êtes prête à commander, Madame?[10]

            Setelah memproses pesanan tamu tadi, seorang laki-laki tua dengan sorotan mata berkilau penuh semangat datang melalui pintu dapur. Laki-laki itu berkata kepada Bagas:

            “Itu dagingya sudah datang, le, langsung mau dicek atau gimana?”

            Bagas tersenyum lembut dan menjawab:

            “Langsung kita cicipi bersama saja, pak, biar anakmu ini yang memasak. Tenderloin?” *



[1] Singkatan dari tole, panggilan orang tua kepada anak laki-laki di Jawa.

[2] “Makanan apa itu, nak?”

[3] “Siapa namamu?”

[4] “Terima kasih. Namaku Bagas, kalau mas?”

[5] “Aku Radifan. Salam kenal, Bagas.”

[6] “Hey, bapak kamu punya sapi potong ya? Mau nonton video tentang steik?”

[7] Kepala juru masak suatu restoran.

[8] Carpaccio: hidangan pembuka berbahan daging ikan atau sapi yang diiris tipis-tipis dan disajikan mentah dengan saus yang sederhana.

[9] Ketua sekelompok pramusaji.

[10] “Selamat siang dan selamat datang di restoran Beef Localé. Apa anda siap memesan, bu?”

No comments:

Post a Comment