Monday, October 21, 2024

Pendar Legawa

Hari ini saya berjalan-jalan di area Tunjungan bersama seorang teman perempuan yang sosoknya kuhormati. Jalan-jalan yang membuatku kembali teringat akan keindahan kota ini: sebuah perpaduan harmonis antara serius dan santai, kekayaan lahir dan batin, kuliner yang beragam, dan antusiasme masyarakat untuk berkomunitas. Dimanapun sepasang kakiku berpijak di Surabaya, hatiku hangat dan penuh. Syukur dan puji kumunajadkan kepada Tuhan YME karena telah memberikan kesempatan untukku memulihkan diri dari patah hati di Kota Pahlawan.

              Apa yang seharusnya dilakukan seseorang ketika patah hati karena putus cinta? Aku melakukannya dengan berusaha untuk fokus ke hal-hal yang positif, mengalihkan energiku kepada hal-hal yang bersifat membangun dan menenangkan hati. Tapi apakah itu baik? Nyatanya sembilan bulan setelah selesai dengan dia, masih ada rasa getir dan kekecewaan yang tersisa dalam hati.

              Kenangan indah kami bersama, satu per satu digantikan oleh kenangan-kenangan indah serupa namun dengan pemeran yang berbeda. Kenangan baru yang membuatku menyadari bahwa satu-satunya hal yang membuat hubungan itu spesial adalah kasih sayangku kepadanya. Sisanya? Hanya memori yang bisa kembali kubuat ulang bersama orang-orang baru. Tidak harus laki-laki dengan status pacar atau gebetan. Belum ada laki-laki yang menduduki tempat Istimewa dalam hati ini. Semua memori serupa terulang lagi bersama kawan-kawan erat dan keluarga, membuatku kembali menanyakan arti cinta dan keintiman.

              Berulang bagaimana? Hubungan kami dimulai dengan berjalan-jalan mengelilingi Kota Jakarta, mengobrol santai dan hangat sambil menikmati keindahan pemandangan urban atau merasakan kesejukan mall-mall besar. Sudah berkali-kali memori tersebut digantikan dengan adegan serupa, namun aku ditemani oleh kawan-kawan, terkadang adik-adik dan orang tuaku. Kami resmi berpacaran di Kebun Binatang Ragunan, beberapa minggu setelah putus pun aku sudah kembali berjalan-jalan di Ragunan bersama kelompok kecil rekan-rekan akrab dari kantor Jakarta. Adegan membeli sepatu? Berulang dengan ayah, ibu, dan adik-adikku. Kota Malang? Dengan adik dan rekan. Pizza? Dengan kawan lama. Betapa ternyata, kehangatan yang kuterima darinya hanyalah kehangatan dalam permukaan dangkal yang bisa dengan mudah kudapatkan dari sumber-sumber lainnya.

Apakah mungkin semua laki-laki begitu? Mungkin bukan tempatnya untuk mencari cinta dari seseorang spesial. Kusadari belakangan ini bahwa cinta yang seperti itu tidak membawa ketenangan jiwa. Mungkin cinta itu datangnya dari pikiranku sendiri. Waktunya kufokuskan saja pikiran ini kepada kasih sayang yang bisa kuberikan dan kurasakan dari orang-orang terdekat.

              Bukan, kasih sayang yang kumaksud bukanlah sekebun bunga, bukan kata-kata romantis yang mendayu, bukan gombalan-gombalan palsu. Kasih sayang ini berupa pendapat yang didengar dan dihargai, ruang aman untuk tumbuh dan berkreasi, atau upaya nyata menyamai energi yang kukerahkan untuk merawat suatu hubungan silaturahmi. Kasih sayang yang didasari keyakinan dan kuat mengakar dari itikad baik. Kasih sayang yang terbukti dari selarasnya sikap dengan lisan.

Tidak boleh lagi aku mengizinkan sikap dimana aku harus meminta supaya bisa diperlakukan dengan sebagaimana mestinya. Percaya aku kepada ucapan ketidakmampuan seseorang untuk mencintaiku sebesar apa yang bisa kuberikan kepada mereka dan kulepaskan semua hubungan yang seperti itu. Jika mereka tidak bisa menghargai kehadiranku, maka tidak pusing-pusing aku memikirkan cara untuk kembali mewarnai kehidupan mereka. Tidak lagi kukerahkan ilmu, waktu, dan hatiku untuk menjelaskan suatu konsep kehidupan kepada seseorang yang mengomentari kondisi fisik yang tidak bisa kukendalikan_kondisi psikomatis_yang muncul akibat dalamnya pikiran dan beratnya upayaku untuk memperbaiki hubungan kami. Menjauh sudah aku dari hubungan dimana rasanya hanya aku sendiri yang menginginkan hubungan tersebut untuk terus berjalan, apalagi dari orang yang tertawa akan kepergianku dari hubungan kami. Tidak lagi hatiku bergetar dari pertanda-pertanda abu-abu, sudah kurasakan lampu hijau di sebuah jalan yang ternyata menuju ke jurang yang curam.

Semuanya tetap kubiarkan lalu dengan penuh rasa syukur. Bagaimanapun, sepertinya perjalanan tersebut memang harus kulalui agar menjadi diriku yang sekarang ini. Tidak akan aku biarkan rasa sakit itu menghentikanku mencintai seseorang baru. Seseorang yang bisa kurasakan ketulusan kasihnya kepadaku. Seseorang yang terbukti berjuang bersamaku untuk senantiasa memelihara hubungan kami. Seseorang yang memilihku melalui jalan Illahi untuk menjadi kawan pengarungan dunia akhiratnya.

Jadi, kurasa jawabannya adalah baik. Aku akan tetap berfokus kepada hal-hal positif yang bersifat membangun. Rasa getir dan kecewa adalah hal yang wajar untuk dirasakan. Masalah waktu, kuserahkan kepada Sang Pemilik. Tugasku adalah menjaga harga diri, memfokuskan energi untuk mengembangkan nilai hidup, dan mengikhlaskan bahwa memang betul apa yang kucari tidak ada pada aku dan dia. Bahwa betul aku dan dia hanya bagian dari masa lalu yang membuatku bertumbuh menjadi diri yang sekarang. Masa lalu yang dijadikan pelajaran dan tidak untuk diulang. Tetap kuyakinkan diri bahwa niat baik pasti membawa hasil yang baik pula. Reda dan redamnya duka kunikmati dengan legawa. Dibalik mendung yang berlalu, dalam terang dan hangatnya lembaran baru, kulatih akalku untuk senantiasa membina renjana. 

