Wednesday, May 2, 2018

Kalau Sering Penasaran, Kita Jadi Hutan

Kita tidak bisa melupakan orang-orang yang pernah kita temui. Bahkan seseorang yang hanya kita lihat secara sekilas, seperti pedagang yang tidak sengaja kita lihat saat hendak mencari toko tujuan dalam keramaian pasar. Paling tidak, alam bawah sadar kita yang tidak pernah melupakan wajah-wajah asing itu.

Sekalipun kita mengingat mereka tanpa nama, bukan masalah, kan? Toh sebagian besar dari mereka tidak akan kita temui lagi. Mereka hanya akan menjadi pemeran sampingan dalam mimpi-mimpi kita di tengah gelapnya malam.

Tapi bagaimana jika kau terus menerus bertemu lagi dengan seseorang dari orang-orang itu? Bukan di alam mimpi, tetapi benar-benar muncul di depanmu? Saat makan siang? Di antara padatnya kegiatan? Bagaikan lagu baru yang liriknya tidak bisa kau pahami : awalnya, kau hanya menikmatinya sekilas, namun, setelah itu melodinya terus menghantuimu. Kau ingin bernyanyi, tapi yang bisa kau lakukan hanya bersenandung. Lalu kau mencoba untuk memikirkan lagu lain, yang lebih familiar. Wah, tapi melodi itu terus kembali dalam benakmu. Kata orang, lagu itu sudah menjadi Earworm.

人は虫になることができるの?

Kemudian kamu menjadi semakin penasaran. Kalau hanya lagu, kau bisa merekamnya saja dan menyebarkannya ke teman-temanmu. Mereka akan menjawabnya. Yah, mungkin banyak dari mereka yang akan bercanda dan memberimu jawaban seperti “Danude-Sandstorm” atau “Vitas-7th Element”. Tapi percayalah, diantara jawaban-jawaban itu pasti ada satu yang membawamu ke judul lagu yang terus menghantuimu itu.

Tapi, bagaimana dengan orang? Ketika tidak ada seorangpun dari temanmu yang kenal dengannya. Satu-satunya cara adalah dengan bertanya langsung. Tapi, apakah kamu benar-benar ingin tahu?

本当にきになるの?
Benar kamu mau menjadi pohon?

Tuesday, April 10, 2018

Rumah Terindah

           “Yudha, bantu ibu buat kardus ya nak, karton kardusnya ada di lemari sebelah kulkas. Jumlahnya sudah pas 40. Lipat semua, yang rapi ya, nduk1.” Perintah ibuku pada minggu pagi akhir Oktober 2005.

“Ada acara apa,bu?” Tanyaku setengah tersadar, beban pikiran dari laporan perencanaan yang waktu itu menjadi tugas besar semester 5 rupanya membuatku lamban dalam memahami perintah.

lha kamu ini gimana, ya Slametan buat ulang tahunnya masmu,” kebul asap membumbung dari piring besar yang diangkat ibu. Semerbak wangi rendang sapi tersebar ke seluruh penjuru rumah. Aku melihat kalender duduk di atas meja, tanggal 25 Oktober. Kakakku berulang tahun yang ke-23 hari ini. Ternyata ibu tetap berusaha menyempatkan diri menyiapkan tasyakuran untuk ulang tahun kakak, walaupun kakak sendiri sedang berada di Jakarta sekarang, menempuh kegiatan wajib militer sebagai syarat pekerjaan yang akan membuat usia produktifnya penuh kesibukan. Aku menekan menu “Simpan” dan menutup laptopku dengan teliti untuk memastikan bahwa kerja kerasku selama hampir dua bulan tidak hilang dan bisa kulanjutkan nanti.

            Kulipat kardus-kardus itu sambil duduk bersila dan mendengarkan saluran radio kesukaan ibuku. Radio itu selalu memutarkan tembang-tembang lama. Satu kardus, dua kardus, tiga kardus kulipat dengan sempurna. Hasil lipatan yang rapi itu membuatku puas, ditambah lagi, lagu “Pemuda” yang dibawakan Chaseiro dari radio menumbuhkan semangatku untuk segera menyelesaikan 37 kardus lagi.  Lalu aku menyadari ada bekas gigitan pada salah satu sudut kardus keempat. Aku menoleh ke arah tumpukan karton kardus di sebelahku, ada seekor tikus sebesar kucing mengerat dengan lahap kardus demi kardus. Jeritku tertahan agar tikus itu tetap tidak mengindahkan keberadaan dan rasa panikku. Secara refleks, aku merangkak mundur, berusaha berdiri pelan-pelan agar tikus itu tidak menyadari perubahan sikapku. Namun terlambat, tikus itu menaikkan kepala, melihatku. Dengan sigap aku kabur mencari pertolongan, ke arah dapur. Tikus itu dengan gesit mengejarku yang tunggang langgang mencari pertolongan. Aku berteriak sekuat tenaga. Alih-alih teriakanku yang menggelegar memenuhi rumah, alunan lagu "Pemuda" dari radio terdengar semakin keras, padahal tidak ada yang merubah volume radio. Dadaku terasa sesak, nafasku memburu, tikus itu semakin dekat. Aduh, ibu di mana? Di dapur tidak ada orang, aku berlari terbirit menuju halaman depan rumah, sayangnya aku tersungkur karena melewatkan satu anak tangga. Tikus itu berhasil mengejarku, aku memejamkan mata ketakutan, aku bisa merasakan tikus itu menjalari tanganku yang gemetaran.

            Aku merasakan sensasi aneh, seperti tangan kecil mencubiti lengan kananku, aku membuka mata dan menoleh untuk melihat apa yang dilakukan tikus itu pada lenganku yang malang. “Ibuk! Ayo bangun,” samar-samar aku mendengar lagu “Pemuda” perlahan berganti menjadi alunan instrumental lagu “Indonesia Raya”, entah mengapa alunan lagu itu terasa begitu menenangkan. Aku menoleh, di tanganku tidak ada tikus, hanya ada putraku yang memegangi lenganku dengan wajah khawatir, “Kata pesawatnya tadi, kita sudah sampai di Surabaya. Daritodi ibu kubangunkan tapi sulit sekali! Kowakatta yo, okaasan (aku takut, bu)” gerutu anakku. Walaupun ia sudah berusaha untuk menggunakan bahasa Indonesia, aksen Jepang yang kental bisa didengar dari caranya berbicara. Tak apa, paling tidak aku sudah berusaha mengenalkannya kepada bahasa ibunya ini.

