Monday, October 21, 2024

Pendar Legawa

Hari ini saya berjalan-jalan di area Tunjungan bersama seorang teman perempuan yang sosoknya kuhormati. Jalan-jalan yang membuatku kembali teringat akan keindahan kota ini: sebuah perpaduan harmonis antara serius dan santai, kekayaan lahir dan batin, kuliner yang beragam, dan antusiasme masyarakat untuk berkomunitas. Dimanapun sepasang kakiku berpijak di Surabaya, hatiku hangat dan penuh. Syukur dan puji kumunajadkan kepada Tuhan YME karena telah memberikan kesempatan untukku memulihkan diri dari patah hati di Kota Pahlawan.

              Apa yang seharusnya dilakukan seseorang ketika patah hati karena putus cinta? Aku melakukannya dengan berusaha untuk fokus ke hal-hal yang positif, mengalihkan energiku kepada hal-hal yang bersifat membangun dan menenangkan hati. Tapi apakah itu baik? Nyatanya sembilan bulan setelah selesai dengan dia, masih ada rasa getir dan kekecewaan yang tersisa dalam hati.

              Kenangan indah kami bersama, satu per satu digantikan oleh kenangan-kenangan indah serupa namun dengan pemeran yang berbeda. Kenangan baru yang membuatku menyadari bahwa satu-satunya hal yang membuat hubungan itu spesial adalah kasih sayangku kepadanya. Sisanya? Hanya memori yang bisa kembali kubuat ulang bersama orang-orang baru. Tidak harus laki-laki dengan status pacar atau gebetan. Belum ada laki-laki yang menduduki tempat Istimewa dalam hati ini. Semua memori serupa terulang lagi bersama kawan-kawan erat dan keluarga, membuatku kembali menanyakan arti cinta dan keintiman.

              Berulang bagaimana? Hubungan kami dimulai dengan berjalan-jalan mengelilingi Kota Jakarta, mengobrol santai dan hangat sambil menikmati keindahan pemandangan urban atau merasakan kesejukan mall-mall besar. Sudah berkali-kali memori tersebut digantikan dengan adegan serupa, namun aku ditemani oleh kawan-kawan, terkadang adik-adik dan orang tuaku. Kami resmi berpacaran di Kebun Binatang Ragunan, beberapa minggu setelah putus pun aku sudah kembali berjalan-jalan di Ragunan bersama kelompok kecil rekan-rekan akrab dari kantor Jakarta. Adegan membeli sepatu? Berulang dengan ayah, ibu, dan adik-adikku. Kota Malang? Dengan adik dan rekan. Pizza? Dengan kawan lama. Betapa ternyata, kehangatan yang kuterima darinya hanyalah kehangatan dalam permukaan dangkal yang bisa dengan mudah kudapatkan dari sumber-sumber lainnya.

Apakah mungkin semua laki-laki begitu? Mungkin bukan tempatnya untuk mencari cinta dari seseorang spesial. Kusadari belakangan ini bahwa cinta yang seperti itu tidak membawa ketenangan jiwa. Mungkin cinta itu datangnya dari pikiranku sendiri. Waktunya kufokuskan saja pikiran ini kepada kasih sayang yang bisa kuberikan dan kurasakan dari orang-orang terdekat.

              Bukan, kasih sayang yang kumaksud bukanlah sekebun bunga, bukan kata-kata romantis yang mendayu, bukan gombalan-gombalan palsu. Kasih sayang ini berupa pendapat yang didengar dan dihargai, ruang aman untuk tumbuh dan berkreasi, atau upaya nyata menyamai energi yang kukerahkan untuk merawat suatu hubungan silaturahmi. Kasih sayang yang didasari keyakinan dan kuat mengakar dari itikad baik. Kasih sayang yang terbukti dari selarasnya sikap dengan lisan.

Tidak boleh lagi aku mengizinkan sikap dimana aku harus meminta supaya bisa diperlakukan dengan sebagaimana mestinya. Percaya aku kepada ucapan ketidakmampuan seseorang untuk mencintaiku sebesar apa yang bisa kuberikan kepada mereka dan kulepaskan semua hubungan yang seperti itu. Jika mereka tidak bisa menghargai kehadiranku, maka tidak pusing-pusing aku memikirkan cara untuk kembali mewarnai kehidupan mereka. Tidak lagi kukerahkan ilmu, waktu, dan hatiku untuk menjelaskan suatu konsep kehidupan kepada seseorang yang mengomentari kondisi fisik yang tidak bisa kukendalikan_kondisi psikomatis_yang muncul akibat dalamnya pikiran dan beratnya upayaku untuk memperbaiki hubungan kami. Menjauh sudah aku dari hubungan dimana rasanya hanya aku sendiri yang menginginkan hubungan tersebut untuk terus berjalan, apalagi dari orang yang tertawa akan kepergianku dari hubungan kami. Tidak lagi hatiku bergetar dari pertanda-pertanda abu-abu, sudah kurasakan lampu hijau di sebuah jalan yang ternyata menuju ke jurang yang curam.

Semuanya tetap kubiarkan lalu dengan penuh rasa syukur. Bagaimanapun, sepertinya perjalanan tersebut memang harus kulalui agar menjadi diriku yang sekarang ini. Tidak akan aku biarkan rasa sakit itu menghentikanku mencintai seseorang baru. Seseorang yang bisa kurasakan ketulusan kasihnya kepadaku. Seseorang yang terbukti berjuang bersamaku untuk senantiasa memelihara hubungan kami. Seseorang yang memilihku melalui jalan Illahi untuk menjadi kawan pengarungan dunia akhiratnya.

Jadi, kurasa jawabannya adalah baik. Aku akan tetap berfokus kepada hal-hal positif yang bersifat membangun. Rasa getir dan kecewa adalah hal yang wajar untuk dirasakan. Masalah waktu, kuserahkan kepada Sang Pemilik. Tugasku adalah menjaga harga diri, memfokuskan energi untuk mengembangkan nilai hidup, dan mengikhlaskan bahwa memang betul apa yang kucari tidak ada pada aku dan dia. Bahwa betul aku dan dia hanya bagian dari masa lalu yang membuatku bertumbuh menjadi diri yang sekarang. Masa lalu yang dijadikan pelajaran dan tidak untuk diulang. Tetap kuyakinkan diri bahwa niat baik pasti membawa hasil yang baik pula. Reda dan redamnya duka kunikmati dengan legawa. Dibalik mendung yang berlalu, dalam terang dan hangatnya lembaran baru, kulatih akalku untuk senantiasa membina renjana. 

No comments:

Post a Comment