Monday, February 8, 2021

Sapi

 

Siang itu, ketika ada orang dari provinsi yang meminta bapak menuliskan impian untuk ternak sapinya di kemudian hari, bapak meminta bantuan Mas Rafif---satu-satunya peternak lulusan SMA di desaku---untuk menuliskan jawabannya di selembar kertas. Jawabannya mantab:

“Bisa menjual banyak sapi dengan harga yang tinggi.”

Hari-hari berikutnya, kondisi kami masih sama. Di atas meja makan kami selalu diisi dengan lauk yang itu-itu saja: Sayur lodeh, brengkes, atau tumis manisah. Masakan ibu enak, tapi mana sapinya? Kalau keluarga kami saja tidak pernah beli daging sapi, apa bisa peternak seperti bapak menjual banyak sapi? Apalagi dengan harga tinggi, siapa yang beli? pikirku.

            Ketika tiba hari menjual Momon---satu-satunya sapi potong milik bapak---di pasar hewan di kota, aku meyakinkan orang tuaku bahwa aku harus ikut, meskipun itu hari Jumat. Ibuku langsung mengiyakan, bapak yang awalnya tidak setuju pun akhirnya luluh ketika aku berkata bahwa handphone-ku harus segera dilunasi agar aku dapat bersekolah daring tanpa terpikirkan utang. Bapakku lalu membuat skenario agar aku tecatat sebagai “izin” dan bukan “membolos” pada absen pertamaku semester itu.

“Pak, kira-kira Momon bakal laku berapa ya? Apa lebih banyak dari biasanya?” Tanyaku dalam pick-up sewaan kami di perjalanan menuju pasar hewan.

“Semoga ya le[1]. Ingat tamu dari provinsi bulan lalu itu?” Mereka lah alasan aku membuka percakapan ini, batinku. Bapak melanjutkan ceritanya, “Mereka mengajak bapak bertemu kelompok ternak di kota. Para peternak di sana memberi campuran jerami, dedak, dan ampas tahu pada sapi mereka, hasilnya gemuk-gemuk. Bapak praktekkan ke Momon, eh, beratnya naik jauh. Sekarang, coba bantu bapak berhitung. Harga sapi kita itu Rp 48,000 per kilogram berat hidup. Tahun lalu, si Malika sapi bapak dulu itu beratnya 415 kg persis. Berarti… berapa itu?” Tanya bapak.

“Malika harganya ... ” Aku yang ketika itu baru naik kelas 5 SD pun memutuskan untuk meminta bantuan kalkulator di ponsel untuk memastikan hasil hitungan, “ ... sembilan belas juta sembilan ratus dua puluh ribu, pak.”

“Lho? Kok tahun lalu bapak cuma dapat sembilan belas setengah ya… Waduh, salah hitung dong,” bapak menarik nafas panjang dan melanjutkan, “Nanti bantu bapak memastikan harga jual Momon, ok? Sekarang balik lagi, karena pakan-nya manjur, Momon itu beratnya empat ratus sembilan puluh kg sekarang. Coba, misal harga per-kilo-nya sama, Momon bisa kita jual berapa?” Tanya bapak lagi.

“Wah, bisa dua puluh tiga juta lima ratus dua puluh, pak! Banyak ya?” Kataku bersemangat.

“Nah, tapi, tidak semua kita bawa pulang dalam bentuk duit, Bagas. Kita harus beli bakalan sapi baru untuk dijual tahun depan. Momon itu bakalannya lima belas juta lho. Tapi ya, tetap saja, untung kita lebih banyak dari tahun lalu. Handphone-mu bisa langsung lunas.” Kata bapak.

“Anu, pak, selama ini bapak kan jual sapi, tapi, memangnya bapak tahu sapi-sapi itu dibeli untuk dimasak jadi apa saja?” Tanyaku.

“Hm? Ya jadi rawon atau bakso le. Mungkin jadi sate kalau kurban.” Jawab bapak.

“Bapak pernah coba steak? Ini internet bilang di kota ada tempat jual steak. Nanti kalau ada uang lebih setelah melunasi handphone, kita makan disana ya?Tanyaku penuh harap. Bapak mengernyitkan dahinya.

Panganan opo kuwi le?”[2]

***

Tinggal di tengah hutan yang jauh dari pusat kegiatan kabupaten semasa hidupnya, pendidikan bapak terhenti di kelas dua SD. Kata bapak, saat ia masuk usia sekolah, sekolah dasar paling dekat jaraknya 5 km dari kampunngya. Kaki bapak semasa kecil selalu benjut dipukuli kakekku yang pemabuk, bapak tidak sanggup untuk berjalan kaki ke sekolah setiap hari. Maka Bapak mempersiapkan diri. Begitu ia berhasil mengumpulkan kekuatan, bapak kabur dari rumah, melupakan sekolah dan memilih jadi magersari di tanah orang. Positifnya, kini bapak sedikit banyak bisa beternak dan sangat mengenal area hutan di kabupaten kami. Berkat kegigihannya, bapak juga mendapatkan ibuku, putri sulung Mantri Tapak kampung kami.

Ibuku sempat melanjutkan sekolah hingga tamat SMP sebelum akhirnya menikah dengan bapak. Ibu bisa menulis, tulisannya bagus, aku juga suka puisi buatan ibu. Ibu yang selalu bersemangat mendampingiku belajar Bahasa Indonesia. Di luar itu, aku harus meminta bantuan wali kelasku untuk memahami pelajaran sekolah lainnya. Meskipun begitu, bahasa Inggris tetap berada di luar kemampuan mereka. Segalanya terasa serba terbatas, banyak sekali pertanyaanku yang belum bisa terjawab oleh kami semua.