“Wah, maaf ya sayang, ibu tadi tidur dan mimpi tentang nenekmu,” Aku membukakan botol jus jeruk yang sebelumnya kubeli dari pramugari dan memberikannya kepada anakku, “Abi minum dulu ya, biar segar, nanti di bandara bisa ke toilet dulu.” Anakku mengangguk dan meneguk jus itu dengan semangat.
"Shinpai shinaide, okaasan. Ima, obaachan wa tengoku de ocha wo oishiku nomu kamo" (jangan khawatir bu, mungkin nenek sekarang sedang asyik minum teh di surga) anakku berhenti minum sejenak untuk sekedar menghiburku, aku tersenyum geli mendengarnya.
"Atau mungkin sama kaya kamu sekarang, minum jus jeruk." Kami berdua cekikikan. Kini aku tersadar sepenuhnya. Aku sedang berada di perjalanan pulang menuju Surabaya, untuk sejenak meninggalkan Osaka, tempatku bekerja selama bertahun-tahun. Aku sedang dalam perjalanan setelah mendapat telepon dari kakakku dua bulan yang lalu. “Jangan lupa datang slametan 1000 harinya ibu, Yudha. Sempatkanlah pulang.” Begitu kira-kira isi pesanya.

            Anakku berusia tujuh tahun sekarang, tapi ia sudah sangat pintar dan bisa membantu berbagai pekerjaan sederhana. Tidak seperti ibunya yang hanya bisa melipat kardus untuk tasyakuran di usianya yang ke-20. Aku memandangi anakku dengan penuh rasa syukur, ia menikmati jusnya sampai habis, lalu menutup sendiri botolnya dan memasukkan botol kosong itu ke ransel mungil berwarna biru muda bercorak batik parang di pangkuannya.

“Jus jeruk di Indonesia enak ya, bu, rasa jeruknya sangat terasa, hihihi,” Ujarnya semangat sambil memeluk tasnya, “nanti sampai bandara sebelum ke toilet kita cari tempat sampah dulu ya,bu, Abi mau buang ini,” Anakku menepuk-nepuk tasnya yang tadi dia isi dengan botol kosong bekas jus jeruk, “kasihan kakaknya kalau harus buang, kan ini sampahnya Abi.” Butuh waktu seper-sekian detik untukku menyadari bahwa “kakak” yang ia maksud adalah pramugari. Aku menangguk dan tersenyum, kubelai lembut rambutnya yang hitam keriting itu.

            “Uwaaaaah! Ibu, lihat yang ada di dinding itu! Gambarnya mirip dengan yang ada di tasnya Abi, bener, kan? Itu batik!” Sepanjang perjalanan menuju pengambilan bagasi setelah dari toilet, Abiwara Manggala, anakku, terus memandang langit-langit bandara yang dihiasi motif batik dengan mata berbinar. Sesekali ia bertanya padaku, “ibu, yang itu corak apa?” setelah kuberitahu bahwa batik memiliki ragam corak dan arti yang berbeda. Aku menjawab sesuai dengan kemampuanku mengingat nama corak, arti, dan asal dari setiap batik yang ditanyakan Abi. Koper di bagasi sudah mulai diputar keluar, kami menunggu di samping trolley dan memasang wajah penuh harap. Abi begitu sumringah dan menanti kopernya dengan penuh semangat, “Koper-chan2 ayo sini, sini!” ujarnya sambil mengintip ke arah datangnya para koper. Sedangkan aku mulai gelisah, aku belum berani menyalakan kembali ponselku sejak mendarat tadi. Siapakah yang akan menyusulku dan Abi di bandara? Aku merasa bersalah kepada keluargaku yang mulai kutinggalkan sejak lama tanpa kabar, kepada Nusantara yang kepadanya aku pernah berjanji untuk mengusahakan pembangunan demi kehidupan yang lebih baik, kepada kampung halamanku (yang sebenarnya bukan kampung) yang entah kini bagaimana wajahnya, kepada suamiku… ah sudahlah. Terakhir sebelum berangkat merantau, aku masih menyaksikan terpilihnya walikota perempuan pertama yang kepadanya aku berharap banyak. Sekarang, hanya melihat dari bandaranya saja, rasa banggaku membuncah. Kota tempat asalku kini mempunyai dua terminal bandara. “Nah, ibu, itu koper kita!” Seru Abi sambil menunjuk ke koper berwarna jingga cerah.

“biar ibu yang bawa ya, nak, berat, Abi nggak akan kuat.” Ujarku setengah bercanda.

“tapi Abi boleh bantu dorong keretanya, kan, bu?” tanyanya dengan penuh harap, aku mengangguk.

Torima kasih!” Manisnya anakku, dengan sopan terus berusaha menggunakan bahasa Indonesia. Tidak ada perjanjian di antara kami bahwa dia harus menggunakan bahasa Indonesia selama kunjungan ini, mengejutkan, karena aku nyaris tidak pernah melihatnya membuka buku pelajaran bahasa Indonesia yang kubelikannya lewat seorang teman di Kedutaan Besar.

            Kami berjalan cepat menuju pintu keluar. Kaki-kaki mungil Abi tergesa-gesa, berusaha mengimbangi langkah kakiku yang lebar dan derapku yang cepat, sebuah kebiasaan yang tumbuh semasa kuliah karena mobilisasiku yang saat itu sebagian besar dengan berjalan kaki. Betapa terkejutnya aku melihat seseorang yang begitu familiar, ia sedang sibuk berbincang melalui ponsel dan tertawa. Aku melihat garis-garis kerutan di sudut matanya yang bahkan terliat dari jarak sejauh ini. Sedikit aku melihat jambangnya dan, yaampun, apakah itu uban?

“Paman!” Teriakku bagaikan gadis muda bertemu teman lamanya di sebuah reuni SMA.

Eh?” Abi melihatku dengan penuh tanda tanya. Pria itu tidak mendengarku, bandara memang sedang ramai dan banyak orang yang beralu-lalang.

