Hari ini saya berjalan-jalan di area Tunjungan bersama seorang teman perempuan yang sosoknya kuhormati. Jalan-jalan yang membuatku kembali teringat akan keindahan kota ini: sebuah perpaduan harmonis antara serius dan santai, kekayaan lahir dan batin, kuliner yang beragam, dan antusiasme masyarakat untuk berkomunitas. Dimanapun sepasang kakiku berpijak di Surabaya, hatiku hangat dan penuh. Syukur dan puji kumunajadkan kepada Tuhan YME karena telah memberikan kesempatan untukku memulihkan diri dari patah hati di Kota Pahlawan.
Apa
yang seharusnya dilakukan seseorang ketika patah hati karena putus cinta? Aku
melakukannya dengan berusaha untuk fokus ke hal-hal yang positif, mengalihkan
energiku kepada hal-hal yang bersifat membangun dan menenangkan hati. Tapi
apakah itu baik? Nyatanya sembilan bulan setelah selesai dengan dia, masih ada
rasa getir dan kekecewaan yang tersisa dalam hati.
Kenangan
indah kami bersama, satu per satu digantikan oleh kenangan-kenangan indah
serupa namun dengan pemeran yang berbeda. Kenangan baru yang membuatku
menyadari bahwa satu-satunya hal yang membuat hubungan itu spesial adalah kasih
sayangku kepadanya. Sisanya? Hanya memori yang bisa kembali kubuat ulang
bersama orang-orang baru. Tidak harus laki-laki dengan status pacar atau
gebetan. Belum ada laki-laki yang menduduki tempat Istimewa dalam hati ini.
Semua memori serupa terulang lagi bersama kawan-kawan erat dan keluarga,
membuatku kembali menanyakan arti cinta dan keintiman.
Berulang
bagaimana? Hubungan kami dimulai dengan berjalan-jalan mengelilingi Kota
Jakarta, mengobrol santai dan hangat sambil menikmati keindahan pemandangan
urban atau merasakan kesejukan mall-mall besar. Sudah berkali-kali memori
tersebut digantikan dengan adegan serupa, namun aku ditemani oleh kawan-kawan,
terkadang adik-adik dan orang tuaku. Kami resmi berpacaran di Kebun Binatang
Ragunan, beberapa minggu setelah putus pun aku sudah kembali berjalan-jalan di
Ragunan bersama kelompok kecil rekan-rekan akrab dari kantor Jakarta. Adegan
membeli sepatu? Berulang dengan ayah, ibu, dan adik-adikku. Kota Malang? Dengan
adik dan rekan. Pizza? Dengan kawan lama. Betapa ternyata, kehangatan yang
kuterima darinya hanyalah kehangatan dalam permukaan dangkal yang bisa dengan
mudah kudapatkan dari sumber-sumber lainnya.
Apakah mungkin
semua laki-laki begitu? Mungkin bukan tempatnya untuk mencari cinta dari seseorang
spesial. Kusadari belakangan ini bahwa cinta yang seperti itu tidak membawa
ketenangan jiwa. Mungkin cinta itu datangnya dari pikiranku sendiri. Waktunya kufokuskan
saja pikiran ini kepada kasih sayang yang bisa kuberikan dan kurasakan dari
orang-orang terdekat.
Bukan,
kasih sayang yang kumaksud bukanlah sekebun bunga, bukan kata-kata romantis
yang mendayu, bukan gombalan-gombalan palsu. Kasih sayang ini berupa pendapat
yang didengar dan dihargai, ruang aman untuk tumbuh dan berkreasi, atau upaya
nyata menyamai energi yang kukerahkan untuk merawat suatu hubungan silaturahmi.
Kasih sayang yang didasari keyakinan dan kuat mengakar dari itikad baik. Kasih
sayang yang terbukti dari selarasnya sikap dengan lisan.
Tidak
boleh lagi aku mengizinkan sikap dimana aku harus meminta supaya bisa
diperlakukan dengan sebagaimana mestinya. Percaya aku kepada ucapan
ketidakmampuan seseorang untuk mencintaiku sebesar apa yang bisa kuberikan
kepada mereka dan kulepaskan semua hubungan yang seperti itu. Jika mereka tidak
bisa menghargai kehadiranku, maka tidak pusing-pusing aku memikirkan cara untuk
kembali mewarnai kehidupan mereka. Tidak lagi kukerahkan ilmu, waktu, dan
hatiku untuk menjelaskan suatu konsep kehidupan kepada seseorang yang
mengomentari kondisi fisik yang tidak bisa kukendalikan_kondisi psikomatis_yang
muncul akibat dalamnya pikiran dan beratnya upayaku untuk memperbaiki hubungan
kami. Menjauh sudah aku dari hubungan dimana rasanya hanya aku sendiri yang
menginginkan hubungan tersebut untuk terus berjalan, apalagi dari orang yang tertawa akan kepergianku dari hubungan kami. Tidak lagi hatiku bergetar
dari pertanda-pertanda abu-abu, sudah kurasakan lampu hijau di sebuah jalan
yang ternyata menuju ke jurang yang curam.
Semuanya
tetap kubiarkan lalu dengan penuh rasa syukur. Bagaimanapun, sepertinya
perjalanan tersebut memang harus kulalui agar menjadi diriku yang sekarang ini.
Tidak akan aku biarkan rasa sakit itu menghentikanku mencintai seseorang baru.
Seseorang yang bisa kurasakan ketulusan kasihnya kepadaku. Seseorang yang
terbukti berjuang bersamaku untuk senantiasa memelihara hubungan kami.
Seseorang yang memilihku melalui jalan Illahi untuk menjadi kawan pengarungan dunia
akhiratnya.
Jadi, kurasa jawabannya adalah baik. Aku akan tetap berfokus kepada hal-hal positif yang bersifat membangun. Rasa getir dan kecewa adalah hal yang wajar untuk dirasakan. Masalah waktu, kuserahkan kepada Sang Pemilik. Tugasku adalah menjaga harga diri, memfokuskan energi untuk mengembangkan nilai hidup, dan mengikhlaskan bahwa memang betul apa yang kucari tidak ada pada aku dan dia. Bahwa betul aku dan dia hanya bagian dari masa lalu yang membuatku bertumbuh menjadi diri yang sekarang. Masa lalu yang dijadikan pelajaran dan tidak untuk diulang. Tetap kuyakinkan diri bahwa niat baik pasti membawa hasil yang baik pula. Reda dan redamnya duka kunikmati dengan legawa. Dibalik mendung yang berlalu, dalam terang dan hangatnya lembaran baru, kulatih akalku untuk senantiasa membina renjana.