Ketika ada tamu dari provinsi untuk bertanya-tanya mengenai kondisi ternak bapak dan peternak lain di kampung, aku membayangkan apakah orang-orang seperti mereka bisa bahasa Inggris?

“Wah lagi ngerjakan PR, le?” Tanya salah satu pemuda dari provinsi itu ketika melihatku berusaha mencerna perbedaan penggunaan “my” dan “mine” dalam pekerjaan rumahku.

“Iya eh mas. Mas bisa bantu?” Tanyaku yang segera ia sambut dengan antusias. PR itu selesai secepat kilat.

Jago juga Bahasa Inggris. What’s your name?[3] Tanyanya.

Mendengar pertanyaan yang tidak asing dalam Bahasa Inggris, aku menjawab: 

Thank you, My name is Bagas, and you?”[4]

“Ï’m Radifan. Nice to meet you, Bagas.”[5] Jawabnya. 

Mudah juga mengobrol dengan bahasa Inggris, pikirku. tetapi Mas Radifan masih melanjutkan, 

Hey, I heard that your dad owns a cattle. Do you want to watch a video about steaks?”[6] Tanya Mas Radifan dengan semangat.

Belum sempat aku memahami apa yang ia katakan, sejurus kemudian Mas Radifan mengeluarkan ponsel pintar-nya dan menunjukkan sebuah video seseorang memasak daging sapi. Video itu ber-Bahasa Inggris dan dilengkapi dengan takarir Bahasa Indonesia. Alih-alih mempelajari bahasanya, fokusku teralihkan pada pesona daging-daging tersebut. Bagaimana bisa seseorang memakan daging sebesar itu? Warnanya juga masih merah dan ada cairan yang menetes ketika dimakan. Apa enaknya? Aku lihat orang dalam video itu memakan semua daging yang dimasak tanpa nasi, apalagi bumbunya hanya taburan garam dan merica. Aku semakin penasaran dan fokus pada video tersebut sambil sesekali meminta Mas Radifan untuk mengulangi bagian yang tidak sempat kubaca takarir-nya.

Ada sebuah daging yang dimakan dalam kondisi nyaris mentah, orang dalam video itu menyebutnya “rare A5 Wagyu Steak”. Mas Radifan memberitahu:

“Itu namanya daging Wagyu. Sudah banyak ditemui di Indonesia, tapi katanya yang asli jauh lebih enak.” 

"Lah kalau banyak ditemui di Indonesia kenapa mas di video itu bilangnya rare? Bukannya rare itu artinya langka?" Tanyaku

"Rare artinya benar langka, tapi kalo di steak, itu sebuah istilah. Artinya tingkat kematangan yang rendah, meh mentah ngono le. Di atas rare ada medium rare, disusul medium, medium-well, dan well-done. Sesuai selera. Tapi banyak orang bilang paling enak dan aman ya medium." Jelasnya dengan antusias.

Ketika aku bertanya bagaimana rasa aslinya, ia menjawab:

“Semoga kita bisa segera sama-sama tahu. Aku juga belum mencobanya, sebab, potongan wagyu dari Sapi Hitam Jepang bagian Tenderloin seberat 250gr harganya bisa sampai satu juta rupiah.” Jelasnya.

***

Aku dan bapak saling pandang setelah melihat buku menu di restoran steak itu. Harga paling mahal adalah 170 g Tenderloin seharga Rp 85.000 dan 170 g Sirloin seharga Rp 80.000. Bapak menelan ludah kemudian berkata padaku:

“Jauh lebih murah dari yang dibilang si Radifan itu ya ternyata.”

“Ini sapi Australia, pak, berbeda dengan daging yang kuceritakan tadi.” Kataku setelah mempelajari buku menu-nya.

“Kamu kepingin banget?” Tanya bapak.

“Bapak tidak kepingin?” Aku balik bertanya.

Setelah menghitung sisa uang setelah membayar semua utang kami, bapak mengizinkanku memesan seporsi Sirloin dan,

“ ... Kalau tenderloin itu seperti apa ya? Apa dicoba tambah satu Tenderloin, le, bilang dibungkus supaya ibumu juga dapat.”

Datanglah sepotong daging lebar, tebal, dan mengilap di hadapan kami. Sangat cantik, lengkap dengan saus kecoklatan, sedikit wortel, kacang panjang, dan kentang. Sebelum melahap daging itu, aku melirik ke arah parkiran melalui jendela besar yang ada di restoran itu, melihat Mada---sapi baru kami---dengan rasa bersalah sekaligus kagum. Merasa bersalah, karena sapi potong hidup itu harus menyaksikan kami memakan sepotong steak. Kagum, karena ternyata sapi itu bisa menghasilkan sepotong keindahan yang luar biasa harum dan menggugah selera.

Aku dan bapak melumat pelan-pelan daging besar yang lembut itu dalam diam. Pikiranku berkecamuk. Ini adalah daging pertamaku dalam tiga bulan ini sejak Idul Adha, sekaligus daging terempuk dan ternikmat yang pernah kumakan. Aku ingin bertanya kepada bapak, kenapa di meja makan kami jarang sekali ada olahan daging? Namun, aku urung menanyakan hal tersebut setelah melihat air muka bapak. Aku juga ingin bapak bisa nikmati setiap kunyahan daging itu. Kami terlena hingga makan tanpa memesan minuman. Bahkan di jalan pulang pun, tidak rela rasanya membasuh rasa daging itu dengan air kemasan botol yang disiapkan bapak di pick-up hingga terasa benar-benar kering.

Kami sampai di rumah hanya untuk disambut oleh rumah kosong. Ibuku meninggalkan sepucuk surat kepada kami, meminta maaf karena ingin minggat dari kemelaratan dan kesepian. “Fokus saja kepada sapimu itu.” adalah pesan terakhir ibu kepada bapak. Malam itu, kami berdua makan malam dengan sepotong Tenderloin dingin. Rasa daging itu semakin asin karena aku tidak bisa berhenti menangis. Bapak memelukku dan berkata,

“Anak laki-laki boleh menangis, tapi jangan lama-lama. Besok kamu ikut bapak cari pakan untuk Mada.” Perkataan bapak disambut dengan lengguhan Mada.