“Abi, pria yang disana,” aku menunjuk pamanku, ia mengenakan kemeja batik berwarna marun, celana kain berwarna coklat yang begitu pas dikenakannya, dan sepatu kulit bergaya oxford. Selalu necis seperti biasa. Jika ada hal yang masih sama mengenai pamanku, bisa kutebak ia membeli sepatu itu di Magetan, menggunakan bahan kulit terbaik kesukaannya, “itu adalah paman ibu. Kamu manggilnya ‘eyang’ yaa, namanya Bowo. Eyang Bowo. Ke sana, yuk?” Abi mengangguk dan lalu memandang kagum kepada Paman Bowo. Aku bersyukur sekarang Abi sedang mendorong trolley, kalau tidak, dia pasti sudah berlari tanpa melihat kanan/kiri dan asal memeluk Paman Bowo.

            Aku melihat paman sudah selesai menelepon dan melihat ke arah kami, senyumnya seketika merekah. Ternyata benar, kerutan di ujung matanya dalam dan banyak, juga benar bahwa helai berwarna putih di jambangnya itu adalah uban. “Yudha! Gimana tadi perjalanannya? Lancar?” Aku mencium tangan Paman Bowo dengan hormat.

“Iya paman, aman tanpa turbulensi. Untung si Abi juga lagi happy.” Jawabku sekaligus memberikan isyarat bahwa aku juga membawa anakku yang baru pertama kali ke Indonesia.

Weladalah, sopo iki (wah, siapa ini) ?! Inikah cucuku yang lahir di Jepang itu?” seru Paman Bowo seraya menjulurkan tangan agar Abi bisa menyalaminya. Aku mengira Abi akan mengabaikan tangan Paman Bowo dan membungkukkan badan, untungnya ternyata putraku langsung paham setelah melihatku mencium tangannya. Abi dengan patuh menerima uluran tangan pamanku dan menirukan apa yang kulakukan.

“ Halo Eyang Bowo, namaku Abiwara Manggala. Aku sudah mau tujuh tahun!” Karena sudah merupakan kebiasaan, pada akhirnya Abi membungkukkan badan setelah menyebutkan identitasnya. Ternyata, paman pun terlihat sama sekali tidak keberatan dengan sikap Abi tersebut, paman pun ikut membungkukkan badan. Setelah itu mereka berpelukan dan saling bertukar cerita. Tidak lama kemudian mereka sudah seperti teman akrab.

            Di sepanjang perjalanan, Paman Bowo sibuk mengemudi sambil sesekali menjawab pertanyaan Abi yang bertubi-tubi. Sementara aku terus memandang ke luar jendela dan asyik mengamati lingkungan sekitar, telah banyak yang berubah dari kota ini. Sudah delapan tahun aku tidak pulang. Aku merantau ke Jepang untuk menempuh pendidikan magister di usiaku yang ke-25. Walaupun sudah menikah saat itu, suamiku yang seorang arkeolog memiliki jiwa petualang tinggi. Ia hanya sesekali pulang dan mengunjungiku di kampus, menjadi lebih sering saat aku hamil dan itu membuatku senang. Namun, setelah Abi lahir, ia kembali bertualang mencari situs-situs menarik untuk diteliti. Tempat kegemarannya adalah di Perfektur Oita. Dengan kesibukanku sebagai mahasiswa, menjadi seorang ibu untuk pertama kalinya, dan jarak yang memisahkan kami berdua, pada akhirnya kami hanya sesekali bertukar pesan. Abi hanya mengenal ayahnya dari barang-barang antik yang ia bawa. Tentu, walaupun sudah diberi restu, pada kesempatan kali ini ayah Abi tidak bisa ikut bersamaku pulang ke Indonesia untuk mendoakan ibuku.

            Paman Bowo sama sekali tidak mengajakku berbicara. Inilah yang aku sukai dari paman sejak aku kecil. Paman sering kali hanya mendengarkan dan jarang memberikan pertanyaan yang membuat jengah. Paman pintar membaca mimik muka seseorang, ia paham kapan seseorang siap diajak mengobrol dan kapan seseorang perlu diberi waktu beristirahat atau sekedar menenggelamkan diri dalam pikirannya. Pada kasusku, paman benar sekali. Aku datang ke Indonesia demi ibuku, jangan salah, walaupun jarang memberikan kabar, aku mengutuk diriku sendiri yang tidak bisa hadir saat ibuku dimakamkan. Karena saat itu aku sedang mengusahakan kelahiran putraku yang kini tengah sibuk menghafalkan lagu Indonesia Raya di bangku belakang mobil. Rupanya paman mengenalkan lagu nasional itu kepadanya dan kini ia menghafalkannya dengan wajah serius. Sangat lucu. Kambali ke ibuku. Ibu adalah seorang peneliti yang sangat bersemangat dengan pekerjaannya, seorang wanita yang beberapa kali memberikanku pengalaman untuk pertama kalinya menjejakkan kaki di beberapa tempat di luar Jawa Timur. Saat aku duduk di kelas dua sekolah dasar, secara tiba-tiba ibu menjemputku di sekolah sebelum jam pelajaran berakhir. Saat itu, aku yang sedang jenuh karena mulai menghafalkan pembagian, sangat senang karena tiba-tiba saja kami berada di perjalanan menuju bandara. “Yudha temenin ibu ke Bali ya, nduk.” adalah jawabannya atas pertanyaanku. Berkat ibu, untuk pertama kalinya aku melihat keunikan Bali; seluruh penjuru tempat yang dipenuhi turis mancanegara; bagaimana orang-orang, baik asli Bali maupun pendatang, menghormati tradisi dan budaya yang mengakar kuat di sana, dan; Cita rasa baru yang belum pernah kucoba sebelumnya, aku bersyukur bisa menikmati pedasnya ayam betutu yang mantab. Pada lain kesempatan, ibuku mengajakku lagi untuk pergi berdua, waktu itu ke Jawa Barat. Karena saat itu aku sudah memasuki semester enam perkuliahan, selain jalan-jalan, aku diberikan tugas untuk membantu ibuku memahami cara kerja perangkat lunak dalam suatu pelatihan. Acara pelatihan itu diadakan di suatu perguruan tinggi ternama di Bandung. Kami mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma. Beruntung waktu itu pelatihannya diadakan pada minggu awal perkuliahan sehingga aku tidak merasa keberatan untuk mengambil seminggu hari libur, masalah jatah bolos yang berkurang satu itu tidak ada artinya dibandingkan dengan pengalaman yang aku dapatkan. Ibuku paham tentang anak perempuannya yang sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Ibukota Negara, juga karena durasi perjalanan kami yang seminggu penuh, ibuku punya banyak waktu untuk mengenalkanku kepada sang megapolitan itu. Kami memutuskan untuk menyewa mobil dan tidak menaiki kereta api dari Jakarta ke Bandung. Seandainya kata-kata cukup untuk mendeskripsikan betapa berterimakasihnya aku kepada ibuku. Aku ingat saat itu sangat terkagum dan merasa kecil di tengah-tengah gedung pencakar langit. Ibuku bercerita banyak mengenai Jakarta dan peran kota besar itu dalam melancarkan studinya, membesarkan namanya, hingga membantu ibuku menemukan jodohnya, yaitu ayahku. Sebelum sampai Bandung, kami sempat berhenti untuk beberapa saat dan menikmati makanan khas Jakarta, juga berbelanja dengan ceria dan saling mengingatkan agar tidak lapar mata di sebuah mall yang sangat megah. Jakarta memang kota yang sangat kompleks, aku bisa merasakan bahwa kota itu akan berkembang dengan pesat dari sisi ekonomi dan teknologinya. Perjalanan menjadi lebih istimewa karena aku dibimbing oleh seorang wanita cerdas yang dengan bangga kupanggil “ibu”. Dalam diam aku mulai memanjatkan doa agar ibuku tenang di sisi-Nya.