Sejak saat itu aku tidak pernah melihat ibuku lagi. Ada kabar burung yang menyatakan bahwa ibu menikah lagi dengan mandor dan pindah ke luar pulau. Bapakku seakan menikah dengan sapi-sapinya, semakin serius setelah lebih lancar membaca dan menulis. Bapak melepasku untuk menempuh pendidikan di sekolah tinggi pariwisata setelah menandatangani kerjasama untuk menternakkan puluhan ekor sapi premium.

“Setelah lulus nanti, kupastikan aku bisa memasak sapi-sapi bapak menjadi makanan terenak. Janji, pak, aku berangkat dulu.” Pamitku.

***

            Laki-laki berjaket putih dengan bordiran “Bagas-Head Chef[7]” di dadanya itu sedang mencicipi sampel carpaccio[8] sapi bumbu rujak ketika dihampiri seseorang dengan wajah penuh kekhawatiran.

            “Maaf, chef, kami butuh bantuan di luar .... ” Jelas orang itu, di dadanya tersemat pin bertuliskan “Herdian-Waiter Captain[9].”

            Bagas melepas apronnya, kemudian keluar dari dapur untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi. Ia lalu mengambil alih pekerjaan pelayan muda yang kebingungan berkomunikasi dengan salah satu tamunya.

            Bonjour et bienvenue au restaurant Beef Localé. Vous êtes prête à commander, Madame?[10]

            Setelah memproses pesanan tamu tadi, seorang laki-laki tua dengan sorotan mata berkilau penuh semangat datang melalui pintu dapur. Laki-laki itu berkata kepada Bagas:

            “Itu dagingya sudah datang, le, langsung mau dicek atau gimana?”

            Bagas tersenyum lembut dan menjawab:

            “Langsung kita cicipi bersama saja, pak, biar anakmu ini yang memasak. Tenderloin?” *



[1] Singkatan dari tole, panggilan orang tua kepada anak laki-laki di Jawa.

[2] “Makanan apa itu, nak?”

[3] “Siapa namamu?”

[4] “Terima kasih. Namaku Bagas, kalau mas?”

[5] “Aku Radifan. Salam kenal, Bagas.”

[6] “Hey, bapak kamu punya sapi potong ya? Mau nonton video tentang steik?”

[7] Kepala juru masak suatu restoran.

[8] Carpaccio: hidangan pembuka berbahan daging ikan atau sapi yang diiris tipis-tipis dan disajikan mentah dengan saus yang sederhana.

[9] Ketua sekelompok pramusaji.

[10] “Selamat siang dan selamat datang di restoran Beef Localé. Apa anda siap memesan, bu?”

Wednesday, May 2, 2018

Kalau Sering Penasaran, Kita Jadi Hutan

Kita tidak bisa melupakan orang-orang yang pernah kita temui. Bahkan seseorang yang hanya kita lihat secara sekilas, seperti pedagang yang tidak sengaja kita lihat saat hendak mencari toko tujuan dalam keramaian pasar. Paling tidak, alam bawah sadar kita yang tidak pernah melupakan wajah-wajah asing itu.

Sekalipun kita mengingat mereka tanpa nama, bukan masalah, kan? Toh sebagian besar dari mereka tidak akan kita temui lagi. Mereka hanya akan menjadi pemeran sampingan dalam mimpi-mimpi kita di tengah gelapnya malam.

Tapi bagaimana jika kau terus menerus bertemu lagi dengan seseorang dari orang-orang itu? Bukan di alam mimpi, tetapi benar-benar muncul di depanmu? Saat makan siang? Di antara padatnya kegiatan? Bagaikan lagu baru yang liriknya tidak bisa kau pahami : awalnya, kau hanya menikmatinya sekilas, namun, setelah itu melodinya terus menghantuimu. Kau ingin bernyanyi, tapi yang bisa kau lakukan hanya bersenandung. Lalu kau mencoba untuk memikirkan lagu lain, yang lebih familiar. Wah, tapi melodi itu terus kembali dalam benakmu. Kata orang, lagu itu sudah menjadi Earworm.

人は虫になることができるの?

Kemudian kamu menjadi semakin penasaran. Kalau hanya lagu, kau bisa merekamnya saja dan menyebarkannya ke teman-temanmu. Mereka akan menjawabnya. Yah, mungkin banyak dari mereka yang akan bercanda dan memberimu jawaban seperti “Danude-Sandstorm” atau “Vitas-7th Element”. Tapi percayalah, diantara jawaban-jawaban itu pasti ada satu yang membawamu ke judul lagu yang terus menghantuimu itu.

Tapi, bagaimana dengan orang? Ketika tidak ada seorangpun dari temanmu yang kenal dengannya. Satu-satunya cara adalah dengan bertanya langsung. Tapi, apakah kamu benar-benar ingin tahu?

本当にきになるの?
Benar kamu mau menjadi pohon?

Tuesday, April 10, 2018

Rumah Terindah

           “Yudha, bantu ibu buat kardus ya nak, karton kardusnya ada di lemari sebelah kulkas. Jumlahnya sudah pas 40. Lipat semua, yang rapi ya, nduk1.” Perintah ibuku pada minggu pagi akhir Oktober 2005.

“Ada acara apa,bu?” Tanyaku setengah tersadar, beban pikiran dari laporan perencanaan yang waktu itu menjadi tugas besar semester 5 rupanya membuatku lamban dalam memahami perintah.

lha kamu ini gimana, ya Slametan buat ulang tahunnya masmu,” kebul asap membumbung dari piring besar yang diangkat ibu. Semerbak wangi rendang sapi tersebar ke seluruh penjuru rumah. Aku melihat kalender duduk di atas meja, tanggal 25 Oktober. Kakakku berulang tahun yang ke-23 hari ini. Ternyata ibu tetap berusaha menyempatkan diri menyiapkan tasyakuran untuk ulang tahun kakak, walaupun kakak sendiri sedang berada di Jakarta sekarang, menempuh kegiatan wajib militer sebagai syarat pekerjaan yang akan membuat usia produktifnya penuh kesibukan. Aku menekan menu “Simpan” dan menutup laptopku dengan teliti untuk memastikan bahwa kerja kerasku selama hampir dua bulan tidak hilang dan bisa kulanjutkan nanti.