            Ibuk kenapa nangis?” Lagi-lagi lamunanku terbuyarkan oleh Abi, dengan cepat aku menghapus jejak air mata yang tanpa sadar sudah sampai di daguku.

“Ah, ibu nggak nangis kok, Abi. Ibu ngantuk.” Jawabku hati-hati agar tidak merusak suasana hati anakku yang sedang senang.

“Tapi-” mungkin Abi ingin bilang bahwa aku tadi sudah tertidur di pesawat. Tapi ia mengurungkan niat karena aku hanya tertidur di akhir perjalanan karena sejak awal sudah menyiapkan segala hal agar dia bisa terbang dengan nyaman, “tapi bener bukan karena ibu sedih, kan?” Aku menggeleng dan tersenyum, kuusap pelan pipinya dan memintanya untuk bersiap karena kami sudah hampir sampai.

            Kami sampai di rumah masa kecilku. Pohon manga besar di depan rumah rupanya belum ditebang. Cabangnya masih terlihat kokoh, cabang yang semasa aku kecil menjadi tempat favorit untuk menyantap es lilin bersama kakakku di sore hari. Aku menghirup udara dalam-dalam, lalu kuhembuskan perlahan. Aku menggandeng Abi masuk ke dalam. Di rumah sedang sibuk mempersiapkan acara untuk sore ini. Suara radio terdengar memenuhi ruangan, saluran radio kesukaan ibuku. Kali ini memutarkan lagu “Burung Camar” yang sempat memenangkan penghargaan bergengsi Kawakami Award pada tahun 80-an. Abi dengan ceria mulai menggerakkan badan dan menikmati irama lagu itu. Jika di pesawat tadi aku bermimpi tentang ibu yang sibuk mempersiapkan tasyakuran untuk kakakku, sekarang aku melihat kakakku dan istrinya saling membantu menyiapkan sajian untuk para tamu Yasinan ibuku. Kakakku terlihat semakin matang dengan badannya yang kekar, bereda jauh dengan badannya sebelum mulai pelatihan ala militer. Di rumahku semasa gadis itu, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan istri kakakku. Seorang wanita cerdas lulusan Jurusan Seni, Drama, dan Musik. Ia sudah banyak mengirimkan delegasi untuk memperkenalkan kesenian Indonesia ke berbagai belahan dunia. Seorang wanita yang tutur bicaranya lembut namun memiliki pendapat yang tegas mengenai pentingnya berpegang teguh pada kesenian lokal dan pentingnya berkelana ke luar negeri untuk  mendapatkan pandangan yang lebih luas tanpa lupa untuk memperkenalkan keragaman budaya Indonesia ke mana pun ia pergi. Aku sudah menduga bahwa kakakku pintar memilih pasangan hidup. Lalu aku teringat dengan pasangan hidupku sendiri.

            Matahari sudah mulai tak terlihat. Aku bersiap di dalam kamar, bersiap secara lahir dan batin. Aku membiarkan Abi berkomunikasi dengan paman, bibi, dan kakeknya di ruang keluarga. Saat aku mulai mengaplikasikan riasan, Abi berlari masuk ke kamarku. Aku menoleh kaget ke arahnya.

“Ibu! Maaf Abi lupa mengetuk pintu! Maaf juga gara-gara aku alis ibu jadi panjang sebelah! Tapi ibu! Di luar ada ayah!” Abi berbicara dengan sangat cepat di sela-sela nafasnya yang memburu. Matanya terlihat kebingungan, tapi juga memancarkan kebahagiaan. Tentu ia pernah melihat wajah ayahnya. Walaupun hobi berkelana, ayahnya itu selain sering mengirimkan foto-foto hasil temuan yang bernilai seni tinggi untuk semua orang, juga rajin mengirimkan foto dirinya (yang walaupun mungkin tidak ke semua orang, bagiku sangat memikat dan bernilai seni tinggi). Aku buru-buru merapikan riasan untuk kemudian berlari dengan atasan batik formal dan bawahan celana piyama.

            Pria itu sedang mengobrol akrab dengan kakakku. Rambutnya ditutupi topi safari berwarna putih gading. Pakaiannya rapi, tapi aku hampir bisa menebak bahwa sepatunya, parkir tertib di teras rumah, sangat kotor dan tidak berwujud seperti sepatu karena beratnya medan menuju objek penelitiannya. Rupanya ia sedang menjelaskan kronologis yang membuatku sampai di Indonesia hanya dengan seorang anak kecil. Janjinya pada saat menikahiku adalah untuk menjaga dan menemaniku. Aku pun tersenyum geli, Abi dengan malu-malu memegangi bajuku dan bersembunyi di balik badanku. Figur ayahnya yang tinggi besar membuat Abi sedikit takut.

“Mas Bayu,” panggilku pelan. Ia menoleh dengan cepat.

“Yudha-ku!” ia melangkah lebar dan memelukku erat, Abi ragu-ragu, namun kemudian ikut mencolek kaki ayahnya. “Ore no musuko da! (anakku!)”. Kakakku dan istrinya melihat kami dengan perasaan geli dari sudut ruang tamu. Suamiku adalah orang Lamongan yang memantabkan hati menikahiku sebelum kami berangkat bersama ke Negeri Sakura. Kami berusaha mengenalkan putra kami kepada bahasa, budaya, dan kebiasaan orang-orang di kampong halaman kami. Oleh karena itu, terkadang kami berusaha mengajak Abi berbicara dengan Bahasa Indonesia. Walaupun menurutku belum sebanyak itu, aku terkejut Abi ternyata bisa berkomunikasi dengan lancar. Ayahnya harus tahu. “Yudha, aku senang sekali bisa ke rumahmu sebelum acaranya di mulai. Sebelum ini aku meneliti Situs Gunung Padang, tempat itu sangat menarik! Aku mau mengajakmu dan Abi kita ini ke sana. Mau ya?” Ujarnya bersemangat.

“Ayah, tapi ingat harus mendoakan Eyang Putri dulu!” Jawab Abi menggunakan Bahasa Indonesia, respon ayahnya sungguh menumbuhkan perasaan hangat. Mas Bayu berlutut dan memberikan kecupan ringan di kepala Abi.

“Kita berangkat setelah ibumu berziarah ke makam Eyang Putri ya, sayang.” Jawab Mas Bayu lembut.

            Tamu-tamu mulai berdatangan. Aku, Abi, dan Mas Bayu sudah benar-benar siap untuk melaksanakan adat Jawa yang kami persembahkan kepada ibuku. Sayup sayup suara radio masih memutarkan lagu dari stasiun langganan ibu. Kali ini memutarkan lagu “Zamrud Khatulistiwa” oleh penyanyi legendaris Chrisye. Malam itu, sebelum kembali menuntut ilmu di negeri orang, kami memutuskan untuk tinggal lebih lama untuk mengajak Abi berkelana mengenali tempat-tempat penuh cerita yang ada di Nusantaraku, Indonesia.


Surabaya, 10 April 2018
Bearhug untuk panitia~

















1 nduk = Singkatan dari Genduk atau panggilan bagi orang tua untuk anak perempuannya.

2-chan = akhiran panggilan dalam bahasa Jepang. Biasanya ditujukan untuk orang yag lebih muda, gadis kecil, atau orang yang disayangi. Abi menggunakan ekspresi ini karena ia menyukai kopernya, sebagai anak kecil.



Catatan Pengarang : Cerpen ini adalah cerpen yang saya buat saat mengikuti lomba menulis cerpen di Pekan Kesenian Mahasiswa ITS (PEKSIMITS) 2018 pada tanggal 4 Maret lalu. Saya melakukan beberapa penyuntingan, namun inti cerita tetap sama. Selamat membaca ^^

Tuesday, March 6, 2018

Dandelion


Oktober 2017

“ceklik, ceklik, cekik.” suara tetikus yang ditekan terburu memenuhi ruangan bergaya kolonial Belanda. Ruangan itu memiliki langit-langit yang tinggi, dindingnya berwarna abu-abu pucat kebiruan, dilengkapi dengan jendela besar yang ditutup oleh tirai dari linen berwarna blewah. Di suatu sudut dekat jendela dan lampu lantai, terlihat berwibawa di balik meja kerja dari kayu jati berwarna gelap, seorang pemuda bergegas untuk menyelesaikan peta penggunaan lahan eksisting Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Sesekali gerakannya terhenti karena laptopnya memburam dan di sebelah nama berkas peta yang ia kerjakan tertulis “(Not Responding)”. Pemuda itu mendengus kesal, laptopnya tak kunjung pulih. Ia pun bergegas mengantongi smartphone-nya, membawa cangkir bekas minumnya dari meja kerja dan berjalan ke dapur untuk membuat seduhan teh baru untuk menemaninya menyelesaikan peta sebelum anggota timnya kembali dari pengambilan data.

Sebenarnya, ia malas untuk ke dapur, karena jalan menuju dapur itu hanya satu, melewati lorong yang di sisi kirinya berisi lemari berpintu kaca, sedangkan di sisi kanan terdapat jendela besar yang memancarkan cahaya matahari, menerangi isi dari lemari kaca itu : barisan cinderamata dari berbagai negara dan foto-foto milik penghuni rumah yang ia sewa untuk akomodasi survei selama seminggu. Pemuda berkacamata itu sedikit claustrophobic atau phobia tempat sempit. Ia malas, namun cangkirnya harus kembali hangat. Lagi pula, setelah melihat deretan bunga randa tapak yang tersusun rapi di pinggir jendela lebar tersebut, ada suatu hal yang ingin dia pastikan.

“Hati-hati lho, mas. Bos saya sudah penghuni ketiga dari rumah ini. Awalnya beliau diperingatkan sama penghuni sebelumnya untuk selalu menjaga kebersihan tempat ini, kalo enggak nanti kenak penyakit yang aneh-aneh. Nggak taunya setahun kemudian bos saya kena gagal ginjal. Padahal bos saya sama istrinya itu kalau makan disiplin banget. Istrinya juga rajin bersih-bersih, kan aneh to mas?” Kata pak Djatmiko, penanggung jawab rumah yang menyambut pemuda itu dengan timnya dua hari yang lalu. Kata-kata itu terngiang sembari pemuda bertubuh jakung itu mengamati isi lemari kaca dengan rasa kagum. Hatinya berdebar, satu per satu barang pecah belah itu ia amati, berharap untuk menemukan sesuatu yang lain. Dalam lemari tersebut hanya terdapat foto-foto pasutri paruh baya dan dua gadis berkulit sawo matang, berpose berbagai gaya di berbagai kesempatan. Tidak terlihat satu pun foto seseorang yang diharapkannya, seorang gadis kecil berkulit putih pucat dan berbadan mungil, sesosok yang sempat memenuhi harinya semasa taman kanak-kanak.