            Kulipat kardus-kardus itu sambil duduk bersila dan mendengarkan saluran radio kesukaan ibuku. Radio itu selalu memutarkan tembang-tembang lama. Satu kardus, dua kardus, tiga kardus kulipat dengan sempurna. Hasil lipatan yang rapi itu membuatku puas, ditambah lagi, lagu “Pemuda” yang dibawakan Chaseiro dari radio menumbuhkan semangatku untuk segera menyelesaikan 37 kardus lagi.  Lalu aku menyadari ada bekas gigitan pada salah satu sudut kardus keempat. Aku menoleh ke arah tumpukan karton kardus di sebelahku, ada seekor tikus sebesar kucing mengerat dengan lahap kardus demi kardus. Jeritku tertahan agar tikus itu tetap tidak mengindahkan keberadaan dan rasa panikku. Secara refleks, aku merangkak mundur, berusaha berdiri pelan-pelan agar tikus itu tidak menyadari perubahan sikapku. Namun terlambat, tikus itu menaikkan kepala, melihatku. Dengan sigap aku kabur mencari pertolongan, ke arah dapur. Tikus itu dengan gesit mengejarku yang tunggang langgang mencari pertolongan. Aku berteriak sekuat tenaga. Alih-alih teriakanku yang menggelegar memenuhi rumah, alunan lagu "Pemuda" dari radio terdengar semakin keras, padahal tidak ada yang merubah volume radio. Dadaku terasa sesak, nafasku memburu, tikus itu semakin dekat. Aduh, ibu di mana? Di dapur tidak ada orang, aku berlari terbirit menuju halaman depan rumah, sayangnya aku tersungkur karena melewatkan satu anak tangga. Tikus itu berhasil mengejarku, aku memejamkan mata ketakutan, aku bisa merasakan tikus itu menjalari tanganku yang gemetaran.

            Aku merasakan sensasi aneh, seperti tangan kecil mencubiti lengan kananku, aku membuka mata dan menoleh untuk melihat apa yang dilakukan tikus itu pada lenganku yang malang. “Ibuk! Ayo bangun,” samar-samar aku mendengar lagu “Pemuda” perlahan berganti menjadi alunan instrumental lagu “Indonesia Raya”, entah mengapa alunan lagu itu terasa begitu menenangkan. Aku menoleh, di tanganku tidak ada tikus, hanya ada putraku yang memegangi lenganku dengan wajah khawatir, “Kata pesawatnya tadi, kita sudah sampai di Surabaya. Daritodi ibu kubangunkan tapi sulit sekali! Kowakatta yo, okaasan (aku takut, bu)” gerutu anakku. Walaupun ia sudah berusaha untuk menggunakan bahasa Indonesia, aksen Jepang yang kental bisa didengar dari caranya berbicara. Tak apa, paling tidak aku sudah berusaha mengenalkannya kepada bahasa ibunya ini.

“Wah, maaf ya sayang, ibu tadi tidur dan mimpi tentang nenekmu,” Aku membukakan botol jus jeruk yang sebelumnya kubeli dari pramugari dan memberikannya kepada anakku, “Abi minum dulu ya, biar segar, nanti di bandara bisa ke toilet dulu.” Anakku mengangguk dan meneguk jus itu dengan semangat.
"Shinpai shinaide, okaasan. Ima, obaachan wa tengoku de ocha wo oishiku nomu kamo" (jangan khawatir bu, mungkin nenek sekarang sedang asyik minum teh di surga) anakku berhenti minum sejenak untuk sekedar menghiburku, aku tersenyum geli mendengarnya.
"Atau mungkin sama kaya kamu sekarang, minum jus jeruk." Kami berdua cekikikan. Kini aku tersadar sepenuhnya. Aku sedang berada di perjalanan pulang menuju Surabaya, untuk sejenak meninggalkan Osaka, tempatku bekerja selama bertahun-tahun. Aku sedang dalam perjalanan setelah mendapat telepon dari kakakku dua bulan yang lalu. “Jangan lupa datang slametan 1000 harinya ibu, Yudha. Sempatkanlah pulang.” Begitu kira-kira isi pesanya.

            Anakku berusia tujuh tahun sekarang, tapi ia sudah sangat pintar dan bisa membantu berbagai pekerjaan sederhana. Tidak seperti ibunya yang hanya bisa melipat kardus untuk tasyakuran di usianya yang ke-20. Aku memandangi anakku dengan penuh rasa syukur, ia menikmati jusnya sampai habis, lalu menutup sendiri botolnya dan memasukkan botol kosong itu ke ransel mungil berwarna biru muda bercorak batik parang di pangkuannya.

“Jus jeruk di Indonesia enak ya, bu, rasa jeruknya sangat terasa, hihihi,” Ujarnya semangat sambil memeluk tasnya, “nanti sampai bandara sebelum ke toilet kita cari tempat sampah dulu ya,bu, Abi mau buang ini,” Anakku menepuk-nepuk tasnya yang tadi dia isi dengan botol kosong bekas jus jeruk, “kasihan kakaknya kalau harus buang, kan ini sampahnya Abi.” Butuh waktu seper-sekian detik untukku menyadari bahwa “kakak” yang ia maksud adalah pramugari. Aku menangguk dan tersenyum, kubelai lembut rambutnya yang hitam keriting itu.