Juli 2002

“Aufa, kunyah pelan-pelan! Nanti kamu keselek,” Ibu meletakkan segelas susu di sebelah kiri piring Aufa, secangkir wedhang jahe untuk ayah Aufa, lalu tim sayur untuk adik Aufa.

Ibuk, nanti siapa yang antelin aku ke se… sela..” Tanya anak bernama Aufa itu ragu-ragu, “umm...”

“huuum!” celoteh adik Aufa menirukan suara gumam kakaknya.

“Sekolah, le, se-ko-lah.” Ibunya membantu Aufa mengingat dengan sabar, ayah Aufa tersenyum geli kepada istrinya sambil sedikit mengintip dari balik koran.

“Nah! Sekolah! Hihihi!” Aufa tersenyum lebar, ibunya memberikan tisu supaya anak pertamanya itu bisa membersihkan saus tomat yang blepotan di pipinya.

“Nanti dijemput pak becak, namanya Pak Tarman.  Nanti Aufa nggak sendirian, ada temennya, itu lho anaknya tante Alawiyah. Namanya Lala.” Ibu Aufa akhirnya duduk dan menyuapi adik Aufa yang sedari tadi berceloteh dan sesekali menggigit jemarinya dengan giginya yang masih bersembunyi malu-malu.

“Lala? Dia kayak aku atau kayak dek Nisa sama mbak Gina?” Tanya Aufa memastikan, karena biasanya teman-teman Aufa kalau tidak berpakaian seperti dirinya, ya berpakaian seperti adikknya atau kakak sepupunya yang dia panggil “Mbak Gina”.

“Sama kayak dek Nisa sama mbak Gina, perempuan.” Aufa berharap ibunya menyebutkan kata yang lebih mudah, per apa?

Cewek, le,” sahut ayah Aufa seakan membaca mimik wajah putranya yang kebingungan, “kalau seperti Aufa dan ayah gini namanya cowok.” Aufa mengangguk khidmat, begitu lebih mudah diingat. Ayahnya sudah menyingkirkan koran pagi dan beralih untuk menyantap sarapannya, “mantab betul memang masakan ibumu.” puji ayah Aufa tulus sambil menggenggam tangan ibu Aufa.

“Wah, makasih, mas. Besok kubuatkan garang asem favoritmu.” Jawab Ibu Aufa penuh semangat. Keduanya tersenyum sambil memandang satu sama lain. Aufa merasakan pipinya menghangat, dia malu, dengan cepat dia menghabiskan sarapannya dan melompat turun dari kursi makan.

“Ayah sama ibuk aneeh!” Celetuk Aufa dengan usil sambil berusaha memasang tas punggungnya yang bergambar Popeye, lalu setelah tas itu dengan sukses bertengger di punggungnya, ia benar-benar kesulitan memakai kaus kaki. Sebuah pelajaran agar lain kali ia memakai kaus kakinya terlebih dahulu.

“aa,” Nisa, adik Aufa, berusaha mengatakan sesuatu sambil menyodorkan sendok kosong ke ibunya, “neeeh.” Suaranya melengking di akhir, membuat kedua orang tuanya salah tingkah.

Suara bel becak terdengar dari luar rumah Aufa. “Pak Maman?” Sahut Aufa girang dengan berlari riang ke luar.

“Mamaaan!” seru Nisa yang rupanya sudah memasuki fase membeo atau mengikuti perkataan orang-orang di sekitarnya.

“lho.. Ma, Maman katanya hahaha,” Celetuk ayah Aufa sambil menggendong Nisa, “adeek, mas Aufa mau berangkat sekolah tuh, lihat yuuk.” Ayah Aufa berjalan ke depan rumah, disusul oleh ibu Aufa yang ke luar membawa mangkuk sarapan Nisa.

Aufa membuka pagar, didepan matanya terdapat becak sepeda berwarna kuning cerah. Seorang lelaki berwajah seperti kakek Aufa melompat turun dari sepeda becak dan menurunkan tempat penumpang agar Aufa mudah untuk menaikinya. Saat itu pula, Aufa menyadari ada seseorang di atas tempat penumpang itu, seorang cewek, begitu kata ayahnya. Rambutnya hitam legam sebahu, disibak ke belakang menggunakan bandana berwarna merah hati. “Pasti Lala, dan bapak itu nggak salah lagi pasti Pak Maman!” batin Aufa. Cewek itu memandang Aufa dengan malu-malu, digenggamannya ada dua batang bunga Randa Tapak, dipegang hati-hati agar tidak gundul ditiup angin. Walau masih terlihat ragu, cewek itu menyerahkan sebatang randa tapak kepada Aufa, saat itu, angin bertiup lembut dan membuat beberapa helai beterbangan, menyisakan sedikit helaian yang tertancap kuat di batang. Helaian yang tertiup angin itu terbang ke berbagai penjuru, berwarna putih, persis seperti gambaran salju yang biasa dilihat Aufa di TV pada bulan Desember. Aufa yakin pasti itu mirip yang di dalam tayangan TV bulan Desember, karena di bulan Desember pula, keluarga Aufa mengirimkan sedikit cake untuk beberapa tetangga terdekatnya yang merayakan natal. Kata ibu Aufa, sih, supaya tetangganya bisa merayakan hari raya bersama keluarga sambil menikmati sajian yang spesial.

“Indah..” gumam Aufa.

“Yah… jadi jelek,” Gumam cewek itu sedih, lalu menyodorkan tangkai yang satunya lagi, “kamu kukasih yang ini aja ya, yang ini masih bagus kok. Namanya Dandelion, bunga kesukaanku. Ambil ya, kupunya banyak di rumah,” jari-jarinya yang bulat bulat menggenggam batang dandelion itu dengan erat sampai batang itu berpindah ke tangan Aufa.

“Aku yang jelek juga gapapa kok,” jawab Aufa sambil beranjak naik ke atas becak, “mau tuker lagi? Katanya kamu suka?”