            “Uwaaaaah! Ibu, lihat yang ada di dinding itu! Gambarnya mirip dengan yang ada di tasnya Abi, bener, kan? Itu batik!” Sepanjang perjalanan menuju pengambilan bagasi setelah dari toilet, Abiwara Manggala, anakku, terus memandang langit-langit bandara yang dihiasi motif batik dengan mata berbinar. Sesekali ia bertanya padaku, “ibu, yang itu corak apa?” setelah kuberitahu bahwa batik memiliki ragam corak dan arti yang berbeda. Aku menjawab sesuai dengan kemampuanku mengingat nama corak, arti, dan asal dari setiap batik yang ditanyakan Abi. Koper di bagasi sudah mulai diputar keluar, kami menunggu di samping trolley dan memasang wajah penuh harap. Abi begitu sumringah dan menanti kopernya dengan penuh semangat, “Koper-chan2 ayo sini, sini!” ujarnya sambil mengintip ke arah datangnya para koper. Sedangkan aku mulai gelisah, aku belum berani menyalakan kembali ponselku sejak mendarat tadi. Siapakah yang akan menyusulku dan Abi di bandara? Aku merasa bersalah kepada keluargaku yang mulai kutinggalkan sejak lama tanpa kabar, kepada Nusantara yang kepadanya aku pernah berjanji untuk mengusahakan pembangunan demi kehidupan yang lebih baik, kepada kampung halamanku (yang sebenarnya bukan kampung) yang entah kini bagaimana wajahnya, kepada suamiku… ah sudahlah. Terakhir sebelum berangkat merantau, aku masih menyaksikan terpilihnya walikota perempuan pertama yang kepadanya aku berharap banyak. Sekarang, hanya melihat dari bandaranya saja, rasa banggaku membuncah. Kota tempat asalku kini mempunyai dua terminal bandara. “Nah, ibu, itu koper kita!” Seru Abi sambil menunjuk ke koper berwarna jingga cerah.

“biar ibu yang bawa ya, nak, berat, Abi nggak akan kuat.” Ujarku setengah bercanda.

“tapi Abi boleh bantu dorong keretanya, kan, bu?” tanyanya dengan penuh harap, aku mengangguk.

Torima kasih!” Manisnya anakku, dengan sopan terus berusaha menggunakan bahasa Indonesia. Tidak ada perjanjian di antara kami bahwa dia harus menggunakan bahasa Indonesia selama kunjungan ini, mengejutkan, karena aku nyaris tidak pernah melihatnya membuka buku pelajaran bahasa Indonesia yang kubelikannya lewat seorang teman di Kedutaan Besar.

            Kami berjalan cepat menuju pintu keluar. Kaki-kaki mungil Abi tergesa-gesa, berusaha mengimbangi langkah kakiku yang lebar dan derapku yang cepat, sebuah kebiasaan yang tumbuh semasa kuliah karena mobilisasiku yang saat itu sebagian besar dengan berjalan kaki. Betapa terkejutnya aku melihat seseorang yang begitu familiar, ia sedang sibuk berbincang melalui ponsel dan tertawa. Aku melihat garis-garis kerutan di sudut matanya yang bahkan terliat dari jarak sejauh ini. Sedikit aku melihat jambangnya dan, yaampun, apakah itu uban?

“Paman!” Teriakku bagaikan gadis muda bertemu teman lamanya di sebuah reuni SMA.

Eh?” Abi melihatku dengan penuh tanda tanya. Pria itu tidak mendengarku, bandara memang sedang ramai dan banyak orang yang beralu-lalang.

“Abi, pria yang disana,” aku menunjuk pamanku, ia mengenakan kemeja batik berwarna marun, celana kain berwarna coklat yang begitu pas dikenakannya, dan sepatu kulit bergaya oxford. Selalu necis seperti biasa. Jika ada hal yang masih sama mengenai pamanku, bisa kutebak ia membeli sepatu itu di Magetan, menggunakan bahan kulit terbaik kesukaannya, “itu adalah paman ibu. Kamu manggilnya ‘eyang’ yaa, namanya Bowo. Eyang Bowo. Ke sana, yuk?” Abi mengangguk dan lalu memandang kagum kepada Paman Bowo. Aku bersyukur sekarang Abi sedang mendorong trolley, kalau tidak, dia pasti sudah berlari tanpa melihat kanan/kiri dan asal memeluk Paman Bowo.

            Aku melihat paman sudah selesai menelepon dan melihat ke arah kami, senyumnya seketika merekah. Ternyata benar, kerutan di ujung matanya dalam dan banyak, juga benar bahwa helai berwarna putih di jambangnya itu adalah uban. “Yudha! Gimana tadi perjalanannya? Lancar?” Aku mencium tangan Paman Bowo dengan hormat.

“Iya paman, aman tanpa turbulensi. Untung si Abi juga lagi happy.” Jawabku sekaligus memberikan isyarat bahwa aku juga membawa anakku yang baru pertama kali ke Indonesia.

Weladalah, sopo iki (wah, siapa ini) ?! Inikah cucuku yang lahir di Jepang itu?” seru Paman Bowo seraya menjulurkan tangan agar Abi bisa menyalaminya. Aku mengira Abi akan mengabaikan tangan Paman Bowo dan membungkukkan badan, untungnya ternyata putraku langsung paham setelah melihatku mencium tangannya. Abi dengan patuh menerima uluran tangan pamanku dan menirukan apa yang kulakukan.

“ Halo Eyang Bowo, namaku Abiwara Manggala. Aku sudah mau tujuh tahun!” Karena sudah merupakan kebiasaan, pada akhirnya Abi membungkukkan badan setelah menyebutkan identitasnya. Ternyata, paman pun terlihat sama sekali tidak keberatan dengan sikap Abi tersebut, paman pun ikut membungkukkan badan. Setelah itu mereka berpelukan dan saling bertukar cerita. Tidak lama kemudian mereka sudah seperti teman akrab.

            Di sepanjang perjalanan, Paman Bowo sibuk mengemudi sambil sesekali menjawab pertanyaan Abi yang bertubi-tubi. Sementara aku terus memandang ke luar jendela dan asyik mengamati lingkungan sekitar, telah banyak yang berubah dari kota ini. Sudah delapan tahun aku tidak pulang. Aku merantau ke Jepang untuk menempuh pendidikan magister di usiaku yang ke-25. Walaupun sudah menikah saat itu, suamiku yang seorang arkeolog memiliki jiwa petualang tinggi. Ia hanya sesekali pulang dan mengunjungiku di kampus, menjadi lebih sering saat aku hamil dan itu membuatku senang. Namun, setelah Abi lahir, ia kembali bertualang mencari situs-situs menarik untuk diteliti. Tempat kegemarannya adalah di Perfektur Oita. Dengan kesibukanku sebagai mahasiswa, menjadi seorang ibu untuk pertama kalinya, dan jarak yang memisahkan kami berdua, pada akhirnya kami hanya sesekali bertukar pesan. Abi hanya mengenal ayahnya dari barang-barang antik yang ia bawa. Tentu, walaupun sudah diberi restu, pada kesempatan kali ini ayah Abi tidak bisa ikut bersamaku pulang ke Indonesia untuk mendoakan ibuku.

            Paman Bowo sama sekali tidak mengajakku berbicara. Inilah yang aku sukai dari paman sejak aku kecil. Paman sering kali hanya mendengarkan dan jarang memberikan pertanyaan yang membuat jengah. Paman pintar membaca mimik muka seseorang, ia paham kapan seseorang siap diajak mengobrol dan kapan seseorang perlu diberi waktu beristirahat atau sekedar menenggelamkan diri dalam pikirannya. Pada kasusku, paman benar sekali. Aku datang ke Indonesia demi ibuku, jangan salah, walaupun jarang memberikan kabar, aku mengutuk diriku sendiri yang tidak bisa hadir saat ibuku dimakamkan. Karena saat itu aku sedang mengusahakan kelahiran putraku yang kini tengah sibuk menghafalkan lagu Indonesia Raya di bangku belakang mobil. Rupanya paman mengenalkan lagu nasional itu kepadanya dan kini ia menghafalkannya dengan wajah serius. Sangat lucu. Kambali ke ibuku. Ibu adalah seorang peneliti yang sangat bersemangat dengan pekerjaannya, seorang wanita yang beberapa kali memberikanku pengalaman untuk pertama kalinya menjejakkan kaki di beberapa tempat di luar Jawa Timur. Saat aku duduk di kelas dua sekolah dasar, secara tiba-tiba ibu menjemputku di sekolah sebelum jam pelajaran berakhir. Saat itu, aku yang sedang jenuh karena mulai menghafalkan pembagian, sangat senang karena tiba-tiba saja kami berada di perjalanan menuju bandara. “Yudha temenin ibu ke Bali ya, nduk.” adalah jawabannya atas pertanyaanku. Berkat ibu, untuk pertama kalinya aku melihat keunikan Bali; seluruh penjuru tempat yang dipenuhi turis mancanegara; bagaimana orang-orang, baik asli Bali maupun pendatang, menghormati tradisi dan budaya yang mengakar kuat di sana, dan; Cita rasa baru yang belum pernah kucoba sebelumnya, aku bersyukur bisa menikmati pedasnya ayam betutu yang mantab. Pada lain kesempatan, ibuku mengajakku lagi untuk pergi berdua, waktu itu ke Jawa Barat. Karena saat itu aku sudah memasuki semester enam perkuliahan, selain jalan-jalan, aku diberikan tugas untuk membantu ibuku memahami cara kerja perangkat lunak dalam suatu pelatihan. Acara pelatihan itu diadakan di suatu perguruan tinggi ternama di Bandung. Kami mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma. Beruntung waktu itu pelatihannya diadakan pada minggu awal perkuliahan sehingga aku tidak merasa keberatan untuk mengambil seminggu hari libur, masalah jatah bolos yang berkurang satu itu tidak ada artinya dibandingkan dengan pengalaman yang aku dapatkan. Ibuku paham tentang anak perempuannya yang sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Ibukota Negara, juga karena durasi perjalanan kami yang seminggu penuh, ibuku punya banyak waktu untuk mengenalkanku kepada sang megapolitan itu. Kami memutuskan untuk menyewa mobil dan tidak menaiki kereta api dari Jakarta ke Bandung. Seandainya kata-kata cukup untuk mendeskripsikan betapa berterimakasihnya aku kepada ibuku. Aku ingat saat itu sangat terkagum dan merasa kecil di tengah-tengah gedung pencakar langit. Ibuku bercerita banyak mengenai Jakarta dan peran kota besar itu dalam melancarkan studinya, membesarkan namanya, hingga membantu ibuku menemukan jodohnya, yaitu ayahku. Sebelum sampai Bandung, kami sempat berhenti untuk beberapa saat dan menikmati makanan khas Jakarta, juga berbelanja dengan ceria dan saling mengingatkan agar tidak lapar mata di sebuah mall yang sangat megah. Jakarta memang kota yang sangat kompleks, aku bisa merasakan bahwa kota itu akan berkembang dengan pesat dari sisi ekonomi dan teknologinya. Perjalanan menjadi lebih istimewa karena aku dibimbing oleh seorang wanita cerdas yang dengan bangga kupanggil “ibu”. Dalam diam aku mulai memanjatkan doa agar ibuku tenang di sisi-Nya.

            Ibuk kenapa nangis?” Lagi-lagi lamunanku terbuyarkan oleh Abi, dengan cepat aku menghapus jejak air mata yang tanpa sadar sudah sampai di daguku.

“Ah, ibu nggak nangis kok, Abi. Ibu ngantuk.” Jawabku hati-hati agar tidak merusak suasana hati anakku yang sedang senang.

“Tapi-” mungkin Abi ingin bilang bahwa aku tadi sudah tertidur di pesawat. Tapi ia mengurungkan niat karena aku hanya tertidur di akhir perjalanan karena sejak awal sudah menyiapkan segala hal agar dia bisa terbang dengan nyaman, “tapi bener bukan karena ibu sedih, kan?” Aku menggeleng dan tersenyum, kuusap pelan pipinya dan memintanya untuk bersiap karena kami sudah hampir sampai.