“Gapapa, yang masih rimbun buat kamu. Aku mau tunjukin sesuatu, hehehe, sekarang masih rahasia! Iya kan, pak Tarman?” Lala meminta dukungan pada Pak Tarman, Aufa kagum bahwa cewek itu bisa meyebutkan nama pak Tarman tanpa cela, benarkah Lala seumuran dengan Aufa? Jangan-jangan dia sudah 6 tahun! Lebih tua setahun dari Aufa? Berbagai spekulasi tumbuh dalam pikiran Aufa muda.

“Iya, rahasia, mas Aufa! Saya juga daritadi nggak dikasih tau maksud mbak Lala.” Jawab pak Tarman memihak kepada Lala.

“Oh iya, kenalin, namaku Lala,” Lala menyalami tangan Aufa secara spontan, “dan mungkin ada baiknya kalau kamu cium tangan orang tuamu dulu sebelum berangkat, iya kan, tante?” Lala mendongak dan tersenyum ke arah ibu Aufa. Ibu Aufa Nampak terkejut, mamun dengan cepat tersenyum lebar dan mengangguk.

“wah iya! Tapi aku titip bunganya dulu ya, nanti gundul lagi kalo kubawa lari! Namaku Aufa!” Lala mengangguk dan menjaga bunga itu baik-baik sampai Aufa selesai mencium tangan kedua orang tuanya dan kembali naik ke atas becak.

“Assalamualaikum!!” Aufa dan Lala berseru serentak ke kedua orang tua Aufa, Pak Tarman pun melambaikan tangan dengan hormat.

“waalaikum’salam” Ayah Aufa menggerakkan tangan kanan mungil Nisa dengan penuh semangat.

“da dah!” Nisa ikut mengucapkan selamat jalan kepada kakaknya.

               Sepanjang perjalanan, Aufa masih terus berusaha untuk menghalang tiupan angin supaya bunga randa tapak dalam genggamannya tidak buyar.

“Aufa, kamu lihat lapangan bola di depan itu?” Lala menunjuk ke lahan luas di kanan dan kiri jalan. Keduanya dipenuhi rumput liar yang diatasnya hanya ada dua gawang sederhana dari kayu, Aufa mengangguk, “kamu boleh membiarkan dandelion itu ditiup angin, asal arahkan ke arah lapangan itu. Kamu yang kiri, aku yang kanan ya!” Seru Lala.

“Kenapa harus di lapangan?” Tanya Aufa terheran, lapangan itu kini jaraknya hanya satu rumah.

“Nanti dulu,” pak Tarman dengan semangat mengayuh becak hingga lapangan itu pun sudah di sisi kanan dan kiri mereka, ”Nah, sekarang biarkan anginnya meniup bungamu!” Lala menjulurkan bunganya ke kanan, angin meniup bunga randa tapak Lala. Untuk sepersekian detik, Aufa merasakan ada yang menenangkan dari apa yang sedang ia saksikan. Helaian randa tapak itu berhamburan ke arah lapangan, beberapa diantaranya meluncur melewati rambut Lala yang berkobar lembut. Beberapa diantaranya tenggelam dalam rerumputan lapangan. Aufa menoleh ke arah kiri dan menjulurkan bunganya ke luar becak. Anginnya sejuk, helaian-helaian bunga Aufa beterbangan dengan santai ke arah lapangan. Aufa kembali menoleh ke kanan, Lala sedang mengamatinya, tersenyum lebar, “Asyik, kan?” Lala tertawa dengan menempelkan telapak tangan ke hidungnya yang lancip, Aufa juga sering melihat ibunya tertawa sambil menutup mulutnya. Tetapi cewek ini menutupi hidungnya. Aufa sempat melihat dua gigi Lala yang rupanya tengah tanggal. Lucu.

“sekarang beri tahu dong, katanya suka, kok malah dibiarkan rontok?” Aufa menyadari ada bunga yang tersangkut di bandana Lala, tapi ia takut dimarahi, persis seperti kejadian beberapa hari yang lalu; mbak Gina,sepupunya, marah besar karena Aufa mencoba mengambil bulu ayam yang tersangkut di kepangan rambutnya.

“Kata ibuku, dandelion kecil yang beterbangan itu bisa menemukan tempat tumbuhnya yang baru. Walaupun “badan” mereka,” Lala menunjuk induk tangkai randa tapak Aufa yang sudah gundul, “terlihat kosong, paling tidak ‘anak-anaknya’ bisa bermekaran di tempat lain. Mereka diingat oleh alam yang mereka pijak, membantu ‘anak-anak’ itu tumbuh menjadi dandelion baru yang utuh dan cantik,” Aufa berusaha keras untuk memahami kata-kata Lala saat itu, tapi ia berusaha mendengarkan, Lala terus bercerita, “makanya walaupun suka, aku mau menebar mereka dimana-mana, supaya mereka tumbuh di banyak tempat dan aku bisa lihat dandelion di sepanjang jalan!” Aufa ikut senang dan mendukung rencana gadis kecil itu, “sekarang aku juga ketemu orang baru, kamu, Aufa… Kamu mau, kan, inget aku? Inget aku sebagaimana bumi mengingat dandelion yang datang menyapanya.” Lala menepuk lembut bahu kanan Aufa sambil sedikit memirigkan kepalanya, meminta persetujuan.

Aufa mengerjap, perkenalan yang sangat panjang. Tentu saja ia sudah mengingatnya, Lala si pengagum randa tapak, atau dandelion kalau Lala bilang.

“Eh? Iyadeh,” Aufa berusaha sok cuek, “tapi kamu juga harus ingat aku ya!”

               Aufa menepati janjinya, begitu pula Lala. Namun, memang bunga yang ingin dipetik terlebih dahulu adalah bunga terindah. Saat Aufa menyadarinya, bangku becak di sebelah Aufa selalu kosong selama beberapa hari terakhir. “Mbak Lala izin, mas, katanya sakit.” Jawab pak Tarman setiap kali Aufa menanyakan kabar teman perempuan pertamanya itu.