            Kami sampai di rumah masa kecilku. Pohon manga besar di depan rumah rupanya belum ditebang. Cabangnya masih terlihat kokoh, cabang yang semasa aku kecil menjadi tempat favorit untuk menyantap es lilin bersama kakakku di sore hari. Aku menghirup udara dalam-dalam, lalu kuhembuskan perlahan. Aku menggandeng Abi masuk ke dalam. Di rumah sedang sibuk mempersiapkan acara untuk sore ini. Suara radio terdengar memenuhi ruangan, saluran radio kesukaan ibuku. Kali ini memutarkan lagu “Burung Camar” yang sempat memenangkan penghargaan bergengsi Kawakami Award pada tahun 80-an. Abi dengan ceria mulai menggerakkan badan dan menikmati irama lagu itu. Jika di pesawat tadi aku bermimpi tentang ibu yang sibuk mempersiapkan tasyakuran untuk kakakku, sekarang aku melihat kakakku dan istrinya saling membantu menyiapkan sajian untuk para tamu Yasinan ibuku. Kakakku terlihat semakin matang dengan badannya yang kekar, bereda jauh dengan badannya sebelum mulai pelatihan ala militer. Di rumahku semasa gadis itu, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan istri kakakku. Seorang wanita cerdas lulusan Jurusan Seni, Drama, dan Musik. Ia sudah banyak mengirimkan delegasi untuk memperkenalkan kesenian Indonesia ke berbagai belahan dunia. Seorang wanita yang tutur bicaranya lembut namun memiliki pendapat yang tegas mengenai pentingnya berpegang teguh pada kesenian lokal dan pentingnya berkelana ke luar negeri untuk  mendapatkan pandangan yang lebih luas tanpa lupa untuk memperkenalkan keragaman budaya Indonesia ke mana pun ia pergi. Aku sudah menduga bahwa kakakku pintar memilih pasangan hidup. Lalu aku teringat dengan pasangan hidupku sendiri.

            Matahari sudah mulai tak terlihat. Aku bersiap di dalam kamar, bersiap secara lahir dan batin. Aku membiarkan Abi berkomunikasi dengan paman, bibi, dan kakeknya di ruang keluarga. Saat aku mulai mengaplikasikan riasan, Abi berlari masuk ke kamarku. Aku menoleh kaget ke arahnya.

“Ibu! Maaf Abi lupa mengetuk pintu! Maaf juga gara-gara aku alis ibu jadi panjang sebelah! Tapi ibu! Di luar ada ayah!” Abi berbicara dengan sangat cepat di sela-sela nafasnya yang memburu. Matanya terlihat kebingungan, tapi juga memancarkan kebahagiaan. Tentu ia pernah melihat wajah ayahnya. Walaupun hobi berkelana, ayahnya itu selain sering mengirimkan foto-foto hasil temuan yang bernilai seni tinggi untuk semua orang, juga rajin mengirimkan foto dirinya (yang walaupun mungkin tidak ke semua orang, bagiku sangat memikat dan bernilai seni tinggi). Aku buru-buru merapikan riasan untuk kemudian berlari dengan atasan batik formal dan bawahan celana piyama.

            Pria itu sedang mengobrol akrab dengan kakakku. Rambutnya ditutupi topi safari berwarna putih gading. Pakaiannya rapi, tapi aku hampir bisa menebak bahwa sepatunya, parkir tertib di teras rumah, sangat kotor dan tidak berwujud seperti sepatu karena beratnya medan menuju objek penelitiannya. Rupanya ia sedang menjelaskan kronologis yang membuatku sampai di Indonesia hanya dengan seorang anak kecil. Janjinya pada saat menikahiku adalah untuk menjaga dan menemaniku. Aku pun tersenyum geli, Abi dengan malu-malu memegangi bajuku dan bersembunyi di balik badanku. Figur ayahnya yang tinggi besar membuat Abi sedikit takut.

“Mas Bayu,” panggilku pelan. Ia menoleh dengan cepat.

“Yudha-ku!” ia melangkah lebar dan memelukku erat, Abi ragu-ragu, namun kemudian ikut mencolek kaki ayahnya. “Ore no musuko da! (anakku!)”. Kakakku dan istrinya melihat kami dengan perasaan geli dari sudut ruang tamu. Suamiku adalah orang Lamongan yang memantabkan hati menikahiku sebelum kami berangkat bersama ke Negeri Sakura. Kami berusaha mengenalkan putra kami kepada bahasa, budaya, dan kebiasaan orang-orang di kampong halaman kami. Oleh karena itu, terkadang kami berusaha mengajak Abi berbicara dengan Bahasa Indonesia. Walaupun menurutku belum sebanyak itu, aku terkejut Abi ternyata bisa berkomunikasi dengan lancar. Ayahnya harus tahu. “Yudha, aku senang sekali bisa ke rumahmu sebelum acaranya di mulai. Sebelum ini aku meneliti Situs Gunung Padang, tempat itu sangat menarik! Aku mau mengajakmu dan Abi kita ini ke sana. Mau ya?” Ujarnya bersemangat.

“Ayah, tapi ingat harus mendoakan Eyang Putri dulu!” Jawab Abi menggunakan Bahasa Indonesia, respon ayahnya sungguh menumbuhkan perasaan hangat. Mas Bayu berlutut dan memberikan kecupan ringan di kepala Abi.

“Kita berangkat setelah ibumu berziarah ke makam Eyang Putri ya, sayang.” Jawab Mas Bayu lembut.

            Tamu-tamu mulai berdatangan. Aku, Abi, dan Mas Bayu sudah benar-benar siap untuk melaksanakan adat Jawa yang kami persembahkan kepada ibuku. Sayup sayup suara radio masih memutarkan lagu dari stasiun langganan ibu. Kali ini memutarkan lagu “Zamrud Khatulistiwa” oleh penyanyi legendaris Chrisye. Malam itu, sebelum kembali menuntut ilmu di negeri orang, kami memutuskan untuk tinggal lebih lama untuk mengajak Abi berkelana mengenali tempat-tempat penuh cerita yang ada di Nusantaraku, Indonesia.


Surabaya, 10 April 2018
Bearhug untuk panitia~

















1 nduk = Singkatan dari Genduk atau panggilan bagi orang tua untuk anak perempuannya.

2-chan = akhiran panggilan dalam bahasa Jepang. Biasanya ditujukan untuk orang yag lebih muda, gadis kecil, atau orang yang disayangi. Abi menggunakan ekspresi ini karena ia menyukai kopernya, sebagai anak kecil.



Catatan Pengarang : Cerpen ini adalah cerpen yang saya buat saat mengikuti lomba menulis cerpen di Pekan Kesenian Mahasiswa ITS (PEKSIMITS) 2018 pada tanggal 4 Maret lalu. Saya melakukan beberapa penyuntingan, namun inti cerita tetap sama. Selamat membaca ^^