“Sakit apa, pak? Tolong anterin aku ke rumahnya.. ya? Ini masih kepagian kalo langsung ke sekolah..” Rengek Aufa setelah hampir seminggu mendengar kabar yang sama. Pak Tarman menyerah dan mengantar Aufa ke rumah Lala. Untuk pertama kalinya, Aufa melihat rumah Lala yang megah itu. Tingkat dua, gaya rumah Belanda. Warna temboknya abu-abu pucat kebiruan, jendelanya besar-besar. Hal yang paling menarik perhatiannya adalah deretan dandelion di sepanjang tembok depan, terlihat beberapa di dekat jendela. Bunga itu melambai lemah, tidak ada yang beterbangan bebas. Perhatian Aufa teralihkan setelah seseorang membuka pintu depan rumah itu dan menyapanya, “Aufa!” Ternyata Lala. Di bawah matanya terdapat cekungan cukup dalam berwarna gelap dan itu membuat Aufa sedikit sulit mengenali temannya itu. Kulit Lala jadi lebih putih dari biasanya, Aufa berpikir mungkin karena sudah lama Lala tidak bermain di lapangan sekolah. Tangan Lala… tulang tangan yang sebelumnya bulat gemuk dan memberikan setangkai dandelion hari ini terlihat sangat menonjol.

“Lala! Kamu sakit apa?” Aufa bergegas turun dari becak, berlari memasuki pagar dan mendekati pintu masuk, lalu berhenti di dekat salah satu tanaman randa tapak di dekat pintu, “boleh ku ambil? Sepertinya kamu butuh dandelion supaya cepet sembuh!” Aufa buru-buru memetik dua batang. Satunya untuk dia bawa ke sekolah.

enggak tau, padahal aku ngerasa segar. Tapi mama terus bilang kalau aku nggak boleh masuk sekolah.” Jawab Lala dengan nada kesal, namun suaranya lebih lemah dari biasanya.

Saat itu, seorang wanita cantik datang merangkul lembut bahu Lala, wanita itu tersenyum melihat Aufa, “ini Aufa ya, sayang? Aufa yang sering kamu ceritakan ke mama,kan?” Tanya wanita itu lembut kepada Lala.

“Eh mama…” Lala berharap mamanya tidak mendengar perkataannya yang sebelumnya, “iya ma, ini Aufa, anaknya baik banget! Lihat, aku dikasih dandelion hihihi!” Jawab Lala ceria, tapi Aufa justru merasa sedih karena cekungan di mata Lala menjadi lebih dalam saat dia tertawa.

“Aufa, tante,” Aufa berjalan menuju mama Lala untuk mencium tangan tanda hormat, Lala sedikit berjalan mundur saat Aufa mencium tangan mamanya.

“Aufa, jangan lama-lama di sini, kita main di tempat lain aja ya kalau aku sudah sembuh. Kalau lama di sini nanti kamu ketularan aku, loh… kamu harus selalu sehat!” Seru Lala yang kini sudah berada sedikit lebih jauh di dalam rumah.

“Eh, janji? Aku tungguin kalo gitu!” Jawab Aufa penuh semangat, matanya berbinar.

“Aufa doakan Lala sembuh ya, nak, sekarang berangkatlah sekolah, sebentar lagi pukul Sembilan.” Jawab mama Lala sambil mengusap rambut Aufa.

“Ohiya sudah siang! Gawat!” Aufa buru-buru mencium tangan mama Lala lagi dan berlari ke becak, Pak Tarman sedari tadi mengamati dari atas kursi sepeda becak, siap mengantar Aufa, “Lala! Temen-temen juga mau cepet-cepet ketemu kamu! Cepet main sama kami lagi, ya! Berangkat dulu!” Aufa terus berteriak semangat, “Assalamualaikum!” Aufa melambaikan tangan dengan semangat, Lala juga tersenyum sumringah dari balik jeruji pagar, tangannya melambai lemah. Mama Lala juga ikut melambaikan tangan, tapi ada yang aneh.

Ada air mata menetes dari mata mama Lala.



Oktober 2017

              Smartphone pemuda itu bergetar, membuyarkan kilas balik yang menyita sedikit waktunya. Terdapat pesan masuk dari teman satu timnya yang berbunyi, “Aufa, kami mau cari data statistik pertanian dulu. Mungkin agak lama, titip petanya ya!”

Aufa membalas sekenanya lalu kembali mengantongi ponsel itu. Tanpa sadar, dia menghembuskan nafas panjang, “iya juga, mana ada foto Lala di lemari ini. Siapa juga yang mau nyimpen foto pemilik lama dari rumah yang baru kamu beli? Apalagi dia sudah tiada…” gumam Aufa lemah.

               Lala meninggal beberapa hari setelah kunjungan Aufa. Kunjungan itu menjadi kali terakhir Aufa melihat Lala. Gadis kecil itu akhirnya ‘ditiup’ oleh Leukimia untuk menghadap Tuhan. Setelah Lala pergi, keluarganya menjual rumah itu. Sebelum akhirnya jatuh di tangan bosnya pak Djatmiko, rumah itu kemudian dibeli oleh saudara jauh Lala, untuk kemudian dijual lagi setelah ada anggota keluarga yang sakit berat pula. Aufa juga dengan berat hati meninggalkan kota Blitar bersama keluarganya pindah ke Surabaya. Aufa menjalankan kehidupannya dengan tetap mengingat temannya yang pecinta dandelion itu. Saat dosen jurusan Planologi-nya mengarahkan Aufa dan tim untuk meneliti Kecamatan Kademangan, Aufa merasa terlalu girang saat survei mencari tempat tinggal. Bahwa rumah lama tempat Lala tinggal kini di sewakan, tanpa renovasi besar-besaran yang merubah struktur bangunan dan gaya arsitekturnya. Tanpa perubahan pada deretan bunga dandelion-nya.

Aufa tanpa ragu memilih rumah itu, karena rumahnya di Blitar kini sudah beralih fungsi menjadi ruko. Selain itu Aufa juga ingin menepati janjinya. Bahwa temannya itu sudah seperti dandelion, walaupun kini raganya kosong, paling tidak gadis manis itu sudah tertanam di ingatan Aufa, keluarganya, dan teman-temannya.




Surabaya, 6 Maret 2018
Bearhug untuk (alm) teman masa kecilku